Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipotermi adalah masalah yang terjadi setelah pembedahan, hipotermi
terjadi karena agen dari obat anestesi menekan laju metabolisme oksidatif yang
menghasilkan panas tubuh sehinga mengganggu regulasi panas tubuh, komplikasinya dapat
muncul selama penyembuhan pasca anestesi umum maupun regional. Pembedahan dengan
anestesi tulang belakang yang berkepanjangan akan meningkatkan terpaparnya tubuh
dengan suhu dingin sehingga menyebabkan perubahan temperatur tubuh.Tujuan:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca
spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian
observasional analitik dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian
cross sectional yang melibatkan sebanyak 36 responden pasca anestesi spinal dengan
teknik pengambilan sampel purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah
analisis univariat yaitu deskriptif dan analisis bivariat yang digunakan adalah Spearman
Rank. Hasil: Karaktristik responden yang menjalani operasi menggunakan spinal anestesi
dengan durasi sedang lebih didominasi, dengan total 30 responden (83.3%), penelitian ini
juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami hipotermi ringan setelah
menjalani anestesi spinal, dengan total 22 responden (61.1%), terdapat keeratan hubungan
lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi dengan uji
korelasi Spearman Rank menujukkan nilai sig (2-tailed) atau P-Value adalah 0.000 <0.05
dengan nilai korelasi koefisien -0.795. Kesimpulan: Temuan ini mendukung teori yang
mana lama operasi berhubungan dengan hipotermi pasca anestesi spinal di RSUD
Kabupaten Bekasi.
Open AccessLama Operasi, Hipotermi, Anestesi Spinal
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kecemasan adalah reaksi psikologis yang umum terjadi pada pasien pre operasi, terutama sebelum menjalani general anestesi. Kecemasan yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi fisiologis pasien, salah satunya adalah peningkatan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang akan menjalani general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan teknik purposive sampling yang melibatkan 36 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS), dan data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan tekanan darah sistolik (P- Value 0,002) dan diastolik (P-Value 0,003). Sebagian besar responden mengalami peningkatan tekanan darah sistolik (69,4%) dan diastolik (58,3%). Kesimpulan: bahwa adanya korelasi¹ atau hubungan tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan peningkatan tekanan darah pada pasien pre operasi yang menjalani general anestesi. Penatalaksanaan kecemasan pre operasi menjadi penting untuk menjaga kestabilan kondisi hemodinamik pasien demi keberhasilan tindakan operasi.
Open AccessGeneral Anestesi, kecemasan, pre operasi, peningkatan tekanan darah
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
General anestesi adalah tindakan pembiusan yang ditandai dengan hilangnya kesadaran, nyeri, memori, dan relaksasi.Komplikasi yang paling sering muncul setelah tindakan anestesi salah satunya adalah hipotermi. Penyebabnya adalah karena saraf simpatis di block oleh obat anestesi sehingga terjadi vasodilatasi dan mengakibatkan terjadinya penurunan suhu tubuh atau hipotermi
Tujuan peneliti: Tujuan Umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara hipotermi dengan waktu pulih sadar pasca general anestesi di ruang pemulihan RSUD Kabupaten Bekasi.Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif uji Chi square.Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 36 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi.Data dianalisis menggunakan uji Chi square.Hasil: Berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh responden berjenis kelamin laki-laki (55,6%),berdasarkan usia 17-25 tahun (33,3%) dan berdasarkan berat badan 44 – 55 kg (36,1%) dan 66-80 kg (36,1%). Berdasarkan suhu tubuh 33⁰-35⁰C (63.9%) berdasarkan waktu pulih sadar <15 menit sebanyak 16 orang (44,4) Uji perbedaan waktu pulih sadar dengan kejadian hipotermi didapatkan P-Value 0,001 <0,05.Kesimpulan: Ada hubungan waktu pulih sadar dengan hipotermi pada pasien pasca general anestesi di rumah sakit umum daerah kabupaten bekasi
Open Accesspulih sadar, hipotermi,general anestesi
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Bromage score satu indikator respon motorik pasca spinal anastesi. spinal anastesi adalah metode Latar Belakang : Hipotensi adalah suatu komplikasi yang sering terjadi pada pasien spinal anestesi. Penanganan hipotensi dapat di atasi dengan pemberian coloading cairan kristaloid.
Tujuan : Mengidentifikasi gambaran kejadian hipotensi sebelum dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid pada pasien dengan spinal anestesi.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, bed side monitor.
Hasil : Dalam penelitian ini seluruh responden sebelum pemberian coloading cairan kristaloid mengalami kejadian hipotensi, dimana mayoritas responden mengalami hipotensi sebesar (100%), dan responden setelah pemberian coloading cairan kristaloid mayoritas responden yang mengalami hipotensi sebanyak (89,2%) dan (10,8%) responden yang tidak mengalami hipotensi.
Kesimpulan : Kejadian hipotensi pasca anestesi spinal sebelum pemberian coloading cairan kristaloid di temukan bahwa seluruh responden mengalami hipotensi, dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid sebanyak delapan responden tidak hipotensi dan 66 (89,2%) masih mengalami hipotensi .
Open AccessHipotensi, Coloading cairan, Spinal Anestesi
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Pembedahan adalah prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka, Anestesi spinal yang artinya jenis anestesi regional sebagai pilihan utama yang paling sering dipergunakan dibandingkan dengan anestesi general, sebab pengaruh anestesi general terhadap ibu serta bayi lebih besar dibandingkan menggunakan anestesi spinal. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap hemodinamik Pre, Intra, Post pada pembedahan sectio caesarea. Di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode Penelitian : Pada karakteristik pasien termasuk pada data katagori, sedangkan skor hemodinamik data numerik. Di analisis data pada penelitian ini mengunakan descriptive statistics jika data terdistribusi frekuensi. Pada penelitian ini akan dilakukan uji normalitas data menggunakan kolmogorov smirnov dan shapiro-wilk jika hasil data uji normal > 0,05 terditribusi normal dan bila hasil data kurang dari < 0,05 tidak terditribusi normal. sehingga pada penelitian
ini apa bila hasil analisis data didapatkan 0,05 pada signifikansi data. Pada selanjutnya penelitian ini akan di uji hipotesis menggunakan uji hipotesis dengan menggunakan uji regresi linier sederhana, dengan nilai P signifikansi <0,05. Sehingga pada penelitian ini pre tidak diberikan anestesi spinal dan intra, post diberikan anestesi spinal. Hasil Penelitian : Usia 25 – 35 tahun berjumlah 18 responden (45,0%). Berat badan 60 - 85 berjumlah 29 responden (72,5%). Tinggi badan 140 - 155 berjumlah 29 responden (72,5%). Hipertensi YA berjumlah 4 responden (10,0%), TIDAK berjumlah 36 responden
(90,0%). Hasil analisis normalitas : Pre nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 26 responden, pre sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 22 responden (55,0%). Pre diastolik tinggi : (> 80 mmHg) berjumlah 32 responden (80,0%). Pre MAP dibagi normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 30 responden (75,0%). Intra nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 35 responden (87,5%). Intra sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 26 responden (65,0%). Intra diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 24 responden. Intra MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 35 responden. Post nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 38 responden (95,0%). Post sistolik normal : (90-120 mmHg) berjumlah
22 responden (55,0%). Post diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Post MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Hasil analisis hipotesis : Hasil uji regresi linier diperoleh nilai significancy P=<,001 menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel hemodinamik dengan kejadian anestesi spinal. Nilai correlation coefficient P=,828 dinyatakan korelasi pengaruh antara variabel hemodinamik dengan variabel anestesi spinal memiliki pengaruh yang kuat. Kesimpulan : Ada pengaruh bahwa dari 40 responden yang mengalami kejadian anestesi spinal pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal mayoritas mengalami penurunan hemodinamik. Rumah Sakit PINNA Bekasi.
Open AccessAnestesi Spinal, Hemodinamik, Sectio Caesarea.
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Pembedahan adalah prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk
membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka, Hipotermi
merupakan salah satu efek yang sering terjadi setelah pembedahan di ruang pemulihan.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hipotermi setelah operasi yaitu usia. Tujuan
Penelitian : Diketahui hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pasca anestesi
umum dengan teknik termometer infrared di ruang pemulihan RSUD Bayu Asih Kabupaten
Purwakarta. Metode Penelitian : Penelitian kuantitatif deskriptif korelasi dengan desain
penelitian studi potong lintang (cross sectional). Jumlah sampel 36 responden dengan teknik
pengambilan sampel Non Probability sampling (Purposive Sampling). Uji statistik
menggunakan uji Spearman’s rho. Hasil Penelitian : Lansia awal 46 - 55 tahun berjumlah 20 responden (55,6%), lansia akhir 56 - 65 tahun berjumlah 12 responden (33,3%),
sedangkan di manula >65 tahun berjumlah 4 responden (11,1%). diketahui yang mengalami
hipotermi sedang sebanyak 18 responden (50.0%), dan hipotermi ringan sebanyak 11
responden (30.6%), sedangkan hipotermi berat sebanyak 7 responden (19.4%). Hasil
korelasi Spearman Rank (rho) dengan hasil P = 0,001, berarti P < 0,05 hal tersebut
menunjukkan ada hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pasca operasi dengan
anestesi umum. Nilai Correlation coefficient 0,719 menunjukkan bahwa ada korelasi yang kuat antara
variabel usia lanjut dengan variabel hipotermi pasca operasi dengan anestesi umum. Kesimpulan :
Ada hubungan bermakna antara hubungan faktor lanjut usia dengan kejadian hipotermi pada pasien pasca anestesi umum dengan alat termometer infrared diruang pemulihan RSUD Bayu Asih
Purwakarta.
Open Access
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Shivering pasca anestesi dapat terjadi pada pasien dengan anestesi umum sebesar 5-65% dan
sedangkan pada anestesi spinal mencapai 33-57%. Shivering pasca anestesi adalah mekanism
kompensasi dalam tubuh yang dapat menyebabkan efek samping yang merugikan, termasuk
ketidaknyamanan pasien, nyeri akibat perluasan bekas luka operasi, dan peningkatan kebutuhan
oksigen akibat meningkatnya aktivitas otot. TUJUAN: Penelitian ini bertujuan untuk untuk
mengetahui hubungan lama operasi dengan shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi diruang operasi RS.Medirossa Cikarang. HASIL: Berdasarkan hasil penelitian yang dapat dijelaskan bahwa pasien yang telah menjalani tindakan pembedahan herniatomi dengan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 25 responden (80,6%). Dan perempuan 6 responden (19,4%). Berdasarkan hasil penelitian umu mayoritas yang mengalami pembedahan herniotomi dengan spinal anestesi dalam penelitian in adalah rentang umur 43-55 tahun sebanyak 15 responden (48,4%). Dari uji statistik pearson chi square diperoleh nilai (p-value) 0,012 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lama operasi dan shivering pada pembedahan herniotomi menggunakan spinal anestesi di RS.Medirossa Cikarang. KESIMPULAN: Ada hubungan lama operasi dengan kejadian shivering pada pembedahan herniotomy menggunakan spinal anestesi di RS. Medirossa Cikarang
Open AccessHerniotomy, Lama Operasi, Shivering
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Bromage score satu indikator respon motorik pasca spinal anastesi. spinal anastesi adalah metode anestesi dengan cara menyuntikkan obat analgetik lokal kedalam ruang subarachnoid di daerah lumbal. Kekuatan motorik individu dapat diukur dengan menunjukkan derajat pergerakan melawan hambatan. Setiap ekstremitas harus diukur kekuatannya. Salah satu indikator respons motorik pasca anestesi spinal adalah Bromage score, yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan otot kaki. TUJUAN :Untuk Mengetahui Status Fisik Pasien Regional Anastesi Subarachnoid Spinal Block Regional Berkorelasi Dengan Bromage Score di RS Medirosa Cikarang. HASIL: Berdasarkan distribusi frekuensi variabel usia pasien bahwa mayoritas pasien memiliki usia 19-25 sebanyak 13 responden (43,3%) dan 26-35 sebanyak 11 responden (36,7%) dan 36-45 sebayak 6 responden (20.0%) memiliki frekuensi yang paling rendah. Dari uji Chi Square Faktor usia sangat berpengaruh dalam pencapaian Bromage Score 2 di karnakan cairan serebrospinal di ruang subarachoud melambat. KESIMPULAN: ada hubungan antara usia dengan waktu pencapaian Bromage Score 2 dikarenakan pada usia tua ada penurunan fungsi organ seperti ginjal dan hepar, sehingga semakin bertambahnya usia maka akan semakin lama waktu pencapain Bromage Score 2.
Open AccessBromage Score 2, Spinal Anastesi, Usia
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Pembedahan merupakan penanganan medis secara invasif yang menyebabkan kecemasan pada pasien. Penurunan rasa cemas sangat penting karena dapat mengurangi risiko komplikasi selama prosedur anestesi. Salah satu penanganannya dengan pemberian edukasi atau informasi yang koprehensif. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian edukasi pre operatif tentang prosedur anestesi terhadap kecemasan pada pasien general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini
menggunakan jenis pre eksperimen dengan desain pretest and posttest one group design. Teknik
pengambilan sampel adalah purposive sampling melibatkan 36 responden. Data dianalisis
menggunakan uji wilcoxon. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety
And Information Scale (APAIS). Hasil: Berdasarkan jenis kelamin sebagian besar responden adalah
perempuan yaitu sebanyak 22 orang (61,1%). Menurut pengalaman pembedahan sebagian besar
responden yaitu dengan belum pernah operasi 22 orang (61,1 %). Berkaitan dengan pendidikan
terakhir sebagian besar yaitu dengan berpendidikan SMA sebesar 10 orang (27,8 %). tingkat
kecemasan sebelum diberikan edukasi mengalami kecemasan sedang dengan 21 orang (58,3 %). Uji
perbedaan Tingkat Kecemasan sebelum dan sesudah intervensi didapatkan p-value 0.000.
Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian edukasi pre operatif tentang prosedur anestesi terhadap
kecemasan pada pasien general anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi.
Open AccessEdukasi, kecemasan, pre operatif
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di Posbindu Seroja wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupeten Bekasi. Kegiatan pengbdian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang hipertensi dan penatalaksanaannya secara non farmakaologis dengan memberikan metode latihan relaksasi autogenic dengan tehnik yang baik/benar dan terarah. Kegiatan edukasi dan latihan disesuaikan dengan permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi oleh mitra. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian dimulai dari observasi dan identifikasi permasalahan di wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan pemberian edukasi terkait dengan hipertensi dan penatalaksanaannya secara non farmakologis, tahapan selanjutnya dengan memberikan pelatihan relaksasi autogenic secara terstruktur kepada responden, kemudian diakhiri dengan mengevaluasi kemampuan responden dalam mempraktikkan/memperagakan terapi relaksasi autogenic dengan tehnik yang baik/benar dan terarah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada bulan Oktober - November 2022. Hasil kegiatan pengabdian peserta mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir dengan antusisas, responden memiliki pengetahuan dan memahami tentang hipertensi dan penatalakasanaannya secara non farmakologis, dan peserta dapat mempraktikkan/ memperagakan tehnik relaksasi autogenic dengan benar sesuai dengan yang dicontohkan oleh pengabdi.
Open Access
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Pos Binaan Terpadu (POSBINDU) Seroja wilayah
kerja Puskesmas Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupeten Bekasi. Kegiatan pengbdian ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang hipertensi dan
penatalaksanaannya secara non farmakaologis, memberdayakan keluarga penderita hipertensi untuk dapat
memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi. Kegiatan pendampingan
disesuaikan dengan permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi oleh mitra. Metode pelaksanaan kegiatan
pengabdian dimulai dari observasi dan identifikasi permasalahan di wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti,
kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan pemberian edukasi terkait dengan hipertensi dan
penatalaksanaannya secara non farmakologis, tahapan selanjutnya dengan memberikan pendampingan pada keluarga dalam memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi autogenic.
Dukungan keluarga sendiri memiliki dasar sebagai penghambat progresivitas penyakit hipertensi dan dapat
menunjang keberhasilan terapi hipertensi. Keluarga memiliki peran dalam manajemen penyakit pasien,
dimulai dari makanan harian, aktivitas fisik dan dukungan emosional yang membantu pasien untuk
menangani stres akibat penyakitnya. Tujuan pengabdian ini adalah memberdayakan keluarga penderita
hipertensi untuk dapat memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi autogenic.
Metode yang digunakan dengan memberikan demonstrasi dan latihan pada keluarga pasien penderita
hipertensi mengenai relaksasi autogenic. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada bulan
Juli - Agustus 2022. Hasil kegiatan pengabdian keluarga mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir dengan
antusisas, keluarga memiliki pengetahuan dan memahami tentang hipertensi dan penatalakasanaannya
secara non farmakologis, dan dapat memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi
autogenic.
Open Accessrelaksasi autogenic, keluarga, hipertensi
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Open Access
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Induksi pada general anestesi merupakan Tindakan membuat pasien sadar menjadi tidak sadar yang terjadi pada stadium 1 atau stadium analgesia. Pada awal induksi hemodinamik dan respirasi mengalami perubahan yang signifikan. Tujuan : Mengetahui pengaruh induksi saat general anestesi terhadap perubahan hemodinamik dan respirasi pasien di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah total 36 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Teknik analisis data dengan analisis Regresi Linier Sederhana dengan P<0.050. Hasil Penelitian : Didapatkan nilai Probabilitas 0,667 > 0,050 artinya tidak ada pengaruh induksi terhadap perubahan hemodinamik, uji regresi linier kedua nilai probabilitas 0,018 < 0,050 artinya terdapat pengaruh induksi terhadap perubahan respirasi. Hasil analisa bivariat setiap komponen hemodinamik diantaranya: Tekanan Darah Sistolik (P-value : 0,890; R 2 : 0,001); Tekanan Darah Diastolik (P- value : 0,040; R
2 : 0,119); Mean Arterial Pressure (P-value : 0,149 ; R 2 : 0,060); Heart Rate (P-value : 0,283 ; R 2 : 0,034). Hasil analisa bivariat setiap komponen respirasi diantaranya : Saturasi Oksigen (P-value : 0,920 ; R 2
: 0,000) ; Minute Volume (P-value : 0,019 ; R 2 : 0,151) ; Waktu Capai Napas Spontan (P-value : 0,050 ; R 2 : 0,108). Kesimpulan : dari penelitian ini dapat disimpulkan dari uji regresi linier sederhana induksi tidak berpengaruh terhadap perubahan hemodinamik, sedangkan uji regresi linier sederhana induksi berpengaruh terhadap respirasi.
Open AccessInduksi, Hemodinamik, Respirasi, General Anestesi
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Lanjut usia dengan hipertensi merupakan penderita dengan sakit kepala bagian belakang, mudah lelah, bingung, masalah penglihatan, kering berlebihan, kulit pucat atau merah, cemas atau gelisah. Tujuan untuk mengidentifikasi skala nyeri dan mengurangi nyeri. Metode yang digunakan pada studi kasus dengan menggunakan metode deskriptif asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 02 Juni 2022 dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, data fokus terkait masalah keperawatan, dan observasi. Studi kasus dilakukan di Desa Karang asih Cikarang Utara pada Ny. N (67 tahun). Adapun tindakan keperawatan yang diberikan pada sampel Ny. N adalah manajemen nyeri. Setelah dilakukan asuhan keperawatan dengan kriteria hasil selama 3x60 menit didapatkan, nyeri akut dapat teratasi, yaitu nyeri berkurang dengan skala 1-4(1-10) dengan TTV dalam batas normal (TTV : Tekanan Darah : 160/100 mmHg, Nadi : 79x/menit, RR : 20x/menit, Suhu : 36,4C). Intervensi berikan kompres air hangat, teknik relaksasi dan teknik distraksi dapat mengatasi masalah keperawatan nyeri akut dari skala 6 menjadi skala 4. Dapat disimpulkan pada lansia dengan hipertensi sehingga dapat dijadikan acuan pemberian intervensi keperawatan. Masalah ini telah teratasi, dan intervensi dihentikan.
Open AccessHipertensi, Lansia, Nyeri akut.
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Masalah keperawatan yang muncul pada individu lanjut usia (lansia) dengan diabetes mellitus salah satunya adalah gangguan mobilitas fisik,gangguan mobilitas fisik merupakan Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri, Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelainan metabolik yang dikarakteristikan dengan adanya peningkatan gkukosa dalam darah melebihi batas normal (hiperglikemia) yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin. Penyakit DM sering terjadi pada lansia karena organ tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif serta komplikasi lebih cepat muncul pada lansia dibandingkan dengan kelompok usia lainnya karena disebabkan oleh berbagai faktor resiko komplikasi, metode yang digunakan adalah studi kasus melalui wawancara, dan observasi yang dianalisa secara deskriptif.penelitian ini dilakukan ini di Desa Karang Asih Cikarang Utara pada tanggal 31 Mei 2022. Hasil penelitian ini didapatkan setelah dilakukan asuhan keperawatan pada Ny. R degan diagnosa Diabetes Mellitus selama 3x 24 jam dengan kriteria hasil melaporkan perasaan peningkatan kekuatan kemampuan dalam bergerak. subyek studi ini yakni satu orang klien (Ny.R) yang mengalami diabetes mellitus. Intervensi keperawatan yang diberikan berupa Indetifikasi adanya kekakuan otot atau keluhan fisik lainnya, libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan, ajurkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (sisi tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi). Dapat disimpulkan bahwa indetifikasi adanya kekuatan otot dapat berpengaruh terhadap kekuatan otot lansia (Ny.R).
Open AccessLansia, gangguan mobilitas fisik, diabetes mellitus
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Seseorang bisa dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan darah diastolik kurang dari 90 mmHg, pada setiap pemeriksaan. Lanjut usia dengan hipertensi merupakan penderita dengan sakit kepala bagian belakang, mudah lelah, bingung, masalah penglihatan, kering berlebihan, kulit pucat atau merah, cemas atau gelisah. Tujuan untuk mengidentifikasi skala nyeri dan mengurangi nyeri. Metode yang digunakan pada studi kasus dengan menggunakan metode deskriptif asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 01 Juni 2022 dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, data fokus terkait masalah keperawatan, dan observasi. Studi kasus dilakukan di Desa Karang asih Cikarang Utara pada Ny. R (63 tahun). Adapun tindakan keperawatan yang diberikan pada sampel Ny. R adalah manajemen nyeri. Setelah dilakukan asuhan keperawatan dengan kriteria hasil selama 3x24 jam didapatkan, nyeri akut dapat teratasi, yaitu nyeri berkurang dengan skala 1-3(1-10) dengan TTV dalam batas normal (TTV : Tekanan Darah : 130/80 mmHg, Nadi : 80x/menit, RR : 19 x/menit, Suhu : 36,1C). Intervensi berikan kompres air hangat, teknik relaksasi dan teknik distraksi dapat mengatasi masalah keperawatan nyeri akut dari skala 7 menjadi skala 3. Dapat disimpulkan pada lansia dengan hipertensi sehingga dapat dijadikan acuan pemberian intervensi keperawatan. Masalah ini telah teratasi, dan intervensi dihentikan.
Open AccessHipertensi, Lansia, Nyeri akut.
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Osteoarthritis merupakan penyakit dengan gejala utama nyeri dan kaku pada persendian Osteoarthritis pada beberapa kejadian akan menimbulkan rasa nyeri saat bergerak, semakin bertambahnya usia pada seseorang maka akan kehilangan massa tulang. Osteoarthritis ditandai dengan kehilangan progresif kartilago sendi, sinovitis (inflamasi sinovium yang melapisi sendi), nyeri sendi, kekakuan, dan kehilangan gerakan sendi. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi dan mempelajari proses pemberian asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan yang komprehensif pada pasien dengan osteoarthritis. Hasil studi kasus penelitian ditemukannya gejala klinis pada pasien osteoarthritis diantarannya nyeri pada kedua lutut, persendian kaku, jari-jari tangan kesemutan tidak bisa mengepal, sehingga timbul diagnose keperawatan utama: nyeri akut akibat penyakit osteoarthritis. Tindakan keperawatan yang efektif kasus ini yaitu kompres hangat, mobilisasi sederhana bangun dari jongkok dan berpindah tempat duduk. Kesimpulan penelitian ini adalah tindakan yang dilakukan pada implementasi sangat efektif untuk mengatasi masalah keperawatan utama, pada penelitian ini dengan evaluasi akhir masalah keperawatan nyeri akut teratasi dengan kriteria hasil nyeri yang dialami klien berkurang, sendi kakunya sudah berkurang dan meningkatnya kekuatan otot setelah melakukan terapi kompres hangat.
Open AccessOsteoartritis, Lansia, Nyeri Akut
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes mellitus pada lansia apabila tidak ditangani langsung maka akan menyebabkan produktivitas organ tubuh bahkan menyebabkan kematian dini. Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran Asuhan Keperawatan Gerontik dengan diagnose Diabetes mellitus dengan subjek penelitian Ny. Y dengan masalah keperawatan Ketidakstabilan Glukosa Darah berhubungan dengan Resistensi Insulin. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif, berupa wawancara, data fokus terkait masalah keperawatan, dan observasi. Penelitian ini dilakukan di Desa Karang Asih Cikarang Utara pada tanggal 29 agustus 2022. Hasil penelitian ini didapatkan setelah dilakukan asuhan keperawatan pada Ny. Y dengan diagnose diabetes mellitus selama 3x24 jam dengan kriteria hasil penurunan kadar glukosa dalam darah yaitu GDS>143 mg/dl, rasa lemas lesu hilang, rasa haus dan terus berkemih hilang. Intervensi yang dilakukan adalah manajement hiperglikemia. Berpengaruh terhadap ketidakstabilan glukosa darah pada lansia, sehingga intervensi ini dapat dijadikan salah satu tindakan keperawatan dengan masalah yang sama.
Open AccessLansia, Ketidakstabilan Glukosa Darah, Diabetes Mellitus
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki metode Asuhan Keperawatan Gerontik Nyeri Kronis Pada Ny. S Dengan Diagnosa Rheumatoid Arthritis di Desa Karang Asih Cikarang Utara tahun 2022. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karang Asih Cikarang Utara Rt. 003 Rw. 005 Cikarang Utara. Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode deskriptif yaitu sesuatu yang menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien Rheumatoid Arthritis dengan masalah Nyeri Kronis. Subjek studi kasus yakni satu orang klien (Ny.S) yang mengalami Rheumatoid Arthritis dengan masalah Nyeri kronis. Sumber data Sumber data didapatkan melalui wawancara dan observasi. Hasil Pengkajian menunjukkan data-data yang menunjang untuk diangkatnya masalah keperawatan utama, diantaranya klien mengalami mengeluh sakit dikakinya sebelah kanan sakit dikaki seperti ditusuk-tusuk lutut sebelah kanan skala 7 hilang timbul, lama nyeri 5 menit, klien mengatakan nyeri ketika subuh saat merasa dingin. Masalah keperawatan utama yang ditemukan adalah nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik: Hipertensi. Selanjutnya Intervensi dilakukan berdasarkan teori manajemen nyeri menurut Tim Pokja SIKI PPNI DPP, 2018. Implementasi disesuaikan berdasarkan teori dari Buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Klien bersikap kooperatif sehingga implementasi yang dilakukan dapat mengatasi masalah yang dirasakan. Evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan hasilnya dapat teratasi dengan kriteria hasil skala nyeri menurun dan nyeri berkurang.
Open AccessRheumatoid Arthritis, Nyeri Kronis
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki metode asuhan keperawatan gerontik pada klien dengan gangguan rasa nyaman (nyeri akut) akibat hipertensi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karang Asih RT 003 / RW 005, Cikarang Utara. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan metode deskriptif. Subyek studi kasus yakni satu orang klien (Ny. S) yang mengalami hipertensi dengan masalah nyeri akut. Sumber data didapatkan melalui wawancara dan observasi. Hasil Pengkajian menunjukkan data-data yang menunjang untuk diangkatnya masalah keperawatan utama, diantaranya klien mengalami pusing dan nyeri bagian belakang kepala sampai menjalar ke pundak, nyeri seperti ditusuk-tusuk, sering merasa pusing, tampak meringis kesakitan menahan nyeri, TD: 153/97 mmHg, Nadi 76x/menit, RR: 20x/menit, S: 36,5C, . Masalah keperawatan utama yang ditemukan adalah nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis. Selanjutnya Intervensi dilakukan berdasarkan teori manajemen nyeri menurut Tim Pokja SIKI PPNI DPP, 2018. Implementasi disesuaikan berdasarkan teori dari Buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Klien bersikap kooperatif sehingga implementasi yang dilakukan dapat mengatasi masalah yang dirasakan. Evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan hasilnya dapat teratasi dengan kriteria hasil nyeri dan pusing berkurang/ mulai menghilang, TTV Kembali normal dan tapak rileks.
Open AccessAsuhan Keperawatan Gerontik, Nyeri Akut, Hipertensi