Thesis••Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Di Indonesia, masalah gizi pada anak masih menjadi prioritas. Satu dari masalah gizi tersebut adalah Stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak usia balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis yang mengakibatkan anak terlalu pendek. Stunting dapat mengakibatkan terganggunya perkembangan otak, penurunan kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, metabolisme dalam tubuh, penurunan kemampuan kognitif, penurunan prestasi belajar, penurunan kekebalan tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui presentase kejadian Stunting dan membuktikan adanya hubungan pemberian MPASI dan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting pada anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi Tahun 2023. Metode penelitian. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Pengumpulan data dilakukan dari data primer melalui kuesioner yang dibagikan langsung kepada 40 responden ibu yang memiliki anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Jatisampurna. Hasil. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 57,5% anak mengalami Stunting. Adanya hubungan yang bermakna antara pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian Stunting dengan (p=0,006) dan Adanya hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting dengan (p=0,005). Kesimpulan. Adanya hubungan pemberian makanan pendamping ASI dan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting pada anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi Tahun 2023.
Open AccessStunting, MPASI, Pengetahuan
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi usia 6–12 bulan. MPASI harus diberikan sesuai waktu, jenis, tekstur, dan porsi yang dianjurkan agar dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi secara optimal. Namun, kenyataannya masih banyak ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai praktik pemberian MPASI, sehingga berisiko menimbulkan masalah gizi maupun hambatan tumbuh kembang anak. Upaya edukasi melalui konseling kesehatan di posyandu diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan ibu terkait pemberian MPASI yang benar. Tujuan: Menganalisis pengaruh konseling MPASI terhadap pengetahuan ibu dalam memberikan MPASI pada bayi usia 6–12 bulan. Subjek dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimen menggunakan pendekatan one-group pretest-posttest. Penelitian dilaksanakan di Posyandu Karang Sari 9, Cikarang Timur, pada tahun 2025 dengan jumlah responden sebanyak 30 ibu yang memiliki bayi usia 6–12 bulan, dipilih melalui total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup berjumlah 20 item. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil: Sebelum diberikan konseling, sebagian besar responden memiliki pengetahuan dalam kategori cukup (46,6%) dan kurang (36,7%). Setelah konseling, terjadi peningkatan pengetahuan, dengan 66,7% responden berada pada kategori baik. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -4,684 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan konseling MPASI terhadap peningkatan pengetahuan ibu. Kesimpulan: Konseling MPASI terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pemberian MPASI pada bayi usia 6–12 bulan. Intervensi ini dapat dijadikan strategi edukasi dalam program posyandu untuk mendukung praktik pemberian MPASI yang tepat.
Open Accesskonseling; MPASI; pengetahuan ibu; bayi 6–12 bulan
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
MPASI diberikan pada bayi usia 6-24 bulan. Di Indonesia prevalensi ibu yang memberikan MPASI dini sebanyak 12,6%. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian MPASI dini pada bayi usia 0-6 bulan di Dusun Waluya Desa Waluya Kecamatan Kutawaluya Kabupaten Karawang tahun 2023. Metode penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi 167 ibu dan sampel 130 ibu dengan teknik purposive sampling. Instrument penelitian menggunakan lembar kuesioner. Analisis yang digunakan
analisis univariat dan bivariat.Uji statistik menggunakan uji chi-square. Hasil Analisis bivariat pada variabel pengetahuan (p= 0,042), pendidikan (p= 0,016), pekerjaan (p= 0,002), budaya (p= 0,000) dan peran petugas kesehatan (p= 0,030). Kesimpulan penelitian ini ada hubungan antara pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, budaya dan peran petugas kesehatan dengan pemberian MPASI dini pada bayi usia 0-6 bulan. Diharapkan ibu menyususi dapat memberikan MPASI tepat waktu.
Open Accessbayi usia 0-6 bulan, budaya, pemberian MPASI dini, pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, peran petugas kesehatan.
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Derajat kesehatan anak adalah masalah yang serius untuk setiap negara karena anak adalah generasi penerus bangsa di masa depan. Untuk meningkatkan derajat kesehatan anak maka perlu dilakukan perbaikan dan peningkatan status gizi anak. Masalah gizi pada anak terjadi akibat ketidakseimbangan kebutuhan makanan atau gizi yang dikonsumsi dengan proses pencernaan, absorbsi, transportasi, penyimpanan dan metabolisme sehingga mempengaruhi energi yang dihasilkan. Oleh karena hal itu, ibu harus mengetahui dengan benar tentang MPASI dan bagaimana cara pemberian yang baik dan tepat untuk anak.
Metode : Penelitian yang akan dilaksanakan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Subjek penelitian ditarik dari populasi dengan purposive sampling. Sampel yang digunakan sebesar 64 responden yang memenuhi kriteria. Variabel independen terdiri dari pengetahuan dan sikap ibu serta variabel dependennya adalah perilaku ibu dalam pemberian MPASI. Analisa data menggunakan uji chi-square.
Hasil : Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku ibu dalam pemberian MPASI pada baduta usia 6-24 bulan (p >0,05)
Kesimpulan dan saran : Tidak terdapat hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku ibu dalam pemberian MPASI pada baduta usia 6-24 bulan. Diharapkan dapat terus memberikan penyuluhan terkait cara pemberian MPASI yang baik dan benar untuk baduta usia 6-24 bulan.
Open AccessMPASI, pengetahuan, sikap, perilaku
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan berdasarkan BB/U, gizi kurang bayi di Indonesia sebesar 13,8%. Salah satu penyebab gizi kurang pada anak adalah praktik pemberian makanan pada anak yang tidak tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu tentang MPASI dengan status gizi bayi usia 6 – 12 bulan di Puskesmas Cikarang. Metode penelitian adalah kuantitatif dengan cross-sectional study. Dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive sampling dan total sampel sebanyak 57 responden. Dalam penelitian ini teknik analisa yang digunakan adalah univariat berupa uji analisis deskriptif dan bivariat berupa uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang pemberian MPASI pada bayi usia 6 – 12 bulan mayoritas pengetahuan baik 40 responden (70,2%) dengan sikap ibu tentang pemberian MPASI pada bayi 6 – 12 bulan mayoritas cukup baik sebanyak 35 responden (61,4%) dan menunjukkan status gizi bayi mayoritas yaitu normal 40 bayi (70,2%). Kemudian terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan status gizi (p value 0,006), serta terdapat hubungan yang siginifikan antara sikap ibu dengan status gizi (p value 0,006). Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan baik dan sikap ibu yang cukup baik tentang pemberian MPASI dapat berhubungan dengan status gizi bayi usia 6 – 12 bulan. Saran tenaga kesehatan diharapkan untuk memberikan edukasi tentang pemberian MP-ASI.
Open AccessPengetahuan, Sikap, Status Gizi, MPASI
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Di Indonesia, masalah gizi pada anak masih menjadi prioritas. Satu dari masalah gizi
tersebut adalah Stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak usia balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis yang mengakibatkan anak terlalu pendek. Stunting dapat mengakibatkan terganggunya perkembangan otak, penurunan kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, metabolisme dalam tubuh, penurunan kemampuan kognitif, penurunan prestasi belajar, penurunan kekebalan tubuh. Tujuan: Mengetahui presentase kejadian Stunting dan membuktikan adanya hubungan pemberian MPASI dan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting pada anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi Tahun 2023. Metode : Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Pengumpulan data dilakukan dari data primer melalui kuesioner yang dibagikan langsung kepada 40 responden ibu yang memiliki anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Jatisampurna. Hasil : Dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 57,5% anak mengalami Stunting. Adanya hubungan yang bermakna antara pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian Stunting dengan (p=0,006) dan Adanya hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting dengan (p=0,005). Kesimpulan. Adanya hubungan pemberian makanan pendamping ASI dan pengetahuan ibu dengan kejadian Stunting pada anak usia 0-24 bulan diwilayah Puskesmas Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi Tahun 2023.
Open AccessStunting, MPASI, Pengetahuan
Book•2021•Koleksi Perpustakaan
Pemberian MPASI terlalu dini tidak dianjurkan karena akan menjadi sumber berbagai jenis penyakit, seperti terjadinya diare, sembelit, batuk, pilek, panas dan kolik usus. Data yang diambil pada tahun 2019 di desa bantarjaya terdapat bayi yang sudah diberikan MPASI yaitu sebanyak 66,6% dari 30 bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-fakor yang berhubungan dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan Di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran Tahun 2020.
Metode penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross sectional, populasi seluruh ibu yang mempunyai bayi usia kurang dari 6 bulan di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran sebanyak 167 responden. Sampel yang diteliti sebagian ibu yang mempunyai bayi usia kurang dari 6 bulan sebanyak 30 responden. Intrument penelitian menggunakan kuesioner dan data primer.
Hasil penelitian bivariat menunjukan ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P= 0,020, hasil OR 8,750. Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P=0,030, hasil OR 8,500. Ada hubungan pekerjaan ibu dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P=0,014, hasil OR 16,000. Ada hubungan dukungan tenaga kesehatan dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nila P=0,042, hasil OR 10,667. Ada hubungan dukungan keluarga dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P=0,020, hasil OR= 8,750. Ada hubungan tradisi dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan, nilai P=0,030, hasil OR 8,500
Kesimpulan hasil penelitian dari 6 variabel yang diteliti memiliki hubungan antara pengetahuan ibu, pendidikan, pekerjaan, dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan, tradisi dengan pemberian MPASI pada bayi kurang dari 6 bulan di Desa Bantarjaya Kecamatan Pebayuran.
Open AccessPemberian MPASI kurang dari 6 bulan, pengetahuan, pendidikan, pekerjaan,dukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan, tradisi.