Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

89 hasil
Penulis: Aprilina Sartika

Hubungan Pengetahuan Orang Tua dan Kepatuhan Tranfusi Darah Dengan Kualitas Hidup Anak Pasien Penderita Thalassemia di Sentra Medika Hospital Cikarang Tahun 2025

Book2026Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Thalassemia merupakan penyakit genetik kronis yang memerlukan transfusi darah rutin seumur hidup dan dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien anak. Dalam pengelolaannya, pengetahuan orang tua dan kepatuhan terhadap transfusi darah berperan penting dalam mencegah komplikasi serta meningkatkan kualitas hidup anak penderita thalasemia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan orang tua dan kepatuhan transfusi darah dengan kualitas hidup pasien anak penderita thalasemia di Sentra Medika Hospital Cikarang tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dan sampel penelitian adalah seluruh orang tua pasien anak penderita thalasemia yang melakukan kontrol rutin di Unit Thalasemia sebanyak 51 responden, dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan PedsQL versi 4.0 untuk mengukur kualitas hidup anak. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat kuesioner pengetahuan orang tua, kuesioner kepatuhan transfusi darah, dan instrumen menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan orang tua dengan kualitas hidup pasien anak penderita thalasemia (p = 0,000), serta terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan transfusi darah dengan kualitas hidup pasien anak penderita thalasemia (p = 0,000). Kesimpulan: Anak dengan orang tua yang memiliki pengetahuan baik dan tingkat kepatuhan transfusi yang tinggi cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Open AccessThalasemia, pengetahuan orang tua, kepatuhan transfusi darah, kualitas hidup anak.
oai:ais:library-item:27742Lihat detail

Hubungan Pengguna Waktu Layar (Screen Time) Sebelum Tidur Dengan Kualitas Tidur Pada Remaja Usia Pertengahan di SMA Negeri 2 Cikarang Utara

Book2026Koleksi Perpustakaan

Remaja usia pertengahan termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan tidur karena adanya perubahan gaya hidup. Salah satunya yaitu kebiasaan yang sering terjadi adalah penggunaan waktu layar (screen time) sebelum tidur. Paparan cahaya dari layar gadget pada malam hari menghambat produksi hormon melatonin, sehingga berpotensi menurunkan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara screen time sebelum tidur dengan kualitas tidur pada remaja usia pertengahan di SMA Negeri 2 Cikarang Utara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendektan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari remaja berusia 14-16 tahun yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling, dengan jumlah responden sebanyak 80 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner screen time sebelum tidur dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden memiliki kebiasaan menggunakan gadget sebelum tidur serta mengalami kualitas tidur yang kurang baik. Hasil uji chisquare menunjukan nilai p-value sebesar 0.012 (p <0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara screen time sebelum tidur dengan kualitas tidur pada remaja usia pertengahan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa screen time sebelum tidur berhubungan dengan kualitas tidur remaja di SMA Negeri 2 Cikarang Utara. Oleh karena itu, remaja diharapkan dapat membatasi screen time sebelum tidur agar kualitas tidurnya menjadi lebih baik.

Open Accessscreen time, kualitas tidur, remaja pertengahan.
oai:ais:library-item:27739Lihat detail

Hubungan Antara Tingkat Smartphone Addiction Dengan Tingkat Nyeri Pergelangan Tangan Mahasiswa Profesi Ners di Universitas Medika Suherman

Book2026Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Smartphone addiction adalah ketergantungan akibat penggunaan smartphone berlebihan yang dapat menyebabkan nyeri pergelangan tangan karena gerakan berulang dan postur tidak ergonomis. Mahasiswa profesi ners termasuk kelompok remaja akhir yang berisiko tinggi mengalami kondisi ini akibat tuntutan akademik dan intensitas penggunaan smartphone yang tinggi dalam proses pembelajaran,komunikasi maupun hiburan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat smartphone addiction dengan tingkat nyeri pergelangan tangan pada mahasiswa Profesi Ners di Universitas Medika Suherman. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dan desain analitik korelasional. Sampel penelitian sebanyak 42 mahasiswa Profesi Ners di Universitas Medika Suherman yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV) dan Numerical Rating Scale (NRS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Universitas Medika Suherman (No: 005146/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2026). Hasil: Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,002 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat smartphone addiction dengan tingkat nyeri pergelangan tangan pada mahasiswa Profesi Ners di Universitas Medika Suherman. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat smartphone addiction dengan tingkat nyeri pergelangan tangan pada mahasiswa Profesi Ners di Universitas Medika Suherman. Saran: Mahasiswa diharapkan membatasi durasi penggunaan smartphone dan menerapkan postur ergonomis untuk mencegah nyeri pergelangan tangan melalui kebiasaan penggunaan yang sehat dan bijak dengan melakukan istirahat berskala dalam penggunaan smartphone . Peneliti selanjutnya disarankan mempertimbangkan faktor lain serta mengembangkan penelitian dengan variabel dan metode yang lebih beragam.

Open AccessKecanduan Smartphone, Nyeri Pergelangan Tangan, Remaja
oai:ais:library-item:27734Lihat detail

Pengaruh Edukasi Menggunakan Audio-Visual Terhadap Pengetahuan Pencegahan Stunting Pada Ibu Primipara di Desa Sukamaju Kecamatan Tambelang

Book2026Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Indonesia masih menghadapi permasalahan stunting pada balita yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan dan perkembangan anak, dengan prevalensi nasional sebesar 19,8%. Kabupaten Bekasi merupakan salah satu wilayah prioritas penurunan stunting, dan di wilayah kerja Puskesmas Tambelang prevalensi stunting tercatat sebesar 0,66%, sementara ibu primipara masih memiliki keterbatasan pengalaman dan pengetahuan dalam perawatan bayi. Edukasi kesehatan menggunakan media audio-visual dipilih karena mampu menyampaikan informasi secara menarik dan mudah dipahami oleh ibu primipara. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi kesehatan berbasis media audio-visual terhadap pengetahuan pencegahan stunting pada ibu primipara di Puskesmas Tambelang. Penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi eksperimen dengan rancangan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 35 ibu primipara yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner sebelum dan sesudah intervensi dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank. Hasil: penelitian menunjukkan seluruh responden memiliki Tingkat pengetahuan kurang pada pretest (100%). Setelah intervensi, terjadi peningkatan pengetahuan dengan 65,7% responden berkategori baik dan 34,3% cukup, serta nilai p = 0,000. Kesimpulan: Edukasi kesehatan berbasis media audio-visual terbukti efektif meningkatkan pengetahuan ibu primipara dan relevan sebagai strategi pencegahan stunting. Saran: Penelitian ini merekomendasikan peningkatan edukasi pencegahan stunting bagi ibu primipara sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan melalui penerapan media audio-visual secara berkelanjutan di Puskesmas, Posyandu, dan tingkat desa. Selain itu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain dengan kelompok kontrol, jumlah sampel lebih besar, serta mengkaji perubahan sikap dan perilaku dengan kombinasi metode edukasi.

Open AccessStunting, Ibu Primipara, Edukasi Kesehatan, Media Audio-Visual
oai:ais:library-item:27738Lihat detail

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Aktivitas Fisik Dengan Upaya Pencegahan Hipertensi Pada Remaja di MAN 2 Setu Bekasi

Book2026Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipertensi kondisi tekanan darah yang melebihi batas normal >120/80 MmHg merupakan Penyakit dengan prevelensi yang cukup tinggi secara global. Angka kejadian hipertensi di dunia mencapai 1,28 miliar di Indonesia mencapai 8,3%, Jawa Barat mencapai 39,6%, Prevelensi di Kabupaten Bekasi mencapai 12.545 penderita hipertensi pada Laki-laki sebanyak 6,0% dan Perempuan sebanyak 4,7%. Tingkat Pengetahuan dan Aktivitas fisik dengan upaya pencegahan hipertensu pada remaja di MAN 2 Setu Bekasi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan aktivitas fisik dengan upaya pencegahan hipertensi pada remaja di MAN 2 Setu Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah MAN 2 Setu Bekasi. Teknik sampling menggunakan Purposive Sampling dengan sampel 65 responden. Populasi remaja kelas XII di MAN 2 Setu Bekasi. Data berupa kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil: Hasil analisis univariat sebagian besar memiliki jenis kelamin perempuan 46 orang (70,8%) Pada usia 17 tahun sekitar 42 orang (64,4%) dan Tingkat pengetahuan baik 44 orang (67,7%) Aktivitas fisik sedang sebanyak 37 orang (56,9%) sementara upaya pencegahan hipertensi cukup 48 orang (73,8%). Hasil Bivariat Tingkat Pengetahuan dengan Upaya Pencegahan Hipertensi nilai P-Value 0,001<0,05 dan OR=0.144 yang menunjukan ada hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan upaya pencegahan hipertensi sedangkan frekuensi aktivitas fisik nilai P-Value 0,001<0,05 dan OR=7.150 menunjukan ada hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan upaya pencegahan hipertensi. Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan aktivitas fisik dengan upaya pencegahan hipertensi pada remaja di MAN 2 Setu Bekasi.

Open AccessHipertensi, Tingkat Pengetahuan, Aktivitas Fisik, Upaya Pencegahan Hipertensi.
oai:ais:library-item:27720Lihat detail

Efektivitas Isometric Handgrip Exercise Terhadap Penurunan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada Lansia Dengan Hipertensi di Posyandu Lansia Kemuning Desa Sukahati

Book2026Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Lanjut usia merupakan tahap akhir kehidupan yang ditandai dengan penurunan fungsi fisiologis tubuh yang meningkatkan risiko hipertensi akibat berkurangnya elastisitas pembuluh darah. Hipertensi sering kali tidak bergejala, namun berisiko menyebabkan komplikasi serius. Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan melalui terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Namun, terapi farmakologis dalam jangka panjang berisiko menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif terapi nonfarmakologis. Isometrik Handgrip Exercise merupakan salah satu jenis terapi nonfarmakologis yang bekerja melalui kontraksi otot statis untuk meningkatkan shear stress dan merangsang pelepasan nitric oxide (NO), sehingga menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan penurunan tekanan darah. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas Isometrik Handgrip Exercise terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada lansia dengan hipertensi di Posyandu Lansia Kemuning Desa Sukahati. Metode: Penelitian ini menggunakan Quasi eksperimental designs dengan rancangan one group pre-post pada 20 lansia hipertensi berusia 60–74 tahun (lansia awal). Hasil: Uji Wilcoxon menunjukan nilai (p = 0,001 < 0,05) baik tekanan darah sistolik maupun diastolik. Kesimpulan: Isometrik Handgrip Exercise efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada lansia dengan hipertensi di Posyandu Lansia Kemuning Desa Sukahati.

Open AccessHipertensi, Lansia, Tekanan Darah, Isometrik Handgrip Exercise
oai:ais:library-item:27709Lihat detail

Hubungan Perilaku Self-Management Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Rawat Jalan Diabetes Melitus Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Sukatani Kabupaten Purwakarta Tahun 2021

Book2026Koleksi Perpustakaan

Prevalensi Diabetes Melitus (DM) didiagnosis dokter penduduk umur > 15 tahun di Provinsi Jawa Barat sebanyak 1,7 %, sedangkan di Kabupaten Purwakarta sebanyak 1,81 % (Riskesdas Prov. Jawa Barat, 2018). Berapa masalah yang dapat timbul pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 ini dapat dikendalikan apabila pasien dapat menerapkan perilaku manajemen diri (self management) pada penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku self management dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan DM tipe 2 di Wilayah Puskesmas Sukatani pada Bulan Desember tahun 2020 sebanyak 92 orang. Jumlah sampel yang didapatkan dari hasil perhitungan adalah 48 pasien. Instrumen yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data variabel adalah kuesioner SDSCA (The Summary of Diabates Self-Care Activities. Analisis yang digunakan adalah uji statistik uji Chi-Square dengan derajat kepercayaan 95% ( α =0,05). Hasil penelitian membuktikan terdapat hubungan antara pola makan (p value = 0,003), aktifitas fisik (p value = 0,01), perawatan kaki (p value = 0,015), dan minum obat(p value = 0,02). Aktivitas self manajement secara rutin maka hal ini mampu memelihara kadar glukosa darah dalam rentang normal dan juga dapat mencegah untuk terjadinya komplikasi seperti penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, kebutaan dan lain-lain, sehingga memang benar bahwa aktivitas self manajement ini memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengelolaan penyakit diabetes.

Open AccessDiabetes Mellitus, Self Manajement DM, Kadar Gula
oai:ais:library-item:27689Lihat detail

Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Kejadian Miopia Pada Anak Usia 7-11 Tahun di JTEC Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta Timur

Book2025Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Prevalensi miopia pada anak-anak terus meningkat setiap tahunnya, termasuk di Indonesia. Miopia yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius seperti glaukoma, katarak, dan ablasi retina serta atrofi. Berdasarkan studi pendahulu di JTEC Rumah Sakit Harapan Bunda, prevalensi miopia meningkat dari 33% menjadi 67%. Tujuan : untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor genetik, jenis kelamin, aktivitas luar ruangan, dan penggunaan gadget dengan kejadian miopia pada anak usia 7-11 tahun di JTEC Rumah Sakit Harapan Bunda. Metode : Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 81 anak usia 7-11 tahun yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui membagian informed consent, serta kuesioner terkait faktor risiko. Kemudian, data dianalisis menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan komputer dengan program komputer. Hasil : penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara jenis kelamin dan kejadian miopia dengan nilai 0,007 (p <0,05). Faktor genetik nilai p = 0,002(p <0,05). Aktivitas luar ruangan nilai p = 0,039 (p <0,05). Penggunaan gadget dengan nilai p = 0,001(p<0,05). Kesimpulan : Sebagai upaya preventif dalam menekan prevalensi miopia di Rumah Sakit Harapan Bunda dan menunjukkan pentingnya memperhatikan riwayat genetik, perbedaan jenis kelamin, pengurangan penggunaan gadget.

Open AccessAktivitas Luar Ruangan, Faktor Genetik, Jenis Kelamin, Miopia, Penggunaan Gadget.
oai:ais:library-item:26564Lihat detail

Hubungan Efek Samping Kanker Stadium 2 Dengan Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara Berdasarkan Pengkajian Esas (Edmonton Symptom Assessment System) di Poli Kemoterapi Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong

Book2025Koleksi Perpustakaan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker payudara menyebabkan sekitar 670.000 kematian di seluruh dunia pada tahun 2022. Kanker ini merupakan jenis kanker yang paling umum di kalangan wanita di 157 dari 185 negara pada tahun yang sama. Sekitar 0,5-1% kasus kanker payudara terjadi pada pria. Pada tahun 2020, sekitar 45,4% dari 2,3 juta kasus kanker payudara yang didiagnosis secara global berasal dari Asia. Risiko terkena kanker payudara pada wanita Asia tertinggi terjadi antara usia 40-49 tahun, lalu mengalami penurunan atau stabil setelah usia 50 tahun. Angka kejadian kanker lebih tinggi di Asia Tenggara, dengan Republik Korea mencatat angka tertinggi sebesar 314 kasus per 100.000 penduduk. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) pada tahun 2022, angka kejadian kanker di Indonesia mencapai 136 kasus per 100.000 penduduk, menjadikan Indonesia berada di urutan kedelapan di Asia Tenggara. Pada tahun 2020, terdapat 396.914 kasus kanker baru dan 234.511 kematian akibat kanker di Indonesia. Sri Nowo Retno, MARS, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, melaporkan bahwa pada tahun 2021, terdapat 821 penderita kanker di Kota Bogor, dan semuanya telah menerima pelayanan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi adanya Hubungan efek samping kanker dengan kualitas hidup pasien kanker payudara berdasarkan pengakajian ESAS di poli kemoterapi Rs. Sentra Medika Cibinong. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian cross-sectional merupakan penelitian non eksperimental yang bertujuan untuk mempelajari dinamika korelasi antara efek samping kanker stadium 2 dan kualitas hidup pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi, berdasarkan pengkajian ESAS di Poli Kemoterapi RS Sentra Medika Cibinong. Metode ini dilakukan dengan cara pengumpulan data secara bersamaan pada saat yang bersamaan. Populasi dan sampel pada penelitian ini seluruh pasien Kanker Payudara Stadium 2 di poli Kemoterapi RS Sentra Medika Cibinong yang berjumlah 57 orang. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dan analisis data menggunakan chi square. Terdapat hubungan signifikan antara efek samping kanker dan kualitas hidup pasien kanker payudara dengan nyeri, kelelahan, mual, sesak nafas, nafsu makan berkurang, depresi, kecemasan dan gejala lainnya memiliki dampak yang lebih kuat terhadap kualitas hidup pasien (p < 0,05) dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara efek samping kanker dan kualitas hidup pasien kanker payudara dengan rasa kantuk (p > 0.05).

Open AccessEfek Samping Kanker, Pengkajian ESAS, Kualitas Hidup
oai:ais:library-item:26569Lihat detail

Pengaruh Teknik Surface Cooling Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Pasien Sepsis di Ruang ICU Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong

Book2025Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Sepis merupakan penyebaran bakteri ke seluruh tubuh melalui aliran darah dimana kondisi host mengalami infeksi yang sangat berat sehingga mengakibatkan kegagalan fungsi organ-organ tubuh berujung pada kematian. Pada saat bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh, tubuh akan merangsang sistem pertahanan tubuh yaitu dengan melepaskan pirogen yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Tujuan mengetahui pengaruh teknik Surface cooling terhadap penurunan suhu tubuh pada pasien sepsis. Metode: quasi eksperiment dengan two group pre test dan post test design. Populasi bejumlah 36 orang dengan metode purposive sampling Hasil: uji sample paired T-test dengan tingkat signifikan <0.05 menunjukan P value 0,000 (P value < 0,05) yang artinya terdapat pengaruh teknik surface cooling Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Pasien Sepsis Di Ruang ICU Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong. Kesimpulan: terdapat Pengaruh Teknik Surface cooling Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Pada Pasien Sepsis

Open AccessSepsis, Surface cooling, Suhu tubuh
oai:ais:library-item:26560Lihat detail

Efektifitas Perawatan Luka Menggunakan Minyak Virgin Oil Terhadap Luas Luka Decubitus Pada Pasien Tirah Baring di ICU RS Sentra Medika Cisalak Depok Jawa Barat 2025

Book2025Koleksi Perpustakaan

Pasien tirah baring yang mengalami imobilisasi dalam jangka panjang rentan terhadap luka decubitus akibat tekanan berkepanjangan pada sirkulasi darah. Luka decubitus dapat menyebabkan komplikasi serius seperti infeksi, anemia, Hipoalbumin hingga kematian. Berdasarkan data di ICU Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak, Depok, Jawa Barat, pada periode November 2024 hingga Januari 2025, tercatat 30 kasus luka decubitus dari total 118 pasien. Sementara, dengan perawatan luka menggunakan Virgin coconut oil (VCO) diketahui memiliki sifat antimikroba dan antiinflamasi, yang berpotensi mempercepat penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan kondisi luka decubitus sebelum dan sesudah intervensi menggunakan VCO, serta menganalisis efektivitas VCO dalam proses penyembuhan luka pada pasien tirah baring. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif melalui metode quasi-experimental dengan pendekatan one group pre-post test. Sampel terdiri dari 30 pasien tirah baring menggunakan teknik purposive sampling dan uji wilcoxon.. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi melalui langkahlangkah sebelum dan sesudah intervensi dengn intrumennya terdiri dari pasien tirah baring yang terdapat luka decubitus, minyak Virgin coconut oil (VCO), dan skala norton. Kemudian, data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara grade luka dekubitus sebelum dan setelah intervensi dengan nilai p = 0.001. Dari total 30 pasien, sebanyak 12 pasien (40%) mengalami perbaikan luka dekubitus, sementara 18 pasien (60%) tidak mengalami perubahan, dan tidak ada pasien yang mengalami peningkatan tingkat luka. Hasil ini mengindikasikan bahwa intervensi perawatan luka menggunakan Virgin coconut oil (VCO) terbukti efektif dan aman dalam membantu proses penyembuhan luka dekubitus pada pasien tirah baring.

Open AccessLuka Decubitus, Virgin coconut oil, Penyembuhan Luka, Pasien Tirah Baring
oai:ais:library-item:26553Lihat detail

Pengaruh Jalan Kaki Terhadap Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada Pasien Lansia Penderita Hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi Tahun 2025

Book2025Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan kondisi kronis yang umum terjadi pada kelompok lanjut usia dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti gangguan jantung, stroke, penyakit pembuluh darah tepi, serta kerusakan retina mata yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan (Kemenkes, 2022). Aktivitas jalan kaki secara rutin terbukti mampu membantu mencegah, mengontrol, dan menstabilkan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik, pada lansia pengidap hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aktivitas jalan kaki terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur, Bekasi, pada tahun 2025. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan quasi experimental model one group pre-test and post-test. Sampel terdiri dari 80 orang lansia yang memiliki riwayat hipertensi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon, yang menampilkan adanya perbedaan signifikan antara nilai tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi, dengan hasil p = 0,002 untuk sistolik dan p = 0,000 untuk diastolik (p < 0,05), sehingga hipotesis dinyatakan diterima. Dari temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa jalan kaki secara teratur memberikan dampak positif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia. Disarankan agar lansia melakukan jalan kaki minimal tiga kali seminggu selama 30 menit untuk membantu menjaga kestabilan tekanan darah mereka.

Open AccessTekanan Darah, Jalan Kaki, Hipertensi, Pasien Lansia.
oai:ais:library-item:26546Lihat detail

Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Obesitas Pada Pra Lansia di Desa Sukawijaya Wilayah Puskesmas Tambelang

Book2025Koleksi Perpustakaan

Latar belakang : Obesitas merupakan masalah kesehatan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan energi akibat pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik. Prevalensi obesitas pada kelompok pra lansia (usia 45-59 tahun) di Desa Sukawijaya Wilayah Puskesmas Tambelang, cukup tinggi yaitu sebanyak 72 pra lansia. Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas di Kota Bekasi mencapai 17,41%, sementara di Kabupaten Bekasi angkanya sebesar 10,17% (Kemenkes, 2019). Terkena penyakit tidak menular termasuk diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung lebih mungkin terjadi pada mereka yang kelebihan berat badan sebelum mencapai usia tua. Tujuan : Angka obesitas pada masyarakat Desa Sukawijaya yang belum berusia lanjut akan menjadi fokus penelitian ini. Metode Penelitian : Penelitian ini melibatkan 72 peserta dan menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan sampel lengkap. International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) digunakan untuk mengevaluasi aktivitas fisik, kuesioner digunakan untuk mengukur jenis, frekuensi, dan jumlah makanan yang dikonsumsi, dan indeks massa tubuh (IMT) digunakan untuk menentukan status obesitas. Uji Chi-Square digunakan untuk analisis data. Hasil : Pola makan berhubungan signifikan dengan obesitas (p=0,002) dan aktivitas fisik berhubungan signifikan dengan obesitas (p=0,011), menurut hasil penelitian. Kesimpulan : Temuan penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas di kalangan orang dewasa di Desa Sukawijaya berkorelasi dengan kebiasaan makan dan tingkat aktivitas fisik. Saran: Menerapkan pola makan yang seimbang, bergizi, dan berserat tinggi serta memperbanyak aktivitas fisik melalui olahraga ringan seperti jalan kaki atau senam, akan membantu para lansia di Desa Sukawijaya menjaga keseimbangan energi yang baik dan mencegah terjadinya obesitas.

Open AccessPola makan, aktivitas fisik, obesitas, pra lansia
oai:ais:library-item:26540Lihat detail

Pengaruh Brain Game: Bermain Puzzle Terhadap Fungsi Kognitif Pada Lansia di Panti Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Karawang

Book2025Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Lansia terbagi menjadi 4, yaitu orang paruh baya yang berusia 45 - 59 tahun, lanjut usia berusia 60 - 74 tahun, orang berusia 75 - 90 tahun, orang sangat tua berusia 90 tahun ke atas. Pada masa penuaan terjadilah perubahan-perubahan seperti perubahan fisik, psikososial, kognitif dan fungsional. Menurut WHO pada 2015, sebanyak 35,6 juta orang tua di seluruh dunia menderita gangguan kognitif. Tujuan : Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan agar mengetahui pengaruh Brain Game : Bermain Puzzle Terhadap Fungsi Kognitif pada lansia di Panti Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Karawang. Metode : Penelitian ini mempergunakan desain pre-eksperimental dengan model One Group Pretest-Posttest. Responden menerima perlakuan, lalu membandingkan kondisi sebelum dan sesudah perlakuan. Sampel penelitian yakni lansia di Panti Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Karawang. Hasil : Hasil penelitian Uji Wilcoxon didapatkan ada pengaruh Brain Game : Bermain Puzzle Terhadap Fungsi Kognitif Pada Lansia dengan p-value 0,001. Saran : Bermain puzzle dapat menjadi terapi nonfarmakologi yang efektif untuk lansia dengan masalah kognitif, membantu mereka memperbaiki fungsi kognitif dan mencegah penurunan lebih lanjut.

Open AccessBrain Game, Bermain Puzzle, Fungsi Kognitif, Lansia
oai:ais:library-item:26538Lihat detail