Thesis••Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Latar Belakang : Diabetes Melitus adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan pada pankreas yang tidak dapat menghasilkan insulin sesuai dengan kebutuhan tubuh. Di RS Sentra Medika Cisalak dari 1 bulan terakhir pasien diabetes melitus berjumlah 200 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya penurunan gula darah setelah diberikan relaksasi pada penderita Diabetes Melitus.
Metode : Jenis penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan lembar observasi. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dimana sample diambil secara acak dengan populasi 42 responden. Intrumen yang digunakan adalah alat glucometer. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji wilcoxon.
Hasil : Hasil pengolahan data menggunakan uji Wilcoxon menunjukan bahwa p value 0.000 <0,05. Maka dapat diambil kesimpulan secara statistic bahwa ada hubungan antara relaksasi otot progresif dan relaksasi autogenik terhadap penurunan kadar gula darah yang artinya H0 di tolak dan Ha diterima.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan bermakna rata-rata kadar glukosa darah sebelum dan setelah dilakukan intervensi relaksasi. Diharapkan relaksasi dilakukan sebagai intervensi keperawatan mandiri dalam menurunkan kadar glukosa darah serta dapat menjadi edukasi terhadap pasien agar kemudian tindakan relaksasi bisa dilakukan dirumah.
Bahan baca : : 3 buku (2020-2022) dan 10 jurnal kesehatan (2017-2022)
Kata kunci : Diabetes, Relaksasi, Gula Darah
Open AccessKata kunci : Diabetes, Relaksasi, Gula Darah
Thesis••Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Appendisitis adalah kondisi dimana apendiks mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya nyeri pada abdomen khususnya kuadran kanan bawah. Appendisitis memerlukan penanganan operatif karena keadaannya gawat darurat. Berdasarkan tahapan prosesnya, appendisitis diklasifikasikan menjadi tiga yaitu appendisitis sederhana, gangrenus dan perforatif. Diagnosis dan intervensi pembedahan yang cepat sangat diperlukan demi mencegah pecahan appendiks yang akan menyebabkan terjadinya peritonitis dan perforasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menggali asuhan keperawatan gangguan nyeri akut pada pasien appendisitis secara komperehensif melalui tahapan pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi. Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada subjek satu orang pasien atau individu yang mengalami appendisitis akut. Peneliti berhasil mendapatkan diagnosa utama yaitu nyeri akut dengan intervensi teknik relaksasi genggam jari. Hasil didapatkan bahwa gelisah yang dirasakan klien berkurang namun tidak dengan nyerinya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nyeri yang dirasakan klien disebabkan oleh infeksi pada appendiks dan harus dilakukan bedah appendiktomi untuk dapat bisa menurunkan atau bahkan menghilangkan intensitas nyeri pada klien.
Open AccessAppendisitis, nyeri akut, teknik relaksasi genggam jari, appendiktomi
Thesis••Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
MEDIKA SUHERMAN (UMS)
Bekasi, Mei 2023
May Susanti
Pengaruh terapi relaksasi genggam jari terhadap tingkat nyeri post debridement ulkus diabetes melitus tipe 2 Di RS Harapan Bunda Jakarta
VII BAB + 40 Halaman, 6 Tabel, 2 Skema, 8 lampiran
ABSTRAK
Ulkus diabetikum adalah ulkus di bawah pergelangan kaki karena berkurangnya sirkulasi kapiler atau arteri,neuropati dan kelainan bentuk kaki ( Robberstad et al.,2017) . Relaksasi genggam jari adalah cara yang mudah untuk mengelola emosi dan kecerdasan emosional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Terapi Relaksasi Ganggam Jari Terhadap Tingkat Nyeri Post Debridement Ulkus Diabetes Melitus 2 di RS Harapan Bunda Jakarta.
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian desain pre-eksperiment one group pre-test-posttest. Desain ini melibatkan satu kelompok yang diberi pre-test (O), diberi treatment (X) dan diberi post-test. Keberhasilan treatment ditentukan dengan membandingkan nilai pre-test dan nilai post-testdimana populasinya adalah penderita DM type 2 dengan post op debridemen dengan menggunakan sistem total sampling dimana minimal jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 orang saat pre dan post test.
Hasil penelitian didapatkan karakteristik responden usia 46 tahun – 55 tahun didapatkan 22 responden (73,3%), jenis kelamin perempuan 17 responden (56,7%), pendidikan SMA 22 responden (73,3%). Hasil skala nyeri sebelum dilakukan tindakan terapi relaksasi genggam jari terhadap tingkat nyeri post debridement ulkus diabetes melitus tipe 2 mayoritas berat 22 responden (73,3%). Diketahui skala nyeri setelah dilakukan tindakan terapi relaksasi genggam jari terhadap tingkat nyeri post debridement ulkus diabetes melitus tipe 2 mayoritas nyeri sedang 18 responden (60%).
Kesimpulan ada pengaruh terapi relaksasi genggam jari terhadap penurunan nyeri post debridement ulkus diabetes melitus tipe 2 Di RS Harapan Bunda Jakarta P-Value 0,000 >0,05.
Peneliti menyarankan agar penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan dan sumber dalam penelitian sejenis dengan tehnik penelitian yang berbeda disertai penambahan variabel penelitian.
Open AccessKata Kunci : Diabetes Melitus, luka ulkus, tehnik relaksasi genggam jari
Daftar Bacaan : 27 Kepustakaan (Tahun 2017-2022)
Thesis••Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PENDIDIKAN PROFESI NERS SKRIPSI, Juni 2023 Nama: Rianty Anggraeni NIM : 221070044 EFEKTIVITAS TEKNIK RELAKSASI BENSON TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH SEWAKTU PADA PASIEN DENGAN DIABATES MELITUS TYPE II DI RUANG TULIP RS SENTRA MEDIKA CISALAK ABSTRAK Latar Belakang : Diabetes merupakan Diabetes melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya hiperglikemia karena insufisiensi pancreas menghasilkan insulin atau kurangnya sensitivitas insulin sel tujuan. Gangguan karbohidrat, lemak, dan metabolisme ptotein yang tidak normal terdapat pada penderita diabetes melitus karena kurangnya aktivitas insulin dalam sel target. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas rteknik relaksasi Benson terhadap penurunan kadar gula darah sewaktu penderita diabetes melitus di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak Metode : Penelitian menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain pre test post test control group design. Populasi yang diambil sebanyak 40 orang masing-masing dengan perlakuan dan kontrol sebanyak 20 orang dengan kriteria berusia kurang dari 60 tahun dan menderita diabetes mellitus. Data yang dikumpulkan adalah data kadar glukosa darah. Data relaksasi dikumpukan dengan metode check Analisa bivariat dilakukan menggunakan uji T-Paired Test. Hasil : dari penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara teknik relaksasi Benson dengan penurunan kadar glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe II dengan kelompok eksperimen p = 0.000 Kesimpulan : Relaksasi Benson dapat menurunkan kadar gula darah sewaktu pada pasien dengan Diabetes Mellitus Type II Kata Kunci : Diabetes melitus, gula darah sewaktu, relaksasi Benson
Open AccessKata Kunci : Diabetes melitus, gula darah sewaktu, relaksasi Benson
Thesis••Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Menurut WHO (World Health Organization) memperkirakan jumlah penderita DM akan meningkat sebanyak 150%, dengan usia penderita berkisar antara 35-64 tahun pada 25 tahun yang akan datang. Prevelensi diabetes akan diperkirakan meningkat seiring penambahan umur penduduk menjadi 19,9% atau 111,2 juta orang pada umur 65-79 tahun. Berdasarkan data yang didapatkan di Puskesmas Setia Mekar pada tahun 2021 jumlah penderita diabetes melitus mengalami peningkatan sebanyak 707 kasus atau sekitar (1,24%) dari total penduduk. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian relaksasi progesif terhadap kadar glukosa darah sewaktu pada lansia diabetes melitus tipe II di Puskesmas Setia Mekar. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pre eksperimental design dengan rancangan One Group Pretest-Posttest, yaitu jenis penelitian yang melibatkan satu kelompok subjek, dimana responden diberikan perlakuan dan akan di uji dengan cara membandingkan hasil sebelum dan setelah diberikan perlakuan. Populasi pada penelitian sebanyak 32 lansia di Puskesmas Setia Mekar dengan menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan analisis data menggunakan Paired Sample T Test. Hasil: Hasil penelitian ini menjukan ada pengaruh terapi relaksasi progresif terhadap kadar gula darah sewaktu pada lansia dengan P-value (0,000). Kesimpulan: Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu terdapat Pengaruh Terapi Relaksasi Progesif Terhadap Kadar Gula Darah Sewaktu Pada Lansia DM Tipe II Di Puskesmas Setia Mekar.
Open AccessDiabetes Melitus, Lansia,Relaksasi Progresif
Thesis••Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Covid-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus. Sekitar 1 dari 5 orang yang terinfeksi Covid-19 menderita sakit parah dan kesulitan bernafas. Penatalaksanaan pada penyakit Covid 19 adalah salah satunya adalah latihan teknik relaksasi nafas dalam. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh latihan teknik relaksasi nafas dalam terhadap peningkatan saturasi oksigen pasien Covid 19 di Ruang NSE RS X Cikarang tahun 2021. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian Pre-Post test (One group pre-post test design). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 30 orang pasien Covid 19 di RS X Cikarang pada tanggal 8 Maret 2021 sampai dengan tanggal 29 Maret 2021. Pengambilan sample (sampling) penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian yang didapat RS X Cikarang terdapat pengaruh yang signifikan antara latihan tekhnik relaksasi nafas dalam terhadap saturasi oksigen pasien Covid 19. Pengaruh ini di uji dengan uji wilcoxon menghasilkan nilai p=0,000, dimana nilai p < α (0,05), maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan teknik relaksasi nafas dalam terhadap saturasi oksigen pada pasien Covid 19. Hasil penelitian ini dapat dapat menjadi masukan bagi perawat untuk menjadikan latihan teknik relaksasi nafas dalam sebagai salah satu intervensi keperawatan mandiri diruangan isolasi RS X Cikarang dan intervensi dalam penatalaksanaan Covid 19.
Open AccessTeknik Relaksasi Nafas Dalam, Saturasi Oksigen, Covid 19
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Sectio caesarea merupakan prosedur pembedahan yang sering dilakukan dalam proses persalinan, namun memiliki dampak berupa nyeri pascaoperasi. Penanganan nyeri yang efektif sangat penting untuk mendukung pemulihan pasien. Teknik relaksasi napas dalam merupakan salah satu metode nonfarmakologis yang dinilai aman dan efektif untuk menurunkan nyeri. Tujuan penelitian: tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh teknik relaksasi napas dalam terhadap intensitas nyeri pasien post sectio caesarea di Rumah Sakit Permata Keluarga Jababeka Tahun 2025. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 responden post sectio caesarea yang dipilih secara total sampling. Teknik relaksasi napas dalam diberikan selama dua hari, dengan pengukuran nyeri menggunakan skala NRS sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Terdapat penurunan yang signifikan pada intensitas nyeri setelah diberikan intervensi (p < 0,001), dari nyeri berat menjadi sedang dan ringan. Kesimpulan: Teknik relaksasi napas dalam berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post sectio caesarea, dan dapat digunakan sebagai terapi komplementer dalam asuhan kebidanan.
Open AccessTeknik relaksasi napas dalam, nyeri post operasi, sectio caesarea, nonfarmakologis.
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.
Open AccessTeknik relaksasi otot progresif, kecemasan, pre operatif
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Pasien Acute Coronary Syndrome akan mengalami nyeri dada dan menimbulkan ansietas, perawat harus mampu mengatasi kondisi tersebut dengan memberikan intervensi mandiri yaitu terapi relaksasi nafas dalam yang sangat terkait dengan pemenuhan suplai oksigen pada pembuluh darah jantung. Terapi ini membuat pasien menjadi rileksasi sehingga akan meningkatkan aliran darah dan suplai oksigen ke daerah yang mengalami iskemik dengan begitu pasien mampu mengendalikan rasa nyeri, ansietas dan hemodinamik normal. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment menggunakan pendekatan one group pretest postest design without control group terhadap 34 sampel dari 52 populasi pasien ACS di IGD Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong menggunakan teknik nonprobability sampling dengan purposive sampling. Berdasarkan uji normalitas Shapiro Wilk menunjukkan data tidak berdistribusi normal (p < 0,05), oleh karena itu uji nonparametrik yang digunakan adalah uji Wilcoxon dan mendapatkan hasil P value 0,000 (p < 0,05) artinya ada pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap nyeri dan ansietas pada pasien ACS. Kesimpulan tingkat rasa nyeri pretest adalah nyeri berat (7-10) dan tingkat rasa nyeri postest adalah nyeri sedang (4-6), tingkat ansietas pretest adalah ansietas berat (28-41) dan tingkat ansietas postest adalah ansietas ringan (14-20), dan ada pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap perubahan nyeri dan ansietas pada pasien ACS di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong.
Open AccessAcute Coronary Syndrome, Ansietas, Nyeri, Teknik Relaksasi Nafas Dalam
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Sumber WHO menyatakan 422 juta orang menderita DM di tahun 2022. Ulkus neuropatik adalah luka yang disebabkan diabetesmilitus disertai kalus dan nekrosis sebaiknya secara teratur dilakukan debridement. Nyeri pada saat dilakukan debridement membuat pikiran dan aktivitas pasien terganggu, sehingga di butuhkan adanya manajemen nyeri dalam membantu mengurangi nyeri tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi Benson terhadap skala nyeri pasien perawatan luka post debridemen di Ruang Jasmine RS Sentra Medika Cikarang. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Experiment dengan desain pretest-posttest satu kelompok. Sampel terdiri dari 30 pasien yang dipilih secara purposive sampling. Pengukuran nyeri dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan setelah intervensi relaksasi Benson. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara skala nyeri sebelum dan setelah diberikan terapi relaksasi Benson, dengan penurunan rata-rata sebesar 0,45 skala nyeri (p = 0,000). Sebelum intervensi, rata-rata skala nyeri adalah 5,50, sedangkan setelah intervensi menurun menjadi 5,05. Hasil ini sejalan dengan penelitian Wulansari (2019) yang menyatakan bahwa relaksasi Benson efektif dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien ulkus diabetik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terapi relaksasi Benson efektif dalam menurunkan nyeri pasien perawatan luka post debridemen. Oleh karena itu, teknik ini direkomendasikan untuk diterapkan dalam praktik keperawatan sebagai metode nonfarmakologi yang dapat meningkatkan kenyamanan pasien.
Open AccessRelaksasi Benson, Skala Nyeri, Luka Post Debridemen, Keperawatan
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.
Open AccessTeknik relaksasi otot progresif, kecemasan, pre operatif
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: Keadaan seseorang yang mengalami kecemasan pre operasi dapat diartikan sebagai perasaan takut atau gelisah yang ditandai dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sesak dada, serta ketegangan otot. Kecemasan pre operasi yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada gangguan hemodinamik. Salah satu metode non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik ini bekerja dengan mengendurkan otot-otot yang tegang secara sistematis, sehingga dapat memberikan efek menenangkan dan kenyamanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian Quasy eksperiment dengan desain pre and post test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang melibatkan 33 responden dengan kriteria inklusi dan eklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test. Instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berusia 26 – 35 (33,3%) dengan jumlah 11 responden, jenis kelamin dengan jumlah 22 responden (66,7%) sebagian besar adalah perempuan, pengalaman pembedahan menunjukkan karakteristik responden sebagian besar belum pernah operasi sebanyak 20 responden (60,6%), dan berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif lebih banyak responden mengalami cemas sedang (48,5%) dengan jumlah 16 responden, sedangkan sesudah dilakukan teknik relaksasi otot progresif didapatkan hasil tingkat kecemasan responden sebagian besar menurun menjadi cemas ringan dengan jumlah 24 responden (72.7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan setelah dilakukan teknik relaksasi otot progresif dengan nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Maka disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan teknik anestesi umum di RS Amanda Cikarang Selatan.
Open AccessKata kunci : Teknik relaksasi otot progresif, kecemasan, pre operatif
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Teknik relaksasi nafas dalam adalah teknik yang digunakan untuk menghilangkan nyeri dengan cara menarik nafas melalui
hidung, dan menghembuskan nafas secara perlahan melalui mulut. Hasil studi yang dilakukan oleh Basri, (2019)
menunjukkan 90% pasien pre operasi mengalami kecemasan. Kecemasan mengakibatkan peningkatan denyut jantung,
peningkatan frekuensi nafas, peningkatan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi nafas dalam
terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Metode: Desain penelitian ini menggunakan metode
penelitian kuantitatif dengan pre experimental design yang diperluas dengan rancangan one group pretest- posttest.
Pengambilan sample adalah purposive sampling melibatkan 37 responden. Data dianalisis menggunakan uji wilcoxon,
instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil:
Karakteristik responden pre operasi yang mengalami kecemasan lebih tinggi pada usia lansia (24,3%), sebagian besar jenis
kelamin perempuan (59,5%), menurut tingkat pengetahuan pasien kecemasan lebih tinggi pada pasien yang belum pernah
operasi (67,6%) dan mayoritas responden lulusan SMA (29,8%). Uji perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah
intervensi didapatkan P-Value 0,001. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian teknik relaksasi nafas dalam terhadap
penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi, dengan nilai p-value 0,001 dan mean 0,8108.
Open AccessTeknik Relaksasi Nafas Dalam, Kecemasan, Pre Operasi
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Pos Binaan Terpadu (POSBINDU) Seroja wilayah
kerja Puskesmas Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupeten Bekasi. Kegiatan pengbdian ini
dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada keluarga tentang hipertensi dan
penatalaksanaannya secara non farmakaologis, memberdayakan keluarga penderita hipertensi untuk dapat
memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi. Kegiatan pendampingan
disesuaikan dengan permasalahan dan kebutuhan yang dihadapi oleh mitra. Metode pelaksanaan kegiatan
pengabdian dimulai dari observasi dan identifikasi permasalahan di wilayah kerja Puskesmas Mekarmukti,
kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan pemberian edukasi terkait dengan hipertensi dan
penatalaksanaannya secara non farmakologis, tahapan selanjutnya dengan memberikan pendampingan pada keluarga dalam memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi autogenic.
Dukungan keluarga sendiri memiliki dasar sebagai penghambat progresivitas penyakit hipertensi dan dapat
menunjang keberhasilan terapi hipertensi. Keluarga memiliki peran dalam manajemen penyakit pasien,
dimulai dari makanan harian, aktivitas fisik dan dukungan emosional yang membantu pasien untuk
menangani stres akibat penyakitnya. Tujuan pengabdian ini adalah memberdayakan keluarga penderita
hipertensi untuk dapat memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi autogenic.
Metode yang digunakan dengan memberikan demonstrasi dan latihan pada keluarga pasien penderita
hipertensi mengenai relaksasi autogenic. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada bulan
Juli - Agustus 2022. Hasil kegiatan pengabdian keluarga mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir dengan
antusisas, keluarga memiliki pengetahuan dan memahami tentang hipertensi dan penatalakasanaannya
secara non farmakologis, dan dapat memberikan dukungan kepada pasien dalam melakukan terapi relaksasi
autogenic.
Open Accessrelaksasi autogenic, keluarga, hipertensi
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Diabetes merupakan Diabetes melitus merupakan penyakit yang ditandai
dengan adanya hiperglikemia karena insufisiensi pancreas menghasilkan insulin atau
kurangnya sensitivitas insulin sel tujuan. Gangguan karbohidrat, lemak, dan metabolisme
ptotein yang tidak normal terdapat pada penderita diabetes melitus karena kurangnya aktivitas
insulin dalam sel target. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas rteknik relaksasi
Benson terhadap penurunan kadar gula darah sewaktu penderita diabetes melitus di Rumah
Sakit Sentra Medika Cisalak. Metode : Penelitian menggunakan jenis penelitian kuantitatif
dengan desain pre test post test control group design. Populasi yang diambil sebanyak 40 orang
masing-masing dengan perlakuan dan kontrol sebanyak 20 orang dengan kriteria berusia
kurang dari 60 tahun dan menderita diabetes mellitus. Data yang dikumpulkan adalah data
kadar glukosa darah. Data relaksasi dikumpukan dengan metode check Analisa bivariat
dilakukan menggunakan uji T-Paired Test. Hasil : dari penelitian dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh yang signifikan antara teknik relaksasi Benson dengan penurunan kadar
glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe II dengan kelompok eksperimen p = 0.000
Kesimpulan : Relaksasi Benson dapat menurunkan kadar gula darah sewaktu pada pasien
dengan Diabetes Mellitus Type II
Open AccessDiabetes melitus, gula darah sewaktu, relaksasi Benson
Thesis•2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Teknik relaksasi nafas dalam adalah teknik yang digunakan untuk menghilangkan nyeri dengan cara menarik nafas melalui hidung, dan menghembuskan nafas secara perlahan melalui mulut. Hasil studi yang dilakukan oleh Basri, (2019) menunjukkan 90% pasien pre operasi mengalami kecemasan. Kecemasan mengakibatkan peningkatan denyut jantung, peningkatan frekuensi nafas, peningkatan tekanan darah. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi. Metode: Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pre experimental design yang diperluas dengan rancangan one group pretest- posttest. Pengambilan sample adalah purposive sampling melibatkan 37 responden. Data dianalisis menggunakan uji wilcoxon, instrumen penelitian berupa kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety And Information Scale (APAIS). Hasil: Karakteristik responden pre operasi yang mengalami kecemasan lebih tinggi pada usia lansia (24,3%), sebagian besar jenis kelamin perempuan (59,5%), menurut tingkat pengetahuan pasien kecemasan lebih tinggi pada pasien yang belum pernah operasi (67,6%) dan mayoritas responden lulusan SMA (29,8%). Uji perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi didapatkan P-Value 0,001. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi, dengan nilai p-value 0,001 dan mean 0,8108
Open AccessTeknik Relaksasi Nafas Dalam, Kecemasan, Pre Operasi
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Menurut WHO (World Health Organization) memperkirakan jumlah penderita DM akan meningkat sebanyak 150%, dengan usia penderita berkisar antara 35-64 tahun pada 25 tahun yang akan datang. Prevelensi diabetes akan diperkirakan meningkat seiring penambahan umur penduduk menjadi 19,9% atau 111,2 juta orang pada umur 65-79 tahun. Berdasarkan data yang didapatkan di Puskesmas Setia Mekar pada tahun 2021 jumlah penderita diabetes melitus mengalami peningkatan sebanyak 707 kasus atau sekitar (1,24%) dari total penduduk. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian relaksasi progesif terhadap kadar glukosa darah sewaktu pada lansia diabetes melitus tipe II di Puskesmas Setia Mekar. Metode: Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pre eksperimental design dengan rancangan One Group Pretest-Posttest, yaitu jenis penelitian yang melibatkan satu kelompok subjek, dimana responden diberikan perlakuan dan akan di uji dengan cara membandingkan hasil sebelum dan setelah diberikan perlakuan. Populasi pada penelitian sebanyak 32 lansia di Puskesmas Setia Mekar dengan menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan analisis data menggunakan Paired Sample T Test. Hasil: Hasil penelitian ini menjukan ada pengaruh terapi relaksasi progresif terhadap kadar gula darah sewaktu pada lansia dengan P-value (0,000). Kesimpulan: Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu terdapat Pengaruh Terapi Relaksasi Progesif Terhadap Kadar Gula Darah Sewaktu Pada Lansia DM Tipe II Di Puskesmas Setia Mekar.
Open AccessDiabetes melitus, Lansia, Relaksasi Progresif
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus adalah penyakit serius atau kronis saat insulin didalam tubuh tidak bisa digunakan secara efektif atau saat insulin. Berdasarkan data Internasional Diabetes Federation (Ogurtsova et al. 2022) prevalensi Diabetes mellitus tahun 2021 di Indonesia yaitu sekitar 19,5 juta jiwa, indonesia berada di peringkat ke-5 dari 10 negara dengan penyandang DM terbesar. Perawatan pasien dengan gula darah tinggi dapat dilakukan secara nonfarmakologi. Salah satunya yaitu menggunakan metode relaksasi otot progresif dan relaksasi autogenik. Relaksasi otot progresif ini mengajarkan orang untuk beristirahat secara efektif dan mengurangi ketegangan pada tubuh sedangkan relaksasi autogenik merupakan suatu metode yang bersumber dari diri sendiri dan kesadaran tubuh dengan mengendalikan ketegangan otot. Penelitian ini menggambarkan pengaruh relaksasi otot progresif dan relaksasi autogenik terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien dengan diabetes melitus. Penelitian ini menggunakan metode pre test dan post test desaign. Hasil studi menunjukkan bahwa dari beberapa literature tentang relaksasi otot progresif dan relaksasi autogenik didapatkan bahwa intervensi ini sangat efektif untuk pasien diabetes melitus dan dapat digunakan menjadi intervensi pendamping pada DM.
Open AccessDiabetes Melitus; relaksasi otot progresif; Relaksasi Autogenik
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit ditandai dengan adanya hiperglikemia akibat sekresi insulin yang tidak
memadai, ketidaknormalan kadar gula darah diatas 200 mg/dL. Terapi yang diberikan adalah kombinasi farmakologi dengan non farmakologi yaitu terapi relaksasi otot progresif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RS Harapan Bunda Jakarta. Jenis penelitian quasy eksperiment dengan desain penelitian one grup pre test – post test design kelompok intervensi kadar gula darah. Populasi 30 orang, sample 30. Rata-rata nilai kadar gula darah pada pre test adalah 1,37 dengan standar deviasi
,490. Pada posttest nilai rata-rata adalah 1,00 dengan standar deviasi ,000. Hasil uji statistik didapatkan nilai ,000 maka dapat disimpulkan ada pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus tipe 2 di RS Harapan Bunda Jakarta. Kesimpulan dan Saran tehnik relaksasi otot progresif terbukti memiliki pengaruh terhadap kadar gula darah, dan disarankan bagi institusi RS selain memberikan terapi farmakologi bisa dikombinasikan menggunakan terapi non farmakologi relaksasi otot progresif.
Open AccessDiabetes Melitus, kadar gula darah, terapi relaksasi otot progresif
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Ulkus diabetikum adalah ulkus di bawah pergelangan kaki karena berkurangnya sirkulasi kapiler atau arteri,neuropati dan
kelainan bentuk kaki ( Robberstad et al.,2017) . Relaksasi genggam jari adalah cara yang mudah untuk mengelola emosi dan kecerdasan emosional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Terapi Relaksasi Ganggam Jari Terhadap Tingkat Nyeri Post Debridement Ulkus Diabetes Melitus 2 di RS Harapan Bunda Jakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian desain pre-eksperiment one group pre-test-posttest. Desain ini melibatkan satu kelompok yang diberi pre-test (O), diberi treatment (X) dan diberi post-test. Keberhasilan treatment ditentukan dengan membandingkan nilai pre-test dan nilai post-testdimana populasinya adalah penderita DM type 2 dengan post op debridemen dengan menggunakan sistem total sampling dimana minimal jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 orang saat pre dan post test. Hasil penelitian didapatkan karakteristik responden usia 46 tahun – 55 tahun didapatkan 22 responden (73,3%), jenis kelamin perempuan 17 responden (56,7%), pendidikan SMA 22 responden (73,3%). Hasil skala nyeri sebelum dilakukan tindakan terapi relaksasi genggam jari terhadap tingkat nyeri post debridement ulkus diabetes melitus tipe 2 mayoritas berat 22 responden (73,3%). Diketahui skala nyeri setelah dilakukan tindakan terapi relaksasi genggam jari terhadap tingkat nyeri post debridement ulkus diabetes melitus tipe 2 mayoritas nyeri sedang 18 responden (60%). Kesimpulan ada pengaruh terapi relaksasi genggam jari terhadap penurunan nyeri post debridement ulkus diabetes melitus tipe 2 Di RS Harapan Bunda Jakarta P-Value 0,000 >0,05. Peneliti menyarankan agar penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan dan sumber dalam penelitian sejenis dengan tehnik penelitian yang berbeda disertai penambahan variabel penelitian.
Open AccessDiabetes Melitus, luka ulkus, tehnik relaksasi genggam jari