Thesis•2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Anestesi spinal merupakan salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan pada berbagai prosedur pembedahan karena memiliki onset kerja yang cepat, memberikan analgesia yang adekuat, serta risiko sistemik yang relatif lebih rendah dibandingkan anestesi umum. Namun demikian, anestesi spinal dapat menimbulkan beberapa efek samping, salah satunya adalah shivering. Shivering terjadi akibat gangguan mekanisme termoregulasi yang disebabkan oleh blokade simpatis sehingga terjadi vasodilatasi dan redistribusi panas dari inti tubuh ke perifer. Kondisi ini dapat meningkatkan konsumsi oksigen, menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien, serta berpotensi memengaruhi proses pemulihan pascaoperasi. Pemulihan motorik setelah anestesi spinal umumnya dinilai menggunakan Bromage Score yang menggambarkan kemampuan pasien dalam menggerakkan ekstremitas bawah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di Recovery Room RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 51 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Kejadian shivering diukur menggunakan Crossley & Mahajan Shivering Scale, sedangkan pemulihan motorik dinilai menggunakan Bromage Score. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami shivering dan mayoritas pasien mencapai pemulihan Bromage Score ≤ 2 jam. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian shivering dengan pemulihan Bromage Score pada pasien pasca anestesi spinal dengan nilai p = 0,433 (p > 0,05). Kesimpulan: Kejadian shivering tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemulihan Bromage Score pada pasien anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Saran: untuk peneliti selanjutnya menambah jumlah sampel serta mempertimbangkan variabel lain seperti suhu tubuh, durasi operasi, jenis obat anestesi, dan status fisik pasien untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor yang memengaruhi pemulihan motorik setelah anestesi spinal.
Open AccessAnestesi spinal, Shivering, Bromage Score, Pemulihan Motorik, Recovery Room
Thesis•2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Kecemasan merupakan kondisi psikologis tidak menyenangkan yang sering dialami oleh pasien ketika menghadapi prosedur pembedahan dengan anestesi spinal yang berdampak pada peningkatan tekanan darah serta kebutuhan tambahan obat sedatif. Upaya penanganan non-farmakologis Eye mask terbukti dapat menciptakan kondisi relaksasi dan menurunkan kecemasan. Tujuan : untuk mengetahui pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor visual analog scale for anxeity (VAS-A) di RS Sentra Medika cikarang. Metode : Penelitian ini menggunkan metode kuantitatif dengan pre experimental design tipe one group pretest–posttest design dan consecutive sampling sebagai teknik pengabilan sampel yang melibatkan 32 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) dan data dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Hasil : Analisis data perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi menggunakan uji wilcoxon menghasilkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 ( 0,05). Kesimpulan : terdapat pengaruh eye mask terhadap tingkat kecemasan pasien anestesi spinal di ruang intraoperasi menggunakan skor Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A).
Open AccessEye mask, Anestesi Spinal, Kecemasan, Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A), Intervensi Non-Farmakologis.
Thesis•2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: HIPOTENSI INTRAOPERATIF merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan anestesi spinal akibat blokade simpatis yang menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan arteri rata-rata (MAP). Identifikasi risiko sejak fase preoperatif penting untuk mencegah gangguan perfusi organ. DASI merupakan instrumen sederhana yang menilai kapasitas fungsional kardiopulmoner dan berpotensi digunakan sebagai indikator risiko hemodinamik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran DASI sebagai prediktor risiko HIPOTENSI INTRAOPERATIF pada pasien dengan anestesi spinal di IBS RSUD Bayu Asih Kabupaten Purwakarta. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 36 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Skor DASI dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Kejadian hipotensi ditentukan berdasarkan MAP 70 mmHg. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,03. Hasil Penelitian: Sebagian besar responden memiliki skor DASI kategori rendah. Kejadian hipotensi intraoperatif ditemukan pada 22,2% responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara skor DASI dan kejadian HIPOTENSI INTRAOPERATIF dengan nilai signifikansi p = 0,03 (p 0,05). Kesimpulan: Skor DASI berhubungan signifikan dengan kejadian hipotensi intraoperatif pada pasien dengan anestesi spinal. Pasien dengan skor DASI rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipotensi. Saran: DASI dapat digunakan sebagai alat skrining preoperatif untuk membantu perencanaan manajemen hemodinamik pada anestesi spinal.
Open AccessDASI, HIPOTENSI INTRAOPERATIF, Anestesi Spinal, Kapasitas
Fungsional, MAP
Thesis•2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Kecemasan pre operasi merupakan respon psikologis yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan, termasuk pada prosedur dengan teknik anestesi spinal. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien seperti peningkatan tekanan darah, denyut jantung, serta mempengaruhi jalannya tindakan anestesi dan proses pemulihan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menurunkan kecemasan adalah dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal di RSUD Sekarwangi Sukabumi Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 39 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dengan skala Likert dan kuesioner tingkat kecemasan APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh dukungan keluarga dalam kategori baik (79,2%) dan mengalami tingkat kecemasan ringan(87,3%( hingga sedang. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (p 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal. Dukungan keluarga yang baik berperan dalam membantu menurunkan tingkat kecemasan pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan.
Open AccessKata kunci: Dukungan keluarga, Kecemasan, Pre anestesi, Anestesi spinal
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Kecemasan pre operasi merupakan respon psikologis yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan, termasuk pada prosedur dengan teknik anestesi spinal. Kecemasan yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien seperti peningkatan tekanan darah, denyut jantung, serta mempengaruhi jalannya tindakan anestesi dan proses pemulihan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menurunkan kecemasan adalah dukungan keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal di RSUD Sekarwangi Sukabumi Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 39 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dengan skala Likert dan kuesioner tingkat kecemasan APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memperoleh dukungan keluarga dalam kategori baik (79,2%) dan mengalami tingkat kecemasan ringan(87,3%( hingga sedang. Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (p 0,05), yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre anestesi spinal. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada pasien pre anestesi dengan teknik anestesi spinal. Dukungan keluarga yang baik berperan dalam membantu menurunkan tingkat kecemasan pasien sebelum menjalani tindakan pembedahan.
Open AccessKata kunci: Dukungan keluarga, Kecemasan, Pre anestesi, Anestesi spinal
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Hipotensi merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat anestesi spinal dan dapat memicu Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) melalui hipoperfusi pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ). PONV merupakan komplikasi pasca operasi yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan ketidaknyamanan pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV di ruang Recovery Room Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 31 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi tekanan darah dan kejadian PONV dalam 24 jam pasca operasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara hipotensi akibat anestesi spinal dengan kejadian PONV p-value = 0.002 (p 0,05). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa pasien yang mengalami hipotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami PONV. Diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan hipotensi secara optimal untuk menurunkan risiko PONV dan meningkatkan kualitas pelayanan pasca operasi.
Open AccessHipotensi, Anestesi Spinal, PONV, Recovery Room
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi.
Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank.
Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48).
Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering.
Open AccessLama Operasi, Indeks Massa Tubuh, Shivering, Anestesi Spinal
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipotermi adalah masalah yang terjadi setelah pembedahan, hipotermi
terjadi karena agen dari obat anestesi menekan laju metabolisme oksidatif yang
menghasilkan panas tubuh sehinga mengganggu regulasi panas tubuh, komplikasinya dapat
muncul selama penyembuhan pasca anestesi umum maupun regional. Pembedahan dengan
anestesi tulang belakang yang berkepanjangan akan meningkatkan terpaparnya tubuh
dengan suhu dingin sehingga menyebabkan perubahan temperatur tubuh.Tujuan:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca
spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian
observasional analitik dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian
cross sectional yang melibatkan sebanyak 36 responden pasca anestesi spinal dengan
teknik pengambilan sampel purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah
analisis univariat yaitu deskriptif dan analisis bivariat yang digunakan adalah Spearman
Rank. Hasil: Karaktristik responden yang menjalani operasi menggunakan spinal anestesi
dengan durasi sedang lebih didominasi, dengan total 30 responden (83.3%), penelitian ini
juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami hipotermi ringan setelah
menjalani anestesi spinal, dengan total 22 responden (61.1%), terdapat keeratan hubungan
lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi dengan uji
korelasi Spearman Rank menujukkan nilai sig (2-tailed) atau P-Value adalah 0.000 <0.05
dengan nilai korelasi koefisien -0.795. Kesimpulan: Temuan ini mendukung teori yang
mana lama operasi berhubungan dengan hipotermi pasca anestesi spinal di RSUD
Kabupaten Bekasi.
Open AccessLama Operasi, Hipotermi, Anestesi Spinal
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang:.Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal
Metode: Ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation
Hasil: Mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p < 0,003
Kesimpulan: Terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi.
Open AccessLevobupivacaine, Hipotensi, Pasien Anestesi Spinal
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Hipotermi adalah masalah yang terjadi setelah pembedahan, hipotermi terjadi karena agen dari obat anestesi menekan laju metabolisme oksidatif yang menghasilkan panas tubuh sehinga mengganggu regulasi panas tubuh, komplikasinya dapat muncul selama penyembuhan pasca anestesi umum maupun regional. Pembedahan dengan anestesi tulang belakang yang berkepanjangan akan meningkatkan terpaparnya tubuh dengan suhu dingin sehingga menyebabkan perubahan temperatur tubuh.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang melibatkan sebanyak 36 responden pasca anestesi spinal dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah analisis univariat yaitu deskriptif dan analisis bivariat yang digunakan adalah Spearman Rank. Hasil: Karaktristik responden yang menjalani operasi menggunakan spinal anestesi dengan durasi sedang lebih didominasi, dengan total 30 responden (83.3%), penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami hipotermi ringan setelah menjalani anestesi spinal, dengan total 22 responden (61.1%), terdapat keeratan hubungan lama operasi dengan hipotermi pasca spinal anestesi di RSUD Kabupaten Bekasi dengan uji korelasi Spearman Rank menujukkan nilai sig (2-tailed) atau P-Value adalah 0.000 0.05 dengan nilai korelasi koefisien -0.795. Kesimpulan: Temuan ini mendukung teori yang mana lama operasi berhubungan dengan hipotermi pasca anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi.
Open AccessKata Kunci: Lama Operasi, Hipotermi, Anestesi Spinal
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal. Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation. Hasil penelitian mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p 0,003. Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi.
Open AccessHipotensi, Levobupivacaine, Pasien Anestesi Spinal
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Latar Belakang:.Pembedahan merupakan prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka. Anestesi spinal adalah menyuntikkan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid. Levobupivacaine isobarik 10 mg dianggap efektif untuk anestesi spinal dengan efek samping lebih sedikit dibandingkan bupivacaine, termasuk toksisitas yang lebih rendah. Penggunaan levobupivacaine juga dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Hipotensi yang tidak mendapatkan penanganan cepat dan tepat dapat menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran, aspirasi pulmonal, depresi pernapasan dan henti jantung. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hipotensi pasca anestesi spinal untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara pemberian anestesi spinal levobupivacaine dengan kejadian hipotensi pada pasien yang menjalani anestesi spinal Metode: Ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional dengan rancangan cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 33 responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi tanda dan gejala hipotensi pada pasien pre spinal dan lembar observasi anestesi.Analisis data menggunakan uji sperman Rank correlation Hasil: Mayoritas responden mengalami hipotensi sebanyak 21 responden (63,6%) dan mayoritas mengalami penurunan TD ≤ 20% yaitu sebanyak 21 orang (63.6%). Hasil dari analisis spearman rank didapatkan nilai (r) sebesar 0,045 dan p 0,003 Kesimpulan: Terdapat hubungan siginifikan antara pemberian spinal anastesi levobupivacaine dengan kejadian hipotensi. Kata Kunci: Levobupivacaine, Hipotensi, Pasien Anestesi Spinal ABSTRACT Background : Surgery is a medical procedure that begins with an incision to open an area of the body and ends with suturing to close the wound. Spinal anesthesia involves injecting a local anesthetic drug into the subarachnoid space. Levobupivacaine isobaric 10 mg is considered effective for spinal anesthesia with fewer side effects than bupivacaine, including lower toxicity. The use of levobupivacaine may also cause side effects such as hypotension. Hypotension that is not treated quickly and appropriately can lead to decreased consciousness, pulmonary aspiration, respiratory depression and cardiac arrest. Therefore, it is important to understand the factors that influence hypotension after spinal anesthesia to improve patient safety during surgical procedures. Objective: To determine the relationship between levobupivacaine spinal anesthesia administration and the incidence of hypotension in patients undergoing spinal anesthesia. Methods: This is a quantitative study with a correlational type of research with a cross-sectional study design. The sampling technique used was consecutive sampling and obtained 33 respondents. The measuring instrument used in this study used an observation sheet for signs and symptoms of hypotension in pre-spinal patients and an anesthesia observation sheet.Data analysis using the Sperman Rank correlation test Results: The majority of respondents experienced hypotension as many as 21 respondents (63.6%) and the majority experienced a decrease in BP ≤ 20%, namely 21 people (63.6%). The results of the spearman rank analysis obtained a value (r) of 0.045 and p 0.003. Conclusion: There is a significant association between the administration of levobupivacaine spinal anesthesia and the incidence of hypotension. Keywords: Levobupivacaine, Hypotension, Spinal Anesthesia Patients
Open AccessKata Kunci: Levobupivacaine, Hipotensi, Pasien Anestesi Spinal
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi. Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank. Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48). Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering. Background Anesthesia is a field of medical discipline that knows how to dispel a taste, be it pain, fear or discomfort. The length of surgery is the length of time the patient takes for surgery, starting from the time the patient is transferred to the operating table until it is moved to the recovery room . Body Mass Index is a simple tool or way to monitor the nutritional status of adults, especially those related to underweight and overweight. Shivering/shivering is one of the side effects of anesthesia in surgical patients. Investigator Objectives: The general objective of this study is to determine the Relationship between Surgery Length and Body Mass Index and Shivering Incidence in Post-Spinal Anesthesia Patients in the Recovery Room.At the Bekasi Regency Hospital Method: This study is a quantitative method and applies techniques to determine the relationship between independent variables (length of surgery and body mass index) and variable dependent, namely (occurrence of shivering after spinal anesthesia in the recovery room of Bekasi Regency Hospital) Results : From the results obtained using the spearmans rho test x, the results found in the spearmans rho test obtained a significance value of 0.0000.05 which shows that there is a shivering relationship. Conclusion: The category of this study was obtained the body mass index that had the most influence on the incidence of shivering, namely the thin category of 28 people (70.0%) because a P-value of 0.05 was obtained. Shivering
Open AccessLama Operasi, Indeks Massa Tubuh, Shivering, Anestesi Spinal
Keywords : length of surgery, body mass index, with shivering incidence
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang: Anestesi spinal (Subarakhnoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah vetebra L2-L3 atau L3-L4. tindakan anestesi spinal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari pengaturan suhu tubuh yang akan menyebabkan penurunan suhu inti tubuh sehingga menyebabkan shivering yang berdampak pada penurunan batas pemicu vasokontriksi dan shivering sekitar 0,6°C. Insiden kejadian shivering biasanya mencapai sekitar 65% pasca anestesi. Tujuan Peneliti : Tujuan umum peneliti ini adalah untuk mengetahui hubungan lama operasi dan indeks massa tubuh dengan kejadian shivering pada pasien pasca spinal anestesi di Ruang Recovery Room di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan corss sectional. Tehnik pengambilan sampel penelitian ini dengan purposive sampling sebanyak 40 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi yang berisi tentang lama operasi, indeks massa tubuh (IMT) dan shivering. Analisis data dilakukan secara univariat dan menggunakan uji-spearman rank. Hasil: Dari hasil penelitian didaptkan sebagian besar dengan lama operasi kejadian shivering pada derajat 4 sebanyak 34 (85%), sedangkan IMT kategori kurus kejadian shivering sebanyak 28 responden (70%). Hasil uji sperman rank menunjukan bahawa ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering dengan nilai p-value (0,001), sedangkan lama operasi dengan kejadian shivering tidak signifikan dengan p-value (0,48). Kesimpulan: Ada hubungan antara IMT dengan kejadian shivering. Namun, pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara lama operasi dengan kejadian shivering.
Open AccessLama Operasi, Indeks Massa Tubuh, Shivering, Anestesi Spinal
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Tindakan pembedahan dengan spinal anestesi dapat menimbulkan ancaman tubuh, integritas serta
jiwa seseorang. Kecemasan yang dialami pasien yang direncanakan pembedahan dapat terjadi karena
kurang pengetahuan tentang prosedur pembiusan yang akan dijalani. Kecemasan yang dialami pasien
dapat memberikan efek kegelisahan dan mempengaruhi kardiovaskular yang dapat mengganggu
proses pembedahan. Kecemasan adalah suatu perasaan subyektif yang dialami seseorang terutama
oleh karena adanya pengalaman baru, termasuk pada pasien yang mengalami tindakan invasif seperti
pembedahan. Kecemasan pre operasi merupakan suatu respon antisipasi terhadap suatu pengalaman yang dapat dianggap pasien sebagai suatu ancaman terhadap perannya dalam hidup, integeritas tubuh,
atau bahkan kehidupan itu sendiri. Pendampingan layanan spiritual pada pasien pre operasi
merupakan sebuah intervensi dari layanan spiritual yang di tujukan pada pasien yang mengalami
kecemasan yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan emosi, pasien mampu memaknai
kondisinya, Tujuan Penelitian : Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
pengaruh pendampingan layanan spiritual: Do'a terhadap tingkat kecemasan pasien muslim pre
operasi anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Desain penelitian yang
dipakai pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan pre experimental design yang diperluas dengan
rancangan one grup pretest-posttest. Jumlah sampel 30 Responden dengan Teknik kuesioner APAIS
(Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale) dan menggunakan uji statistik Wilcoxon.
Hasil Penelitian : didapatkan P-Value 0,001 (P-Value<0,05). Sehingga hasil ini menunjukan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah pemberian
pendampingan layanan spiritual pasien muslim pre operasi. Berdasarkan hasil penelitian pengaruh
pendampingan layanan spiritual doa terhadap tingkat kecemasan pasien muslim pre operasi dengan anestesi spinal di RSUD Kabupaten Bekasi terhadap 30 responden dapat disimpulkan sebagai berikut: Karakteristik responden pre operasi yang mengalami kecemasan menurut kategori usia, lebih tinggi pada usia lansia, sedangkan menurut kategori tingkat jenis kelamin pasien yang mengalami
kecemasan lebih tinggi pada pasien laki-laki daripada perempuan. Ada perbedaan tingkat kecemasan pada pasien muslim pre operasi sebelum dan sesudah diberikan intervensi spiritual do’a. Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian pendampingan layanan spiritual doa terhadap tingkat kecemasan pasien muslim pre operasi dengan anestesi spinal.
Open AccessAnestesi Spinal, Kecemasan, Layanan Spiritual Doa, Muslim
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Anestesi spinal (subaraknoid) adalah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan
obat anestetik lokal ke dalam cairan serebrospinal di dalam ruang subaraknoid di daerah
vertebra L2-L3 atau L3-L4 dengan tujuan untuk mendapatkan anelgesi setinggi dermatom
tertentu dan relaksasi otot rangka. Hipotensi merupakan salah satu efek samping anestesia
spinal yang dilakukan pada wanita hamil dengan angka kejadian sekitar 80%. Efek
kardiovaskular akibat tindakan anestesia spinal berhubungan erat dengan level blockade
simpatis yang mencapai persarafan setinggi torakal 1 sampai lumbal 2 (T1–L2). Blokade
simpati akibat anestesia spinal menyebabkan dilatasi pembuluh darah sehingga menurunkan
resistensi pembuluh darah sistemik yang akan menyebabkan hipotensi. Tujuan Penelitian:
Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi intra operasi pada pembedahan sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi. Metode
Penelitian: Penelitian kuantitatif menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross
sectional dan desain penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment Design) dengan
rancangan Separate Sample Pretest-Posttest atau One Group Pretest Posttest. Jumlah
sampel 30 responden dengan teknik pengambilan sampel non probability sampling dengan
teknik accidental sampling (convenience sampling). Uji statistik menggunakan uji Chi
Square. Hasil Penelitian: Berdasarkan tekanan darah pasien sebelum tindakan anestesi
spinal didapatkan hasil bahwa 21 responden dengan tekanan darah normal (70,0%), 9
responden mengalami hipertensi (30,0%), berdasarkan kategori usia didapatkan hasil bahwa
pasien kategori remaja akhir sebanyak 8 (26,7%), usia dewasa awal sebanyak 18 (60,0%),
dan usia dewasa akhir sebanyak 4 (13,3%), berdasarkan klasifikasi ASA didapatkan hasil
bahwa pasien kategori ASA II sebanyak 23 (76,7%) dan ASA III sebanyak 7 (23,3%).
Berdasarkan hasil uji Chi Square, diperoleh nilai probabilitas (p-value) tekanan darah
sebelum tindakan anestesi spinal (0,035), usia (0,061), ASA (0,176). Artinya pada alpha 5%
terdapat pengaruh yang bermakna antara tekanan darah sebelum tindakan anestesi spinal
dengan tekanan darah setelah tindakan anestesi spinal di ruang maternal RSUD Kabupaten
Bekasi. Kesimpulan: Ada pengaruh anestesi spinal terhadap kejadian hipotensi pada pasien
intra operasi sectio caesarea di ruang maternal RSUD Kabupaten Bekasi.
Open AccessAnestesi Spinal, Hipotensi, Intra Operasi Sectio Caesarea
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Pembedahan adalah prosedur medis yang dimulai dengan sayatan untuk membuka area tubuh dan diakhiri dengan penjahitan untuk menutup luka, Anestesi spinal yang artinya jenis anestesi regional sebagai pilihan utama yang paling sering dipergunakan dibandingkan dengan anestesi general, sebab pengaruh anestesi general terhadap ibu serta bayi lebih besar dibandingkan menggunakan anestesi spinal. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh anestesi spinal terhadap hemodinamik Pre, Intra, Post pada pembedahan sectio caesarea. Di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Pinna Bekasi. Metode Penelitian : Pada karakteristik pasien termasuk pada data katagori, sedangkan skor hemodinamik data numerik. Di analisis data pada penelitian ini mengunakan descriptive statistics jika data terdistribusi frekuensi. Pada penelitian ini akan dilakukan uji normalitas data menggunakan kolmogorov smirnov dan shapiro-wilk jika hasil data uji normal > 0,05 terditribusi normal dan bila hasil data kurang dari < 0,05 tidak terditribusi normal. sehingga pada penelitian
ini apa bila hasil analisis data didapatkan 0,05 pada signifikansi data. Pada selanjutnya penelitian ini akan di uji hipotesis menggunakan uji hipotesis dengan menggunakan uji regresi linier sederhana, dengan nilai P signifikansi <0,05. Sehingga pada penelitian ini pre tidak diberikan anestesi spinal dan intra, post diberikan anestesi spinal. Hasil Penelitian : Usia 25 – 35 tahun berjumlah 18 responden (45,0%). Berat badan 60 - 85 berjumlah 29 responden (72,5%). Tinggi badan 140 - 155 berjumlah 29 responden (72,5%). Hipertensi YA berjumlah 4 responden (10,0%), TIDAK berjumlah 36 responden
(90,0%). Hasil analisis normalitas : Pre nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 26 responden, pre sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 22 responden (55,0%). Pre diastolik tinggi : (> 80 mmHg) berjumlah 32 responden (80,0%). Pre MAP dibagi normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 30 responden (75,0%). Intra nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 35 responden (87,5%). Intra sistolik tinggi : (> 121 mmHg) berjumlah 26 responden (65,0%). Intra diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 24 responden. Intra MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 35 responden. Post nadi normal : (60 - 100 kali/menit) berjumlah 38 responden (95,0%). Post sistolik normal : (90-120 mmHg) berjumlah
22 responden (55,0%). Post diastolik normal : (60 - 79 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Post MAP normal : (70 - 100 mmHg) berjumlah 29 responden (72,5%). Hasil analisis hipotesis : Hasil uji regresi linier diperoleh nilai significancy P=<,001 menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel hemodinamik dengan kejadian anestesi spinal. Nilai correlation coefficient P=,828 dinyatakan korelasi pengaruh antara variabel hemodinamik dengan variabel anestesi spinal memiliki pengaruh yang kuat. Kesimpulan : Ada pengaruh bahwa dari 40 responden yang mengalami kejadian anestesi spinal pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal mayoritas mengalami penurunan hemodinamik. Rumah Sakit PINNA Bekasi.
Open AccessAnestesi Spinal, Hemodinamik, Sectio Caesarea.
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Sectio caesarea (SC) merupakan operasi yang umum dan luas dilakukan pada wanita hamil dan prevalensi meningkat setiap tahun. Tekhnik anestesi spinal ataupun epidural merupakan tekhnik anestesi yang lebih banyak digunakan pada operasi sectio caesarea. Anestesi spinal memiliki potensi menyebabkan hipotensi pada ibu yang menjalani operasi sectio caesarea akibat blokade saraf simpatis tonus otot polos pembuluh darah yang berdampak terjadinya hipoksia dan acidosis fetus serta depresi neonatus. Tujuan: Tujuan dari pengabdian Masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam tindakan pembedahan Sectio Caesarea dan memberikan edukasi kepada pasien terkait tindakan operasi Sectio Caesarea menggunakan tehnik spinal. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui sosialisasi pemberian pemberian anestesi spinal terhadap tekanan darah pasien sectio caesarea. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang pemberian anestesi spinal terhadap tekanan darah pasien sectio caesarea. Kesimpulan Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman pasien mengenai pemberian anestesi spinal terhadap tekanan darah pasien sectio caesarea.
Open AccessTekanan darah, anestesi spinal, sectio caesarea
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Hipotensi akibat anestesi spinal merupakan masalah yang serius pada operasi sectio caesaria dengan insidensi yang tinggi, pemberian posisi miring kiri merupakan salah satu pencegahan untuk menurunkan insiden hipotensi. Tujuan: Tujuan dari pengabdian Masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam tindakan pembedahan sectio caesarea dan memberikan edukasi kepada pasien terkait pemberian intervensi posisi miring kiri terhadap peningkatan tekanan darah setelah anestesi spinal pada pasien sectio caesaria. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui sosialisasi pemberian intervensi posisi miring kiri terhadap peningkatan tekanan darah setelah anestesi spinal pada pasien sectio caesaria. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang pemberian anestesi spinal terhadap tekanan darah pasien sectio caesarea. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman pasien mengenai pemberian anestesi spinal terhadap tekanan darah pasien sectio caesarea.
Open AccessPosisi miring kiri, anestesi spinal, sectio caesarea
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Anestesi spinal pada sectio caesarea memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap keselamatan ibu dan bayi, seperti hipotensi dan bradikardi yang dapat menyebabkan aliran darah ke plasenta terganggu dan dapat menyebabkan depresi janin. Tujuan: Pengabdian Masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam Sosialisasi Pemberian Anestesi Spinal Terhadap Heart Rate Pasien Sectio Caesarea Di RS Sentra Medika Cikarang Tahun 2022. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui Sosialisasi Pemberian Anestesi Spinal Terhadap Heart Rate Pasien Sectio Caesarea. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang Sosialisasi Pemberian Anestesi Spinal Terhadap Heart Rate Pasien Sectio Caesarea. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman pasien mengenai Sosialisasi Pemberian Anestesi Spinal Terhadap Heart Rate Pasien Sectio Caesarea Di RS Sentra Medika Cikarang Tahun 2022.
Open AccessSectio Caesarea, Anestesi Spinal, Heart Rate