Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Pola makan sehat pada anak usia dini sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan daya tahan tubuh. Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak dini melalui peran orang tua dan guru, misalnya dengan membiasakan anak membawa bekal sehat serta membatasi konsumsi jajanan instan. Keterlibatan orang tua dalam meyiapkan, memilih, serta mengatur pola makan anak menjadi kunci dalam mendorong kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi sekaligus mengurangi kecenderungan picky eater. Tujuan Penelitian: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian pola makan sehat dengan perilaku picky eater pada anak pra sekolah. Metode Penelitian: penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan uji analisis data uji chi-square yang digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel. Dalam penelitian ini sampelnya berjumlah sebanyak 70 responden. Hasil: Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai χ² hitung = 28,406 dengan p = 0,000 (p < 0,05), sehingga secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku picky eater pada anak pra sekolah. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian pola makan sehat dengan perilaku picky eater pada anak pra sekolah
Open AccessPicky Eater, Pola Makan, Pola Asuh
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kemandirian merupakan salah satu aspek penting dalam
perkembangan anak usia prasekolah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah
satunya adalah pola asuh orang tua. Pola asuh yang tepat dapat membantu anak
mengembangkan kemampuan melakukan aktivitas secara mandiri sesuai tahap
perkembangannya. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang
tua dengan kemandirian anak prasekolah. Metode: Penelitian ini menggunakan
desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam
penelitian ini berjumlah 70 responden yang merupakan anak usia prasekolah
beserta orang tuanya. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling.
Instrumen penelitian berupa kuesioner pola asuh orang tua yang dikategorikan
menjadi pola asuh otoriter dan demokratis serta kuesioner kemandirian anak yang
diklasifikasikan menjadi ketergantungan sedang, kemandirian sebagian, dan
kemandirian penuh. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat
menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil: penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh demokratis
sebanyak 54 responden (77,1%). Mayoritas anak memiliki tingkat kemandirian
penuh yaitu 39 anak (55,7%). Pada pola asuh otoriter, sebagian besar anak berada
pada kategori kemandirian sebagian (62,5%), sedangkan pada pola asuh demokratis
sebagian besar anak berada pada kategori kemandirian penuh (64,8%). Hasil uji
Chi-Square diperoleh nilai p-value sebesar 0,015 (p < 0,05), sehingga terdapat
hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan kemandirian anak
prasekolah. Kesimpulan: penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh demokratis
cenderung meningkatkan tingkat kemandirian anak prasekolah dibandingkan pola
asuh otoriter. Oleh karena itu, orang tua diharapkan dapat menerapkan pola asuh
yang mendukung perkembangan kemandirian anak sejak usia dini.
Open Accesspola asuh orang tua, kemandirian anak, anak prasekolah.
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : penggunaan smartphone yang semakin meningkat pada remaja
berpotensi menimbulkan ketergantungan yang berdampak pada aspek akademik,
sosial, dan kesehatan mental. Remaja merupakan kelompok yang rentan karena
masih berada dalam tahap perkembangan psikologis dan kontrol diri yang belum
matang. Tujuan Penelitian : penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktorfaktor
yang berhubungan dengan ketergantungan smartphone pada remaja di SMP 3 Cibitung. Metode : penelitian ini mengunakan desain kuantitatif deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 92 siswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian meliputi Smartphone Addiction Scalle-Short Version (SAS-SV), kuesioner
Kontrol Diri, Parental Authority Questionnaire (PAQ), dan kuesioner Prokrastinasi Akademik. Dan dianalisis menggunakan uji univariat dan bivariat dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil Penelitian : hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara usia (p-value = 0,035 dan OR = 2,838), kontrol diri (pvalue= 0,024 dan OR= 0,341), dan prokrastinasi akademik (p-value = 0,002 dan OR = 4,457) dengan ketergantungan smartphone pada remaja. Dan menunjukkan tidak adanya hubungan antara jenis kelamin (p-value = 0,541 dengan OR = 1,424) dan pola asuh orang tua
(p-value = 0,052 dan OR = 2,533) dengan ketergantungan smartphone
pada remaja. Kontrol diri yan rendah dan tingkat prokrastinasi
akademik yang tingggi menjadi faktor yang paling dominan dalam meningkatkan
risiko ketergantungan smartphone. Kesimpulan : ketergantungan smartphone
pada remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Upaya pencegahan
perlu melibatkan peran sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan dalam
meningkatkan kontrol diri serta penggunaan smartphone yang sehat.
Open Accessketergantungan smartphone, remaja, kontrol diri, pola asuh,
prokrastinasi akademik
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang Perilaku emosional remaja menjadi isu yang semakin penting karena masa ini ditandai dengan perubahan fisik, sosial, dan emosional yang signifikan untuk membentuk karakter dan kepribadian remaja di masa depan. Menurut data WHO (2019), 8% anak – anak dan 15% usia remaja mengalami gangguan mental, dengan kelompok usia 15 – 29 tahun, ditemukan kasus bunuh diri sebagai penyebab ketiga kematian. Sedangkan menurut data Riskesdas (2021), 40% remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental, berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Masalah kesehatan mental remaja yang tidak ditangani sedari dini menjadi penyebab masalah mental yang berawal dari gangguan belajar, juga dapat menjadi berkelanjutan terhadap masalah mental yang mempengaruhi keberlangsungan kehidupan sehari-hari. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini, dengan menghubungkan faktor-faktor yang memengaruhi perilaku emosional remaja, seperti usia, jenis kelamin, pola asuh orang tua, dan lingkungan social. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, menggunakan kuesioner Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) dan kuesioner pola asuh orang tua, dengan jumlah responden sebanyak 81 siswa/i kelas 7.dimana uji validitas dan reliabilitas sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai P- Value 0.031, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara usia dan perilaku emosional. Uji Chi-Square menunjukkan nilai P- Value 0.012, untuk jenis kelamin yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan perilaku emosional. Uji Chi-Square menunjukkan nilai P- Value 0.004 pada pola asuh, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Pola Asuh dan perilaku emosional. Uji Chi-Square juga menunjukkan nilai P- Value 0.032 untuk lingkungan sosial, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Lingkungan Sosial dan perilaku emosional. Kesimpulan Perilaku emosional remaja dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Maka diperlukan pendekatan holistik dalam memahami dan mengelola perkembangan emosional remaja. Studi lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi lebih dalam faktor faktor lain yang bisa mempengaruhi perilaku emosional pada usia remaja.
Open AccessPerilaku Emosional, Remaja, Lingkungan Sosial, Pola Asuh
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang kesulitan anak saat berbicara, kerap dikaitkan terhadap pola pengasuhan yang diterapkan orang tuanya sebagai pendukung utama tumbuh kembang anak, orang tua yang konsisten berkomunikasi menciptakan peluang belajar bagi anak melalui interaksi yang penuh perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara pola asuh serta pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah berusia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang diterapkan yakni total sampling, sejumlah 39 responden. Adapun populasi penelitian ini meliputi seluruh orang tua di RA Bustanul Aulad. Hasil penelitian dari uji Chi-Square untuk variabel pola asuh dengan nilai p-value 0.019 (p<0.05) dan variabel pola komunikasi verbal dengan nilai p-value 0.000 (p<0.05). Hasil penelitian ini memperlihatkan keterkaitan antara pola asuh serta pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah berusia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Saran dari penelitian ini yaitu pentingnya stimulasi bahasa anak melalui interaksi sehari-hari, penggunaan materi visual, dan metode bermain dalam pembelajaran. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan perkembangan bahasa anak secara lebih efektif dan menyenangkan.
Open AccessPerkembangan Bahasa, Pola Asuh, Pola Komunikasi Verbal
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang keterlambatan bicara pada anak sering terkait dengan pola asuh orang tua, sebagai pendukung utama tumbuh kembang anak, orang tua yang konsisten berkomunikasi menciptakan peluang belajar bagi anak melalui interaksi yang penuh perhatian. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan pola asuh dan pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Metode Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik total sampling dengan jumlah 39 responden. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh orang tua di RA Bustanul Aulad. Hasil penelitian dari uji Chi-Square untuk variabel pola asuh dengan nilai p-value 0.019 (p0.05) dan variabel pola komunikasi verbal dengan nilai p-value 0.000 (p0.05). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan pola asuh dan pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Saran dari penelitian ini yaitu pentingnya stimulasi bahasa anak melalui interaksi sehari-hari, penggunaan materi visual, dan metode bermain dalam pembelajaran. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan perkembangan bahasa anak secara lebih efektif dan menyenangkan.
Open AccessKata kunci : Perkembangan Bahasa, Pola Asuh, Pola Komunikasi Verbal
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang keterlambatan bicara pada anak sering terkait dengan pola asuh orang tua, sebagai pendukung utama tumbuh kembang anak, orang tua yang konsisten berkomunikasi menciptakan peluang belajar bagi anak melalui interaksi yang penuh perhatian. Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan pola asuh dan pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Metode Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik total sampling dengan jumlah 39 responden. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh orang tua di RA Bustanul Aulad. Hasil penelitian dari uji Chi-Square untuk variabel pola asuh dengan nilai p-value 0.019 (p0.05) dan variabel pola komunikasi verbal dengan nilai p-value 0.000 (p0.05). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan pola asuh dan pola komunikasi verbal orang tua dengan risiko keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah usia 3-6 tahun di RA Bustanul Aulad Bekasi. Saran dari penelitian ini yaitu pentingnya stimulasi bahasa anak melalui interaksi sehari-hari, penggunaan materi visual, dan metode bermain dalam pembelajaran. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan perkembangan bahasa anak secara lebih efektif dan menyenangkan.
Open AccessPerkembangan Bahasa, Pola Asuh, Pola Komunikasi Verbal
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Masa batita dalam masa emas, atau “golden age” mengalami masalah perkembangan dalam hal emosi, sosial, mental, intelektual, dan moral. Di masa depan, gangguan ini dapat memengaruhi sikap dan perilakunya. Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat penting untuk perkembangan kecerdasan, dimulai sejak usia 0 hingga 5 tahun. selain itu, kondisi keuangan keluarga dan cara orang tua membesarkan anak sangat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Batita membutuhkan pengawasan penuh selama masa usianya, terutama dalam hal memenuhi kebutuhan gizinya untuk pertumbuhan dan perkembangan yang ideal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang batita usia 1-3 tahun di wilayah puskesmas tambelang. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik observasional, desain penelitian yang digunakan cross sectional, Menggunakan metode consecutive sampling, Populasi dalam penelitian ini yaitu batita yang berusia 1-3 tahun berjumlah 823. Sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 265 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat berupa Chi-Square dengan nilai signifikan a < 0,05. Hasil: Mayoritas dari mereka berusia 3 tahun 96 orang (36,2%), status gizi kurang 109 orang (41,1%), pola asuh negatif 134 orang (50,6%), imunisasi Mr/campak pada batita usia 3 tahun 96 orang (36,2%). Kesimpulan: dari penelitian ini hanya faktor pola asuh dengan kpsp yang memiliki hubungan dengan nilai chi square P = 0,001 < a 0,05. Sedangkan, umur, status gizi,imunisasi tidak terdapat hubungan dengan tumbuh kembang pada batita usia 1-3 tahun di wilayah puskesmas tambelang.
Open AccessBatita, Umur, Status Gizi, Imunisasi, Pola asuh.
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan: Data badan pusat statistik 2022, terdapat 30,83 juta anak usia dini di Indonesia. Dari
jumlah tersebut, sebanyak 13,56% bayi berusia ≤1tahun, 57,16% Balita, 29,28% anak prasekolah. Tujuan
penelitian: untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap anak usia 1–3 tahun Di Wilayah RT.02 Desa Cibuntu tahun 2023.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, dengan rancangan
penelitian Cross Sectional. Populasi seluruh ibu yang mempunyai anak usia 1-3 tahun, 65 orang. Sampel dengan total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisa univariat dan Analisa bivariat dengan uji chi-square.
Hasil penelitian menunjukan 35 (53,8%) memiliki pola asuh kurang baik. Didapatkan adanya
hubungan antara usia ibu (p-value=0,017), pendidikan (p-value=0,000), pengetahuan (p-value=0,011), dukungan keluarga (p-value=0,043), dan sumberi nformasi (p-value=0,021) dengan pola asuh orang tua terhadap anak usia 1-3 tahun. Serta tidak ada hubungan antara paritas(p-value=0,162) dengan pola asuh orang tua terhadap anak usia 1-3 tahun.
Kesimpulan terdapat hubungan antara usia, pendidikan, pengetahuan, dukungan keluarga, sumber
informasi, dengan pola asuh orang tua terhadap anak usia 1-3 tahun Di Wilayah RT.02 Desa Cibuntu. Serta tidak terdapat hubungan antara paritas dengan pola asuh orang tua terhadap anak usia 1-3 tahun Di Wilayah RT.02 Desa Cibuntu. Diharapkan penelitian ini memberikan peran serta bagi anak yaitu membentuk perkembangan dan kesejahteraan keluarga, serta keterlibatan orang tua pada pengasuhan anak.
Open AccessPola Asuh anak usia 1-3 tahun
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Infeksi menular seksual di Indonesia perlu dilakukan pendekatan edukatif dan partisipatif, seperti pengenalan terhadap penyakit-penyakit yang tergolong kelompok IMS dan upaya pencegahan guna mencapai derajat kesehatan reproduksi yang paripurna karna angka ims masih cukup tinggi yaitu sekitar 23.301 kasus. Tujuan penelitian untuk mengetahui distribusi frekuensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan infeksi menular seksual pada remaja di SMAN 2
Cikarang selatan Tahun 2023. Jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional, penggunaan sampel menggunakan metode total sampling. Sampel pada penelitian ini adalah Sebagian remaja SMAN 2 Cikarang Selatan Tahun 2023 yaitu sebanyak 142. Pengolahan data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistic chi-square, Teknik Total Sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis univariat untuk distribusi freskuensi variabel. Analisis bivariat melihat hubungan antara dua variabel. Ujistatistik dengan Chi Square. Hasil terdapat hubungan yang signifikan perilaku dengan pengetahuan dengan (p-value=
0.002), sikap (p-value= 0.011), sumber informasi (p-value= 0.011), dan pola asuh (p-value= 0.003)
pada remaja di SMAN 2 Cikarang Selatan. Terdapat hubungan pengetahuan, sikap, sumber informasi, dan pola asuh orang tua terhadap perilaku pencegahan infeksi menular seksual pada remaja di SMAN 2 Cikarang Selatan Tahun 2023.
Open AccessPerilaku Pencegajan IMS, Sikap, Sumber informasi, Pola Asuh
Thesis•2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar Belakang : Infeksi menular seksual di Indonesia perlu dilakukan pendekatan edukatif dan partisipatif, seperti pengenalan terhadap penyakit-penyakit yang tergolong kelompok IMS dan upaya pencegahan guna mencapai derajat kesehatan reproduksi yang paripurna karna angka ims masih cukup tinggi yaitu sekitar 23.301 kasus. Tujuan Penelitian : Mengetahui distribusi frekuensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan infeksi menular seksual pada remaja di SMAN 2 Cikarang selatan Tahun 2023. Metode Penelitian : Jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional, penggunaan sampel menggunakan metode total sampling. Sampel pada penelitian ini adalah Sebagian remaja SMAN 2 Cikarang Selatan Tahun 2023 yaitu sebanyak 142. Pengolahan data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji statistic chi-square. Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian terdapat hubungan yang signifikan perilaku dengan pengetahuan dengan (p-value= 0.002), sikap (p-value= 0.011), sumber informasi (p-value= 0.011), dan pola asuh (p-value= 0.003) pada remaja di SMAN 2 Cikarang Selatan. Kesimpulan : Terdapat hubungan pengetahuan, sikap, sumber informasi, dan pola asuh orang tua terhadap perilaku pencegahan infeksi menular seksual pada remaja di SMAN 2 Cikarang Selatan Tahun 2023. Saran dalam penelitian ini untuk remaja, untuk lahan penelitian dan peneliti selanjutnya.
Open AccessPerilaku Pencegajan IMS, Sikap, Sumber informasi, Pola Asuh.
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Kemampuan motorik merupakan salah satu proses tumbuh kembang yang harus dilalui dalam kehidupan anak, salah satunya motorik halus. Menurut UNICEF pada tahun 2020 didapatkan data sejumlah 27,5% atau setara dengan 3 juta anak mengalami gangguan perkembangan khususnya pada balita. Data dari Dinkes Provinsi Jawa Barat terdapat 1-3% anak mengalami keterlambatan motorik. Data dari dua rumah sakit di Bekasi menyebutkan bahwa 11,3% anak mengalami keterlambatan perkembangan motorik halus. Metode penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu jumlah sampel sama dengan jumlah populasi sebanyak 45 anak usia 4-6 tahun dan orang tua di TKIT Al-Manshuriyyah tahun 2023. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat dengan uji statistik menggunakan Chi-square. Hasil analisis bivariat ada hubungan antara perkembangan motorik halus pada anak dengan pola asuh dengan nilai P-Value 0,001, dan ada hubungan antara perkembangan motorik halus pada anak dengan pengetahuan orang tua dengan nilai P-Value = 0,039 yaitu semua nilai P-Value = P<a 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini, terdapat hubungan pola asuh dengan perekembangan motorik halus pada anak dan ada hubungan pengetahuan orang tua dengan perkembangan motorik halus pada anak di TK Al-Manshuriyyah tahun 2023. Saran penelitian ini agar Agar lebih menambah wawasan yang lebih luas mengenai pentingnya mempunyai pengetahuan dan pemahaman mengenai perkembangan motorik halus pada anak.
Open AccessMotorik halus anak, Pola asuh, Pengetahuan orang tua
Book•2020•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Proses pertumbuhan dan perkembangan dan proses
perkembangan pada anak terjadi sejak dalam intra uterine hingga dewasa. Namun
tak jarang dalam proses tersebut terjadi penyimpangan-penyimpangan tertentu.
Masalah penyimpangan tumbuh kembang anak yang terjadi di masyarakat memang
sangatlah bervariasi, diantaranya terjadi gangguan perkembangan, gangguan
bicara, gangguan perkembangan motorik, gangguan mental dan lain-lain. Hasil
studi pendahuluan peneliti yang dilakukan pada tanggal 20 Mei 2019 di TK Tunas
Bangsa Kampung Cicau Desa Cicau Kecamatan Cikarang pusat Kabupaten Bekasi,
terdapat 35 jumlah murid. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan
mengunakan KPSP (Kuesioner Praskrining Perkembangan) di TK Tunas Bangsa
didapatkan 8 dari 10 responden berada dalam kategori meragukan dimana kategori
meragukan ini diambil bila jawaban yang diujikan hanya terdapat “YA” 8 butir dan
maka hasilnya bisa di simpulkan yaitu “meragukan” (meragukan terjadinya
penyimpangan dalam tumbuh kembang).
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan pola asuh dalam tumbuh kembang anak di TK Tunas Bangsa
Kampung Cicau Desa cicau Kecamatan Cikarang pusat kabupaten Bekasi Tahun
2019.
Metode : Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Analitik Kuantitatif
dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
orang tua yang mengantar anaknya di TK Tunas Bangsa Kampung Cicau Desa
Cicau Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi Tahun 2019 dimana jumlah
seluruh responden adalah 35 orang tua. Penelitian ini akan di lakukan selama dua
hari di TK Tunas Bangsa. Sampel yang diambil sebanyak 35 responden dengan
menggunakan teknik Total Sampling. Instrument yang digunakan dalam
pengambilan data adalah kuesioner. Analisa data yang digunakan adalah analisa
univariat dan bivariate berupa uji Chi-square dengan nilai signifikan α < 0,05.
Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan bahwa semua faktor yang diteliti memiliki
pengaruh bermakna dengan pola asuh dalam tumbuh kembang anak. Variable yang
mempengaruhi adalah usia (p = 0,018 < α = 0,05), pendidikan (p = 0,032 < α =
0,05), status ekonomi (p = 0,039 < α = 0,05) dan Lingkungan (p = 0,030 < α = 0,05).
Terdapat hubungan signifikan antara usia, pendidikan, status ekonomi dan
lingkungan dengan pola asuh dalam tumbuh kembang anak di TK tunas bangsa.
Kesimpulan : Ada hubungan antara usia, pendidikan, status ekonomi, dan
lingkungan dengan pola asuh dalam tumbuh kembang anak di taman kanak-kanak
tunas bangsa kampung cicau desa cicau kecamatan cikarang pusat kabupaten
bekasi tahun 2019.
Saran : Hasil penelitian ini diketahui bahwa terbukti berhubungan secara
signifikan. Oleh karena itu penulis menyarankan agar peneliti selanjutnya bisa
meneliti dengan variable yang lebih banyak lagi.
Open Accesspola asuh, tumbuh kembang anak
Book•2019•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Perilaku kekerasan tawuran hingga saat ini semakin meningkat,
Berdasarkan data informasi Kemenpora tahun 2009 kenakalan remaja tertinggi
tercatat di Provinsi Jawa Barat sebesar 10 kejadian, 23 pelajar terlibat tawuran
yang berasal dari dua sekolah, yakni SMKN 1 Kota Cirebon dan SMK Nasional
Kota Cirebon. Di Cirebon Jawa Barat sedikitnya 250 pelajar sekolah menengah
kejuruan (SMK) yang terlibat tawuran dan sekolah yang terlibat tawuran yang
mayoritas siswanya laki-laki.
Tujuan : untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku
kekerasan tawuran pada siswa SMK Dwi Bhakti Ciledug Kabupaten Cirebon
tahun 2018.
Metode : Metode penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan
cross sectional. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Dwi Bhakti
Ciledug Kabupaten Cirebon Tahun 2018. Teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 208 orang. Alat
ukur yang digunakan adalah kuesioner dan uji statistik menggunakan chi square.
Hasil : Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku
kekerasan tawuran (p = 0,021 < α=0,05), sikap (p = 0,043 < α=0,05), pola asuh
orang tua (p = 0,029 < α=0,05), pengaruh teman sebaya (p = 0,021 < α=0,05).
Kesimpulan : remaja dengan pengetahuan baik mempunyai efek proteksi
terhadap perilaku kekerasan tawuran dibandingkan remaja dengan pengetahuan
kurang baik, remaja dengan sikap baik mempunyai efek proteksi terhadap perilaku
kekerasan tawuran dibandingkan remaja dengan sikap kurang baik, remaja dengan
pola asuh orang tua baik mempunyai efek proteksi terhadap perilaku kekerasan
tawuran dibandingkan remaja dengan pola asuh orang tua kurang baik, remaja
dengan tidak terpengaruh teman sebaya mempunyai resiko terhadap perilaku
kekerasan tawuran dibandingkan remaja dengan terpengaruh teman sebaya.
Saran : Diharapkan untuk mengurangi perilaku kekerasan tawuran khususnya
bagi responden disarankan untuk lebih berhati-hati dalam bergaul dengan
siapapun itu, saling menghargai, berperilaku sopan dan menerapkan moral yang
baik, terus mencari tahu dampak dan bahaya dari tawuran serta mengisi waktu
yang senggang dengan kegiatan yang positif seperti belajar kelompok.
Open Accessperilaku kekerasan tawuran, pengetahuan, sikap, pola asuh orang
tua, dan pengaruh teman sebaya.
Book•2019•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran
antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hubungan tidak harmonis antar
saudara kandung khususnya masa usia sekolah akan mengalami kesulitan melakukan
penyesuaian sosial seperti hubungan yang buruk dengan teman sebaya, perilaku
antisosial, kesulitan belajar dan menunjukkan tanda psikopatologi seperti cemas,
depresi dan ketakutan.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan perilaku sibling rivalry di Desa Sukaraya Kecamatan Karang Bahagia
Kabupaten Bekasi Tahun 2018.
Metode : Penelitian ini termasuk kedalam analitik kuantitaitf, dengan menggunakan
metode Cross Sectional, yaitu faktor resiko dengan efek dilakukan pengukuran
dengan cara, observasi ataupun pengumpulan data sekaligus suatu saat. Adapun
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua yang
mempunyai anak usia sekolah (6-12 tahun) di Desa Sukaraya Kecamatan Karang
Bahagia Kabupaten Bekasi, jumlah sampel dengan menggunakan tingkat kesalahan
0,05. Populasi penelitian ini sebanyak 72 anak dan jumlah responden yang akan
diteliti sebanyak 72 responden.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara jenis
kelamin (P value = 0,002 < α (0,05) ; OR 5,133), perbedaan usia (P value = 0,001 <
α (0,05) ; OR 6,250), pola asuh orang tua (P value = 0,009 < α (0,05) ; OR 4,114),
dan jumlah saudara kandung (P value = 0,002 < α (0,05) ; OR 6,600) dengan
perilaku sibling rivalry.
Saran : Diharapkan bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah (6-12 tahun) dan
memiliki saudara kandung dapat membangun komunikasi dan perlakuan yang baik
kepada anak. Selain itu, diharapkan bagi orang tua untuk dapat memberikan
perhatian, waktu, cinta dan kasih sayang yang setara sesuai porsinya kepada masingmasing
anak.
Open AccessSibling rivalry, Usia sekolah, Jenis Kelamin, Pola Asuh Orang Tua,
Jumlah Saudara Kandung
Book•2019•Koleksi Perpustakaan
Toilet Training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar di toilet pada waktu yang tepat. Toilet Training dapat berlangsung pada fase kehidupan anak yaitu umur 18 bulan sampai 24 bulan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam Toilet Training pada anak usia Toddler yaitu faktor pendidikan, pekerjaan, pola asuh orang tua, pengetahuan, dan lingkungan. Faktor tersebut mempengaruhi dalam penerapan Toilet Training karena pada dasarnya peran serta ibu sangat penting di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan dan menyediakan fasilitas agar anak merasa nyaman dalam menjalani proses perkembangannya. Penelitian ini bertjuan untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan Toilet Training pada anak usia Toddler di Poliklinik Anak Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong tahun 2018.
Penelitian ini termasuk analitik kuantitatif, dengan menggunakan metode Cross Sectional. Adapun sampel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia Toddler di Poliklinik Anak Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong, jumlah responden yang akan di teliti sebanyak 63 responden.
Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan tingkat keberhasilan Toilet training dengan nilai P- Value 0.000 < (0.05) dan nilai OR 12.500. Hubungan antara pengetahuan dengan tingkat keberhasilan Toilet training dengan nilai P Value 0.000 < (0.05) dan nilai OR 19.883. Hubungan antara lingkungan dengan tingkat keberhasilan Toilet training dengan nilai P Value 0.000 < (0.05) dan nilai OR 12.089.Sedangkan hasil penelitian yang menunjukan tidak terdapat hubungan adalah pendidikan dan pekerjaan terhadap tingkat keberhasilan Toilet Training pada anak usia Toddler di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong dengan nilai P -Value 1.000 dan 0.158.
Peneliti menyarankan kepada institusi kesehatan khusunya rumah sakit adanya peningkatan penyuluhan dengan metode yang mudah di pahami oleh masyarakat khususnya ibu sehingga penyuluhan tersebut efektif dan dapat meningkatkan peran dalam penerapan Toilet Training.
Open AccessKeberhasilan Toilet Training, pendidikan, pekerjaan, pola asuh orang tua, pengetahuan, lingkungan.