Thesis••Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Di Indonesia, masalah gizi pada anak masih menjadi prioritas. Satu dari masalah gizi tersebut adalah Stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak usia balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis yang mengakibatkan anak terlalu pendek. Stunting dapat mengakibatkan terganggunya perkembangan otak, penurunan kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, metabolisme dalam tubuh, penurunan kemampuan kognitif, penurunan prestasi belajar, penurunan kekebalan tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui presentase kejadian Stunting dan membuktikan adanya hubungan pemberian MPASI dan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting pada anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi Tahun 2023. Metode penelitian. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Pengumpulan data dilakukan dari data primer melalui kuesioner yang dibagikan langsung kepada 40 responden ibu yang memiliki anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Jatisampurna. Hasil. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 57,5% anak mengalami Stunting. Adanya hubungan yang bermakna antara pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian Stunting dengan (p=0,006) dan Adanya hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting dengan (p=0,005). Kesimpulan. Adanya hubungan pemberian makanan pendamping ASI dan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting pada anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi Tahun 2023.
Open AccessStunting, MPASI, Pengetahuan
Thesis••Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Stunting adalah masalah kesehatan anak yang banyak dijumpai di masyarakat, stunting merupakan gangguan pertumbuhan dikarenakan adanya kekurangan gizi kronis atau penyakit infeksi kronis maupun berulang yang ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan menurut usia. Stunting dapat menyebabkan gangguan perkembangan motorik halus, motorik kasar, bahasa dan personal sosial.
Metode yang di pakai oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini dengan menggunakan cross sectional yaitu jenis penelitian yang menekankan waktu pengkuran atau obeservasi. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 128 anak usia toddler dengan 34 sampel. teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling, instrumen yang digunakan adalah lembar DDST dan Aplikasi kalkulator stunting.
Hasil analisa data menggunakan analisis univariat dan bivariat berupa uji chi square. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa antara perkembangan motorik kasar dengan kejadian stunting menunjukan nilai pvalue 0,004, hasil perkembangan motorik halus dengan kejadian stunting menunjukan nilai pvalue 0,028, hasil perkembangan bahasa dengan kejadian stunting menunjukan nilai pvalue 0,013, dan perkembangan personal sosial dengan kejadian stunting menunjukan nilai pvalue 0,013.
Kesimpulan yang didapatkan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang signifikan terhadap gangguan perkembangan pada anak usia toddler dengan kejadian stunting. Disarankan keluarga sebaiknya meningkatkan dan melatih kemampuan motorik anak, bahasa, dan personal sosial dengan cara dilatih untuk bisa melakukan hal-hal secara mandiri.
Open AccessToddler, Gangguang Perkembangan, Stunting
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Indonesia masih menghadapi permasalahan stunting pada balita
yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan dan perkembangan
anak, dengan prevalensi nasional sebesar 19,8%. Kabupaten Bekasi merupakan
salah satu wilayah prioritas penurunan stunting, dan di wilayah kerja Puskesmas
Tambelang prevalensi stunting tercatat sebesar 0,66%, sementara ibu primipara
masih memiliki keterbatasan pengalaman dan pengetahuan dalam perawatan bayi.
Edukasi kesehatan menggunakan media audio-visual dipilih karena mampu
menyampaikan informasi secara menarik dan mudah dipahami oleh ibu primipara.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi kesehatan berbasis
media audio-visual terhadap pengetahuan pencegahan stunting pada ibu primipara
di Puskesmas Tambelang. Penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi
eksperimen dengan rancangan one group pretest–posttest. Sampel penelitian
berjumlah 35 ibu primipara yang dipilih secara purposive sampling. Data
dikumpulkan melalui kuesioner sebelum dan sesudah intervensi dan dianalisis
menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil: penelitian menunjukkan seluruh
responden memiliki Tingkat pengetahuan kurang pada pretest (100%). Setelah
intervensi, terjadi peningkatan pengetahuan dengan 65,7% responden berkategori
baik dan 34,3% cukup, serta nilai p = 0,000. Kesimpulan: Edukasi kesehatan
berbasis media audio-visual terbukti efektif meningkatkan pengetahuan ibu
primipara dan relevan sebagai strategi pencegahan stunting. Saran: Penelitian ini
merekomendasikan peningkatan edukasi pencegahan stunting bagi ibu primipara
sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan melalui penerapan media audio-visual secara
berkelanjutan di Puskesmas, Posyandu, dan tingkat desa. Selain itu, penelitian
selanjutnya disarankan menggunakan desain dengan kelompok kontrol, jumlah
sampel lebih besar, serta mengkaji perubahan sikap dan perilaku dengan kombinasi
metode edukasi.
Open AccessStunting, Ibu Primipara, Edukasi Kesehatan, Media Audio-Visual
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi yang berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu faktor yang berperan adalah anemia pada remaja putri sebagai calon ibu di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi non farmakologis untuk mencegah anemia sejak remaja. Intervensi yang dapat dilakukan adalah edukasi kesehatan mengenai stunting, anemia, gizi seimbang, dan kesehatan reproduksi sebagai upaya mempersiapkan remaja putri memasuki masa kehamilan dan peran sebagai ibu, sehingga risiko stunting dapat dicegah. Selain edukasi, intervensi nonfarmakologis lainnya adalah pemberian makanan tambahan berupa HEMOPING yang kaya zat besi, dari buah naga dan daun kelor. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media audiovisual dan buku saku terhadap peningkatan pengetahuan, serta pengaruh pemberian HEMOPING terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri di SMAN 1 Babelan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pre-test post-test dan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 34 responden yang mendapatkan intervensi edukasi kesehatan dan 24 responden yang mendapatkan intervensi HEMOPING, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan remaja putri setelah diberikan edukasi kesehatan dengan hasil signifikan (0,003 < 0,05). Intervensi HEMOPING juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin (0,000 < 0,05). Kesimpulan: Edukasi kesehatan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, dan pemberian HEMOPING berpengaruh terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri anemia. Program PENERANG yang mengkombinasikan edukasi kesehatan dan pangan lokal berkontribusi dalam upaya mewujudkan Zero New Stunting pada generasi mendatang.
Open AccessStunting, Anemia, Gizi Seimbang, Kesehatan Reproduksi, Remaja Putri
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Stunting merupakan salah satu indikator masalah gizi kronis yang berdampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Kurangnya pengetahuan WUS tentang gizi dan pola asuh menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka stunting. Tujuan: Mengetahui pengaruh media audio visual terhadap peningkatan pengetahuan WUS tentang pencegahan stunting di Posyandu Bougenville, Desa Cicau, Tahun 2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 70 WUS, dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pretest dan posttest. Penyuluhan dilakukan menggunakan media audio visual, dan data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Terdapat peningkatan skor rata-rata pengetahuan WUS dari 45,21 sebelum intervensi menjadi 80,29 sesudah intervensi. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti media audio visual berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan WUS. Kesimpulan: Media audio visual terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan WUS tentang pencegahan stunting karena mampu menyampaikan informasi secara menarik dan mudah dipahami melalui kombinasi gambar, suara, dan gerak. Saran: Tenaga kesehatan dan kader posyandu disarankan untuk menggunakan media audio visual dalam kegiatan penyuluhan, khususnya terkait gizi dan kesehatan anak, untuk mendukung upaya penurunan angka stunting di masyarakat.
Open AccessStunting, Pengetahuan, WUS, Media Audio Visual
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Stunting merupakan masalah yang berdampak pada pertumbuhan, perkembangan kognitif, dan kesehatan anak (WHO, 2020). Stunting bisa disebabkan oleh, pendidikan ibu, sosial ekonomi, serta pola pemberian makan (UNICEF, 2020). Berdasarkan prevalensi stunting di Indonesia mencapai 24,4%, dengan angka di Kabupaten Bekasi sebesar 21,5% pada tahun 2021 dan menurun menjadi 13,8% pada tahun 2023 (Kemenkes RI, 2023).Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik ibu dan budaya pola pemberian makan balita dengan kejadian stunting di RS Sentra Medika Cikarang Kabupaten Bekasi.Penelitian ini menggunakan desain crosssectional
dengan sampel sebanyak 40 ibu yang memiliki balita stunting di RS Sentra Medika Cikarang. Data
dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan diolah menggunakan uji chi-square untuk menganalisis hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik ibu, seperti tingkat pendidikan dan sosial ekonomi, dengan kejadian stunting (p = 0,013. Selain itu, budaya pola pemberian makan juga berhubungan dengan kejadian stunting (p = 0,024). Temuan ini sejalan dengan penelitian Auliani et al. (2021) yang menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan rendah lebih berisiko memiliki anak
stunting (p = 0,001). Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara karakteristik ibu dengan kejadian stunting dengan nilai P value 0,002 (p<0,05) dan ada hubungan antara budaya pola pemberian makan dengan kejadian stunting dengan nilai p value 0,028 (p<0,05). Karakteristik ibu dan budaya pola pemberian makan berperan dalam kejadian stunting. Oleh karena itu, edukasi mengenai pola pemberian makan perlu ditingkatkan untuk mencegah stunting.
Open AccessBalita, Budaya Pola Makan, Karakteristik Ibu, Sosial Ekonomi, Stunting
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Kejadian stunting merupakan permaslash perkembangan yang di sebabkan oleh kekurangan gizi kronis atau malnutrisi, di tandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dari anak seusianya, kondisi ini menjadi permaslah serius karena berkaitan dengan peningkatan resiko penyakit dan tingginya angka kemantian. Dampak jangka Panjang dapat berpengaruh negatif terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara stunting dengan perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa dan bicara, sosialisasi dan kemandirian pada anak usia batita di wilayah kerja Puskesmas Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional serta pendekatan cross-sectional. Adapun populasi dalam penelitian ini mencakup anak batita dengan total sebanyak 1.945 anak batita. Berdasakan penerapan rumus slovin jumlah sampel yang di tentukan dalam penelitian ini adalah 96 anak batita, yang diambil melalui metode non-probabilitasdengan Teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner KPSP. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Dari hasil analisis uji statistik chi-square variabel perkembangan motorik kasar dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,028, PR 1483, CI 1,042-2.109, CC 0.240. Variabel perkembangan morotik halus dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,020, PR 1.580. CI 1.070-2.335, CC 0,251. Variabel perkembangan bahasa dan bicara dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,022, PR 1.435. CI 1.048-1.996, CC 0,248. Variabel perkembangan sosialisasi dan kemandirian dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,044, PR 1.448. CI 1.015-2.066, CC 0,222. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara variabel stunting dengan perkembangan motorik halus, motorik kasar, Bahasa dan bicara, sosialisasi dan kemandirian.
Open AccessStunting, Perkembangan Motorik Kasar. Motorik Halus, Bahasa dan Bicara, Sosialisasi dan Kemandirian
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak terhambat sehingga menyebabkan tinggi badan lebih rendah disandingkan dengan umurnya. WHO (2022) menyatakan 148,1 juta (22,3%) balita mengalami stunting. Prevalensi stunting tahun 2022 pada balita di Indonesia 21,6%, di Jawa Barat 20,2%, dan tahun 2024 di Posyandu Wilayah Puskemas Cikarang 3,6%. Pengetahuan seorang ibu mengenai stunting memiliki pengaruh dalam membentuk perilaku yang mendukung pencegahan stunting dan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dengan perilaku pencegahannya di anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 99 ibu dengan anak usia 0-5 tahun, yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner guna mengukur tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan. Analisis data dilaksanakan menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian mengindikasikan adanya hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dan upaya pencegahannya, bernilai p = 0,018 (p≤0,05) dan Odds Ratio 2,935. Temuan ini menemukan bahwa tingkat pengetahuan ibu berpengaruh terhadap perilaku pencegahan stunting anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang.
Open AccessAnak, Pengetahuan, Perilaku Pencegahan, Stunting
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Stunting merupakan suatu kondisi yang menunjukkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan yang disampaikan melalui media audio visual terhadap pengetahuan orang tua mengenai faktor resiko stunting pada batita di Kecamatan Kedung Waringin. Metode yang diterapkan adalah kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 63 orang tua yang memiliki anak berusia 1 hingga 3 tahun, diambil menggunakan teknik sampel jenuh. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan dengan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 46,0% menjadi 71,4% setelah edukasi. Uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan nilai p < 0,001, yang menandakan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan orang tua setelah mengikuti edukasi kesehatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa edukasi kesehatan melalui media audio visual terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan orang tua tentang faktor resiko stunting.
Open AccessEdukasi Kesehatan, Media Audio Visual, Pengetahuan Orang Tua, Stunting
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN (UMS) PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN PENDIDIKAN PROFESI NERS Skripsi, Januari 2025 Nama : Ahsan Fillah El Faiz & Nadia Luthfi Rahman Nim : 121070001 & 122070160 HUBUNGAN STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR, MOTORIK HALUS, BAHASA DAN BICARA, SOSIALISASI DAN KEMANDIRIAN ANAK USIA BATITA DI PUSKESMAS CIKARANG UTARA ABSTRAK Latar Belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan anak di karenakan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang di tandai dengan tinggi badan di bawah standar pada umur nya dan Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang utama di masyarakat Indonesia. Stunting menjadi masalah yang serius di karenakan berhubungan dengan perkembangan dengan resiko sakit dan kematian yang lebih besar yang akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di kemudian hari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Stunting dengan Perkembangan Motorik Kasar, Motorik Halus, Bahasa dan Bicara, Sosialisasi dan Kemandirian Di Puskesmas Cikarang Utara Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain Korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitan ini yaitu anak batita yang berjumlah 1.945 batita, setelah di masukan ke rumus slovin jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 96 batita dengan menggunakan metode Non probality dengan jenis purposive sampling. Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner KPSP. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil Penelitian: Dari hasil analisis uji statistik chi-square variabel perkembangan motorik kasar dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,028, PR 1483, CI 1,042-2.109, CC 0.240. Variabel perkembangan morotik halus dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,020, PR 1.580. CI 1.070-2.335, CC 0,251. Variabel perkembangan bahasa dan bicara dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,022, PR 1.435. CI 1.048-1.996, CC 0,248. Variabel perkembangan sosialisasi dan kemandirian dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,044, PR 1.448. CI 1.015-2.066, CC 0,222 Kesimpulan: Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel stunting dengan perkembangan motorik halus, motorik kasar, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian. MEDIKA SUHERMAN UNIVERSITY (UMS) BACHELOR OF NURSING EDUCATION STUDY PROGRAM NERS PROFESSION Thesis, January 2025 Name: Ahsan Fillah El Faiz & Nadia Luthfi Rahman Nim: 121070001 & 122070160 HSTUNTING CLUSTER WITH THE DEVELOPMENT OF GROSS MOTOR SKILLS, FINE MOTOR, LANGUAGE AND SPEECH, SOCIALIZATION AND INDEPENDENCE OF TODDLERS AT THE NORTH CIKARANG HEALTH CENTER ABSTRACT Background: Stunting is a child's growth disorder due to chronic malnutrition and recurrent infections that are characterized by substandard height at their age and stunting is one of the main health problems in Indonesian society. Stunting is a serious problem because it is related to development with a greater risk of illness and death which will affect the quality of human resources in the future. Objective: This study aims to determine the relationship between stunting and gross motor development, fine motor, language and speech, socialization and independence in the North Cikarang Health Center, Bekasi Regency. Research Methods: A type of quantitative research with a Correlational design and a cross-sectional approach. The population in this research is 1,945 toddlers, after being entered into the slovin formula, the number of samples in this study is 96 toddlers using the Non-probality method with a type of purposive sampling. Data collection uses KPSP questionnaire sheets. Data analysis uses the Chi-square statistical test. Research Results: From the results of the analysis of the chi-square statistical test of gross motor development and stunting variables read from Continuity Correction, a value (p-value) of 0.028, PR 1483, CI 1.042-2.109, CC 0.240 was obtained. The variables of subtle morothic development and stunting read from Continuity Correction were found to have a value (p-value) of 0.020, PR 1,580. CI 1,070-2,335, CC 0.251. The variables of language and speech development and stunting read from Continuity Correction were found to have a value (p-value) of 0.022, PR 1,435. CI 1,048-1,996, CC 0.248. The variables of socialization and independence and stunting development read from Continuity Correction were found to have a value (p-value) of 0.044, PR 1,448. CI 1.015-2.066, CC 0.222. Conclusion: Based on the above results, it can be concluded that there is a significant relationship between stunting variables and fine motor development, gross motor, speech and language, socialization and independence.
Open AccessKata Kunci: Stunting, Perkembangan Motorik Kasar, Perkembangan Motorik Halus, Perkembangan Bahasa dan Bicara, Perkembangan Sosialisasi dan Kemandirian.
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN (UMS) PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN PENDIDIKAN PROFESI NERS Skripsi, Januari 2025 Nama : Ahsan Fillah El Faiz & Nadia Luthfi Rahman Nim : 121070001 & 122070160 HUBUNGAN STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR, MOTORIK HALUS, BAHASA DAN BICARA, SOSIALISASI DAN KEMANDIRIAN ANAK USIA BATITA DI PUSKESMAS CIKARANG UTARA ABSTRAK Latar Belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan anak di karenakan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang di tandai dengan tinggi badan di bawah standar pada umur nya dan Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang utama di masyarakat Indonesia, stunting menjadi masalah yang serius di karenakan berhubungan dengan perkembangan dengan resiko sakit dan kematian yang lebih besar yang akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di kemudian hari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Hubungan Stunting dengan Perkembangan Motorik Kasar, Motorik Halus, Bahasa dan Bicara, Sosialisasi dan Kemandirian Di Puskesmas Cikarang Utara Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain Korelasional dengan pendekatan cross-sectional atau yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar variabel yang di teliti. Populasi pada penelitan ini yaitu anak batita yang berjumlah 1.945 batita, setelah di masukan ke rumus slovin jumlah smapel pada penelitian ini sebanyak 96 batita dengan menggunakan metode Non probality dengan jenis purposive sampling. Hasil Penelitian: Hasil uji Chi-square pada variable stunting yang berhubungan dengan perkembangan motorik kasar dengan nilai p-value sebesar 0,034 dengan nilai odds rationya sebesar 0,405. Berdasarkan uji statistik chi-square di dapati nilai (p-value) sebesar 0,011 dengan nilai odds rationya sebesar 0,336. Hasil uji stutistik chi-square di dapati nilai (p-value) sebesar 0,012 dengan nilai odds rationya sebesar 0,322. Hasil uji stutistik statistik chi-square di dapati nilai (p-value) sebesar 0,026 dengan nilai odds rationya sebesar 0,381. Kesimpulan: Berdasarkan hasil yang di atas didapati hubungan yang signifikan antara variabel stunting dengan perkembangan motorik halus, motorik kasar, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian.
Open AccessKata Kunci: Stunting, Perkembangan Motorik Kasar, Perkembangan Motorik Halus, Perkembangan Bahasa dan Bicara, Perkembangan Sosialisasi dan Kemandirian.
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN (UMS) PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN PENDIDIKAN PROFESI NERS Skripsi, Januari 2025 Nama : Ahsan Fillah El Faiz & Nadia Luthfi Rahman Nim : 121070001 & 122070160 HUBUNGAN STUNTING DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR, MOTORIK HALUS, BAHASA DAN BICARA, SOSIALISASI DAN KEMANDIRIAN ANAK USIA BATITA DI PUSKESMAS CIKARANG UTARA ABSTRAK Latar Belakang: Stunting merupakan gangguan pertumbuhan anak di karenakan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang di tandai dengan tinggi badan di bawah standar pada umur nya dan Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang utama di masyarakat Indonesia. Stunting menjadi masalah yang serius di karenakan berhubungan dengan perkembangan dengan resiko sakit dan kematian yang lebih besar yang akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di kemudian hari. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Stunting dengan Perkembangan Motorik Kasar, Motorik Halus, Bahasa dan Bicara, Sosialisasi dan Kemandirian Di Puskesmas Cikarang Utara Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain Korelasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitan ini yaitu anak batita yang berjumlah 1.945 batita, setelah di masukan ke rumus slovin jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 96 batita dengan menggunakan metode Non probality dengan jenis purposive sampling. Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner KPSP. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil Penelitian: Dari hasil analisis uji statistik chi-square variabel perkembangan motorik kasar dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,028, PR 1483, CI 1,042-2.109, CC 0.240. Variabel perkembangan morotik halus dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,020, PR 1.580. CI 1.070-2.335, CC 0,251. Variabel perkembangan bahasa dan bicara dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,022, PR 1.435. CI 1.048-1.996, CC 0,248. Variabel perkembangan sosialisasi dan kemandirian dan stunting yang di baca dari Continuity Correction di dapati nilai (p-value) sebesar 0,044, PR 1.448. CI 1.015-2.066, CC 0,222 Kesimpulan: Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel stunting dengan perkembangan motorik halus, motorik kasar, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian. Kata Kunci: Stunting, Perkembangan Motorik Kasar, Perkembangan Motorik Halus, Perkembangan Bahasa dan Bicara, Perkembangan Sosialisasi dan Kemandirian. MEDIKA SUHERMAN UNIVERSITY (UMS) BACHELOR OF NURSING EDUCATION STUDY PROGRAM NERS PROFESSION Thesis, January 2025 Name: Ahsan Fillah El Faiz & Nadia Luthfi Rahman Nim: 121070001 & 122070160 HSTUNTING CLUSTER WITH THE DEVELOPMENT OF GROSS MOTOR SKILLS, FINE MOTOR, LANGUAGE AND SPEECH, SOCIALIZATION AND INDEPENDENCE OF TODDLERS AT THE NORTH CIKARANG HEALTH CENTER ABSTRACT Background: Stunting is a child's growth disorder due to chronic malnutrition and recurrent infections that are characterized by substandard height at their age and stunting is one of the main health problems in Indonesian society. Stunting is a serious problem because it is related to development with a greater risk of illness and death which will affect the quality of human resources in the future. Objective: This study aims to determine the relationship between stunting and gross motor development, fine motor, language and speech, socialization and independence in the North Cikarang Health Center, Bekasi Regency. Research Methods: A type of quantitative research with a Correlational design and a cross-sectional approach. The population in this research is 1,945 toddlers, after being entered into the slovin formula, the number of samples in this study is 96 toddlers using the Non-probality method with a type of purposive sampling. Data collection uses KPSP questionnaire sheets. Data analysis uses the Chi-square statistical test. Research Results: From the results of the analysis of the chi-square statistical test of gross motor development and stunting variables read from Continuity Correction, a value (p-value) of 0.028, PR 1483, CI 1.042-2.109, CC 0.240 was obtained. The variables of subtle morothic development and stunting read from Continuity Correction were found to have a value (p-value) of 0.020, PR 1,580. CI 1,070-2,335, CC 0.251. The variables of language and speech development and stunting read from Continuity Correction were found to have a value (p-value) of 0.022, PR 1,435. CI 1,048-1,996, CC 0.248. The variables of socialization and independence and stunting development read from Continuity Correction were found to have a value (p-value) of 0.044, PR 1,448. CI 1.015- 2.066, CC 0.222. Conclusion: Based on the above results, it can be concluded that there is a significant relationship between stunting variables and fine motor development, gross motor, speech and language, socialization and independence. Keywords: Stunting, Gross Motor Development, Fine Motor Development, Language and Speech Development, Socialization and Independence Development.
Open AccessKata Kunci: Stunting, Perkembangan Motorik Kasar, Perkembangan Motorik
Halus, Perkembangan Bahasa dan Bicara, Perkembangan Sosialisasi dan
Kemandirian.
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak terhambat sehingga menyebabkan tinggi badan lebih rendah disandingkan dengan umurnya. WHO (2022) menyatakan 148,1 juta (22,3%) balita mengalami stunting. Prevalensi stunting tahun 2022 pada balita di Indonesia 21,6%, di Jawa Barat 20,2%, dan tahun 2024 di Posyandu Wilayah Puskemas Cikarang 3,6%. Pengetahuan seorang ibu mengenai stunting memiliki pengaruh dalam membentuk perilaku yang mendukung pencegahan stunting dan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dengan perilaku pencegahannya di anak usia 0-5 tahun di Posyandu Wilayah Puskesmas Cikarang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 99 ibu dengan anak usia 0-5 tahun, yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner guna mengukur tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan. Analisis data dilaksanakan menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian mengindikasikan adanya hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dan upaya pencegahannya, bernilai p = 0,018 (p≤0,05) dan Odds Ratio 2,935. Temuan ini menemukan bahwa tingkat pengetahuan ibu berpengaruh terhadap perilaku pencegahan stunting anak usia 0-5 tahun di Posyandu Wilayah Puskesmas Cikarang. Kata kunci : Anak, Pengetahuan, Perilaku Pencegahan, Stunting
Open AccessAnak, Pengetahuan, Perilaku Pencegahan, Stunting
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak terhambat sehingga menyebabkan tinggi badan lebih rendah disandingkan dengan umurnya. WHO (2022) menyatakan 148,1 juta (22,3%) balita mengalami stunting. Prevalensi stunting tahun 2022 pada balita di Indonesia 21,6%, di Jawa Barat 20,2%, dan tahun 2024 di Posyandu Wilayah Puskemas Cikarang 3,6%. Pengetahuan seorang ibu mengenai stunting memiliki pengaruh dalam membentuk perilaku yang mendukung pencegahan stunting dan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dengan perilaku pencegahannya di anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 99 ibu dengan anak usia 0-5 tahun, yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner guna mengukur tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan. Analisis data dilaksanakan menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian mengindikasikan adanya hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dan upaya pencegahannya, bernilai p = 0,018 (p≤0,05) dan Odds Ratio 2,935. Temuan ini menemukan bahwa tingkat pengetahuan ibu berpengaruh terhadap perilaku pencegahan stunting anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang.
Open AccessAnak, Pengetahuan, Perilaku Pencegahan, Stunting
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar belakang : Stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang umum terjadi pada balita akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan, terutama dalam seribu hari pertama kehidupan. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 200 juta balita di seluruh dunia mengalami stunting, Indonesia menempati urutan kelima tertinggi dalam prevalensinya. Jawa Barat, prevalensi stunting mencapai 24,5%, menunjukkan bahwa isu ini masih menjadi tantangan serius dalam kesehatan anak. Pendidikan kesehatan yang efektif, penting untuk meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai faktor risiko stunting. Salah satu metode yang terbukti efektif adalah penggunaan media audio visual, yang mampu menarik perhatian dan mempermudah pemahaman. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh edukasi kesehatan yang disampaikan melalui media audio visual terhadap pengetahuan orang tua mengenai faktor risiko stunting pada batita di Kecamatan Kedung Waringin. Metode: Metode yang diterapkan adalah kuantitatif dengan desain preeksperimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 63 orang tua yang memiliki anak berusia 1 hingga 3 tahun, diambil menggunakan teknik total sampling. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan dengan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 46,0% menjadi 71,4% setelah edukasi. Uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan nilai p 0,001, yang menandakan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan orang tua setelah mengikuti edukasi kesehatan. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa edukasi kesehatan melalui media audio visual terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan orang tua tentang faktor risiko stunting. Disarankan agar intervensi ini diintegrasikan ke dalam program pendidikan kesehatan masyarakat. Saran: diharapkan orang tua dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam mencegah stunting, sehingga dapat meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan anak-anak mereka. Kata kunci: Edukasi Kesehatan, Media Audio Visual, Pengetahuan Orang Tua, Stunting.
Open AccessKata kunci: Edukasi Kesehatan, Media Audio Visual, Pengetahuan Orang Tua, Stunting.
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar belakang : Stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang umum terjadi pada balita akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan, terutama dalam seribu hari pertama kehidupan. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 200 juta balita di seluruh dunia mengalami stunting, Indonesia menempati urutan kelima tertinggi dalam prevalensinya. Jawa Barat, prevalensi stunting mencapai 24,5%, menunjukkan bahwa isu ini masih menjadi tantangan serius dalam kesehatan anak. Pendidikan kesehatan yang efektif, penting untuk meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai faktor risiko stunting. Salah satu metode yang terbukti efektif adalah penggunaan media audio visual, yang mampu menarik perhatian dan mempermudah pemahaman. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh edukasi kesehatan yang disampaikan melalui media audio visual terhadap pengetahuan orang tua mengenai faktor risiko stunting pada batita di Kecamatan Kedung Waringin. Metode: Metode yang diterapkan adalah kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 63 orang tua yang memiliki anak berusia 1 hingga 3 tahun, diambil menggunakan teknik total sampling. Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan dengan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 46,0% menjadi 71,4% setelah edukasi. Uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan nilai p 0,001, yang menandakan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan orang tua setelah mengikuti edukasi kesehatan. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa edukasi kesehatan melalui media audio visual terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan orang tua tentang faktor risiko stunting. Disarankan agar intervensi ini diintegrasikan ke dalam program pendidikan kesehatan masyarakat. Saran: diharapkan orang tua dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dalam mencegah stunting, sehingga dapat meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan anak-anak mereka.
Open AccessKata kunci: Edukasi Kesehatan, Media Audio Visual, Pengetahuan Orang Tua, Stunting.
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Usia balita merupakan usia yang sangat rawan terjadinya berbagai permasalahan gizi yang akut serta terkena penyakit. Stunting merupakan suatu kondisi yang menggambarkan status gizi kurang pada balita yang bersifat kronik dimasa awal kehidupannya terhadap masa pertumbuhan dan pada masa perkembangannya. Pada tahun 2021 di Kabupaten Bekasi masih memiliki balita yang berstatus gizi kurang sebesar 3,4%. Menurut WHO (2011), dianggap serius jika suatu daerah memiliki persentase masalah kesehatan pada masyarakat >5,0%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suatu hubungan Pendidikan, pendapatan keluarga, tinggi badan ibu, status gizi pada balita, pemberian ASI Eksklusif, Riwayat BBLR, serta pengetahuan dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Wanajaya Tahun 2023. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kunatitatif dan bersifat observational, dengan rancangan penelitian Case Control Design. Populasi dalam penelitian ini yaitu data stunting pada balita di desa Wanajaya Tahun 2022-2023 dan balita usia 24-59 bulan di desa Wanajaya Tahun 2023. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 74 balita usia 24-59 bulan yang terdiri dari 37 balita stunting dan 37 balita normal. Teknik pemilihan sampel memakai Simple Random Sampling. Dengan Analisa data menggunakan uji Chi-Square dilanjutkan dengan Odd Ratio (OR).
Hasil Penelitian: menunjukan bahwa ada hubungan pendidikan dengan kejadian stunting dengan nilai P=0,009, OR 13,333, ada hubungan pendapatan keluarga dengan kejadian stunting P=0,000, OR 79,12, ada hubungan status gizi ibu dengan kejadian stunting P=0,006, OR 4,895, ada hubungan ASI eksklusif dengan kejadian stunting P=0,039, OR 3,523, ada hubungan pengetahuan dengan kejadian stunting P=0,001 OR 7,529. Tidak ada hubungan Tinggi badan ibu dengan kejadian stunting P=0,132 dan tidak ada hubungan Riwayat BBLR dengan kejadian stunting P=0,308. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara pendidikan, pendapatan keluarga, status gizi, ASI eksklusif dan pengetahuan ibu dengan kejadian stunting pada balita di desa Wanajaya sedangkan tinggi badan ibu tidak terdapat hubungan dengan kejadian stunting pada baliuta di desa Wanajaya Tahun 2023. Saran: tenaga kesehatan memberikan informasi dan edukasi secara rutin dan sosialisasi pada kader, ibu hamil, ibu yang memiliki balita dan Wanita usia subur tentang pemenuhan nutrisi yang bergizi dan seimbang. Serta pemantauan monitoring serta evaluasi terhadap pemberian PMT di posyandu untuk balita.
Open AccessBalita, Stunting
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Stunting menurut WHO pada tahun 2025 jumlah balita stunting harus turun 40% di seluruh dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formula cookies tepung ubi jalar ungu dan ikan teri yang diterima secara organoleptik sebagai makanan tambahan ibu hamil. Jenis penelitian ini bersifat eksperimen. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 1 faktor dengan 3 taraf perlakuan, yaitu 95%, 92,5% dan 90%. Jumlah sampel sebanyak 32 responden. Tempat penelitian yaitu di Laboratorium Gizi Universitas Medika Suherman. Uji organoleptik diolah menggunakan Microsoft Excel 2013 kemudian dianalisis secara statistik menggunakan SPSS Versi 16. Hasil data hedonik atau rating test dianalisis menggunakan uji lanjutan dengan Duncan. Sedangkan untuk analisis zat gizi diolah menggunakan TKPI 2020. Hasil penelitian ini adalah formula cookies yang disukai oleh responden adalah formula F1. Formula cookies yang terpilih yakni cookies F1. Nilai rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap warna : 2,88-4,06 (kurang suka sampai suka), aroma : 2,97-3,72 (kurang suka sampai cukup suka), rasa : 2,81-4,09 (kurang suka-suka), tekstur : 3,38-4,06 (cukup suka-suka), dan aftertaste : 2,75-3,69 (kurang suka-cukup suka). Cookies dalam sekali penyajian adalah sebanyak 4 keping (40 g) sebagai cemilan pada sekali waktu selingan dalam sehari. Besar energi cookies per takaran saji yaitu sebanyak 356 kkal. Formula terpilih telah memenuhi 10-15% AKG yakni energi sebesar 14%. Cookies dari tepung ubi jalar ungu dan tepung ikan teri ini diharapkan bisa digunakan sebagai alternatif makanan tambahan ibu hamil.
Open AccessCookies, Makanan Tambahan, Stunting
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Di Indonesia, masalah gizi pada anak masih menjadi prioritas. Satu dari masalah gizi
tersebut adalah Stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak usia balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis yang mengakibatkan anak terlalu pendek. Stunting dapat mengakibatkan terganggunya perkembangan otak, penurunan kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, metabolisme dalam tubuh, penurunan kemampuan kognitif, penurunan prestasi belajar, penurunan kekebalan tubuh. Tujuan: Mengetahui presentase kejadian Stunting dan membuktikan adanya hubungan pemberian MPASI dan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting pada anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi Tahun 2023. Metode : Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Pengumpulan data dilakukan dari data primer melalui kuesioner yang dibagikan langsung kepada 40 responden ibu yang memiliki anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Jatisampurna. Hasil : Dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 57,5% anak mengalami Stunting. Adanya hubungan yang bermakna antara pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian Stunting dengan (p=0,006) dan Adanya hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting dengan (p=0,005). Kesimpulan. Adanya hubungan pemberian makanan pendamping ASI dan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting pada anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi Tahun 2023.
Open AccessStunting, MPASI, Pengetahuan
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Stunting adalah masalah kesehatan anak yang banyak dijumpai di masyarakat, stunting merupakan gangguan pertumbuhan dikarenakan adanya kekurangan gizi kronis atau penyakit infeksi kronis maupun berulang yang ditunjukkan dengan nilai z-score tinggi badan menurut usia. Stunting dapat menyebabkan gangguan perkembangan motorik halus, motorik kasar, bahasa dan personal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa hubungan perkembangan dengan kejadian Stunting pada anak usia Toddler di RS Sentra Medika Cikarang. Metode yang di pakai oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini dengan menggunakan cross sectional yaitu jenis penelitian yang menekankan waktu pengkuran atau obeservasi. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 128 anak usia toddler dengan 34 sampel.Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini, menggunakan total sampling, instrumen yang digunakan adalah lembar DDST dan Aplikasi Balitagrown Hasil analisa data menggunakan analisis univariat dan bivariat berupa uji chi square. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa hubungan antara gangguan perkembangan dengan kejadian stunting pada anak usia Toddler didapat nilai p- valeu = 0,017 yang berarti terdapat hubungan antara gangguan perkembangan dengan kejadian stunting. Kesimpulan yang didapatkan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang signifikan terhadap gangguan perkembangan pada anak usia toddler dengan kejadian stunting. Disarankan keluarga sebaiknya meningkatkan dan melatih kemampuan motorik anak, bahasa, dan personal sosial dengan cara dilatih untuk bisa melakukan hal-hal secara mandiri.
Open AccessAnak Usia Toddler, Gangguan Perkembangan, Stunting