Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Kesehatan mental remaja merupakan kondisi penting yang menentukan
kemampuan mereka untuk menghadapi tekanan hidup, berinteraksi sosial, dan mengembangkan
potensi diri secara optimal. Remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental cenderung
menunjukkan gejala depresi, kecemasan, dan stres, yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari
dan prestasi akademik. Salah satu faktor risiko yang signifikan adalah fatherless, yaitu
ketidakhadiran peran ayah secara fisik maupun emosional, yang berpotensi menurunkan rasa
percaya diri, meningkatkan kecemasan, serta memengaruhi regulasi emosi remaja. Selain itu,
kemampuan remaja dalam mengatasi tekanan dipengaruhi oleh mekanisme koping yang mereka
gunakan. Strategi koping adaptif dapat memperkuat kesehatan mental, sementara koping maladaptif
dapat memperburuk kondisi psikologis. Penggunaan media sosial yang cenderung negatif juga
berdampak pada kesehatan mental, karena dapat memicu perbandingan sosial, kecemasan, dan stres.
Di sisi lain, pengalaman bullying yang sering, baik di dunia nyata maupun melalui dunia maya,
meningkatkan risiko gangguan psikologis dan menurunkan kesejahteraan emosional remaja. Dengan
memahami faktor-faktor ini secara simultan, penelitian ini bertujuan memberikan gambaran
komprehensif tentang determinan kesehatan mental remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan fatherless, mekanisme koping, media sosial, dan bullying dengan kesehatan
mental remaja di SMAN X tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner fatherless, mekanisme koping, media sosial,
bullying dan DASS-Y yang disebarkan kepada seluruh populasi (purposive sampling) sebanyak 72
responden berusia 15–16 tahun. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi spearman karena data
tidak terdistribusi normal. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara
fatherless dengan kesehatan mental (r= 0,505; p= 0,000) dengan kekuatan hubungan sedang.
Mekanisme koping memiliki hubungan paling kuat dengan kesehatan mental (r= 0,619; p= 0,000),
diikuti oleh pengalaman bullying (r= 0,551; p= 0,000) dan dampak negatif penggunaan media sosial
(r= 0,523; p= 0,000).Kesimpulan: Kondisi fatherless, mekanisme koping, penggunaan media sosial,
dan pengalaman bullying secara signifikan berhubungan dengan kesehatan mental remaja. Strategi
koping adaptif dapat menjadi faktor protektif, sedangkan ketidakhadiran ayah, paparan media sosial
negatif, dan bullying meningkatkan risiko gangguan psikologis. Temuan ini menegaskan pentingnya
dukungan keluarga, pendidikan koping yang sehat, pengawasan penggunaan media sosial, serta
pencegahan bullying untuk menjaga kesehatan mental remaja
Open AccessKesehatan mental, remaja, fatherless, mekanisme koping, bullying, media sosial
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Nyeri haid atau dismenore merupakan keluhan yang sering dialami remaja putri dan umumnya terjadi akibat kontraksi otot rahim yang dipengaruhi oleh peningkatan hormon prostaglandin. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) tahun 2020, prevalensi dismenore di berbagai negara tergolong tinggi, dengan sekitar setengah perempuan di setiap negara mengalaminya. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berada pada kategori ringan hingga sedang, sedangkan sekitar 10–15% mengalami nyeri berat yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan proses belajar di sekolah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan melalui metode ceramah interaktif yang dikombinasikan dengan permainan edukatif Clash of Champions terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang dismenore di SMPN 2 Tambelang tahun 2025. Selain itu, penelitian ini juga menguji perbedaan tingkat pengetahuan berdasarkan dukungan orang tua dan dukungan teman sebaya. Desain yang digunakan adalah quasi experiment dengan pendekatan one group pretest-posttest pada 59 siswi kelas VII yang dipilih menggunakan rumus Slovin. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan nilai rata-rata setelah intervensi, serta perbedaan bermakna berdasarkan tingkat dukungan orang tua dan teman sebaya (p-value=0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi interaktif efektif meningkatkan pemahaman siswi mengenai penanganan dismenore secara tepat.
Open Accessdismenore, pendidikan kesehatan interaktif, pengetahuan remaja
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Anemia menjadi perhatian serius karena prevalensinya yang tinggi mencapai 29,9% pada remaja putri di dunia. Meskipun pemerintah telah berupaya menurunkannya, konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri hanya 16,7% pada tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pendidikan kesehatan melalui kombinasi ceramah dan media index card match terhadap pengetahuan dan sikap siswi di SMPN 1 Cikarang Utara. Metode penelitian ini berjenis kuantitatif dengan menggunakan desain Quasi Experiment dan pendekatan two group pretest-posttest design with control group. Populasi penelitian adalah siswi usia 13-14 tahun di kelas VIII SMPN 1 Cikarang Utara. Sampel sebanyak 136 responden ditentukan dengan rumus Isaac & Michael, terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kontrol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2024. Hasil nilai rerata pengetahuan kelompok eksperimen 9,49 dan post-test 13,94 sedangkan kelompok kontrol nilai pre-test 9,09 dan post-test 9,12. Rerata nilai sikap kelompok eksperimen untuk pre-test 49,38 dan post-test 54,40 sedangkan kelompok kontrol nilai pre-test 46,24 dan post-test 46,28. Hasil analisis uji Wilcoxon menunjukkan terdapat pengaruh pendidikan kesehatan melalui penggunaan ceramah dan media index card match terhadap pengetahuan siswi mengenai anemia dengan p-value=0.000 (0<0.05) dan memberikan pengaruh bagi sikap siswi mengenai anemia dengan p-value=0.000 (P<0.05). Terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol, dengan uji Mann Whitney dengan p-value=0.000 (P<0.05). Melalui penelitian ini, para siswi dapat lebih mudah memahami informasi terkait anemia, sehingga diharapkan mampu menerapkan langkah-langkah pencegahan yang tepat.
Open AccessAnemia, Ceramah, Index Card Match, Pengetahuan dan Sikap.
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Dalam fase transisi yang dialami remaja, termasuk mahasiswa, berbagai tekanan kerap muncul. Perubahan ini dapat menjadi tantangan bagi mahasiswa tahun pertama yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Jika tekanan ini tidak dikelola dengan tepat, dapat berkembang menjadi stres. Stres adalah proses interaksi terus-menerus yang melibatkan orang dengan lingkungan dan saling mempengaruhi yang disebut transaksional. Faktor-faktor seperti motivasi, mekanisme koping, dan dukungan teman sebaya dapat mempengaruhi tingkat stres seseorang. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara motivasi, mekanisme koping, dan dukungan teman sebaya terhadap tingkat stres mahasiswa tahun pertama di program studi sarjana keperawatan universitas medika suherman tahun 2024. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain komparatif dan pendekatan cross-sectional, populasi dalam penelitian ini sebanyak 42 responden menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode purposive-sampling, maka total sampel menjadi 38 responden. Hasil: Hasil menunjukkan adanya hubungan antara motivasi (p-value=0.046), mekanisme koping (p-value=0.032), dan dukungan teman sebaya (p-value=0.024) terhadap tingkat stres mahasiswa tahun pertama. Kesimpulan: terdapat hubungan motivasi, mekanisme koping dan dukungan teman sebaya terhadap tingkat stres mahasiswa tahun pertama di program studi sarjana keperawatan universitas medika suherman tahun 2024.
Open Accessdukungan teman sebaya, mekanisme koping, motivasi, mahasiswa tahun pertama, stres.
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Kelengkapan pada Sistem Informasi Posyandu (SIP) menjadi salah satu bentuk dari kinerja kader Posyandu. Ketidak lengkapan pada pencatatan SIP menyebabkan adanya ketidak validan data pada sasaran Posyandu sehingga data tersebut tidak dapat terekam dengan sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan kinerja kader dalam pencatatan pengelolaan data anak balita pada Sistem Informasi Posyandu (SIP) di wilayah kerja Puskesmas Mekar Mukti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel yang digunakan berjumlah 88 responden dari total keseluruhan populasi 113 kader posyandu. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 40 kader (46%) memiliki kinerja rendah dibandingkan dengan 48 kader (54%) memiliki kinerja yang tinggi pada pencatatan data pada sistem informasi posyandu. Ada hubungan antara pengetahuan, pelatihan kader, dukungan petugas kesehatan, kepemilikan pedoman SIP, motivasi dengan kinerja kader dalam pencatatan pengelolaan data anak balita pada sistem informasi posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Mekar Mukti. Tidak ada hubungan antara dukungan suami dengan kinerja kader dalam pencatatan pengelolaan data anak balita pada sistem informasi posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Mekar Mukti.
Open AccessKinerja, Kader, Sistem Informasi Posyandu
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Open Access
Book•2022•Koleksi Perpustakaan
Rumah Sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah mewajibkan Rumah Sakit melakukan akreditasi agar Rumah Sakit selalu mengutamakan pelayanan, keselamatan dan perlindungan kepada masyarakat. Untuk meningkatkan akreditasi diperlukan adanya motivasi karyawan yang terlibat dalam akreditasi. Motivasi karyawan yang bekerja di Rumah Sakit X dalam menghadapi akreditasi mengalami demotivasi yang mengakibatkan menjadi kurang atau bahkan tidak bersemangat. Terdapat 15 karyawan menolak bergabung ke tim kelompok kerja dan 10 karyawan bersedia bergabung namun dengan setengah hati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi karyawan dalam menghadapi akreditasi di Rumah Sakit X tahun 2022. Penelitian dilakukan pada tanggal 01 Juli – 30 Juli 2022 di Rumah Sakit X. Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Tehnik pengambilan sampel menggunakan tehnik non probability sampling dengan menggunakan tehnik accidental sampling. Populasi adalah Tim Kelompok Kerja Akreditasi sejumlah 160 karyawan dan sampel sejumlah 111 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji normalitas digunakan untuk menentukan cut off point dalam pengkodingan saat pengolahan data. Analisis bivariat menggunakan uji chi square dengan memperhatikan nilai p value untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variabel independen dan dependen. Nilai Odds Ratio digunakan untuk menentukan seberapa besar pengaruh atau peluang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengakuan dengan motivasi karyawan (p value = 0,037), pekerjaan itu sendiri (p value = 0,000), tanggung jawab (p value = 0,022), kemajuan (p value = 0,000), pengembangan potensi individu (p value = 0,000), dan hubungan interpersonal (p value = 0,001). Variabel yang tidak berhubungan yaitu prestasi (p value = 0,103). Terdapat hubungan antara pengakuan, pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab, kemajuan, pengembangan potensi individu, hubungan interpersonal dengan motivasi karyawan. Sedangkan prestasi tidak berhubungan dengan motivasi karyawan. Saran dari penelitian ini adalah Rumah Sakit X harus mengatur ulang sumber daya manusia, peningkatan motivasi karyawan, lebih peduli dan mengakui atas kinerja karyawan. Sedangkan untuk karyawan harus lebih meningkatkan rasa tanggung jawab dalam pekerjaannya dan meningkatkan hubungan interpersonal antar karyawan agar tercipta hubungan yang harmonis.
Open AccessAkreditasi Rumah Sakit, Hubungan Interpersonal, Kemajuan, Motivasi, Pekerjaan Itu Sendiri, Pengakuan, Pengembangan Potensi Individu, Prestasi, Tanggung Jawab
Book•2021•Koleksi Perpustakaan
Open Access
Book•2021•Koleksi Perpustakaan
Open Access
Book•2020•Koleksi Perpustakaan
Salah satu prioritas pembangunan nasional sebagimana tertuang pada dokumen rencana pembangunan jangka menengah nasional dan rencana stategis kementrian kesehatan 2015 adalah perbaikan status gizi masyarakat. Di Indonesia Departemen Kesehatan RI (Depkes) telah menargetkan cakupan ASI Eklusif sebesar 80% sebagai salah satu indikator kegiatan pembangunan gizi kesehatan masyarakat. Pemberian susu formula atau makanan tambahan PASI yang terlalu dini dapat menganggu pemberian ASI eklusif serta meningkatkan angka kesakitan morbiditas. (Kemenkes, RI, 2015.
Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan di BPM inna nur mulyani tahun 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini semua ibu yang menyusui bayi usia 0-6 bulan dan sampel yang digunakan berjumlah 100 responden dengan teknik total sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi square.
Hasil penelitian ada hubungan bermakna antara variabel pengetahuan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula dengan p value : 0,016, ada hubungan bermakna antara variabel pekerjaan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula dengan p value : 0,004, ada hubungan bermakna antara variabel kondisi fisik dan kesehatan ibu dalam pemberian susu formula dengan p value : 0,043, ada hubungan bermakna antara variabel peran bidan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula degan p value : 0,009.
Kesimpulan ada hubungan yang bermakna antara variabel pengetahuan, pekerjaan, kondisi fisik dan kesehatan ibu, serta peran bidan dengan perilaku ibu menyusui dalam pemberian susu formula. Saran peneliti ini diharapkan bidan lebih meningkatkan penyuluhan-penyuluhan serta memberikan informasi kepada masyarakat khususnya pada ibu-ibu tentang pentingnya pemberian ASI serta manfaat ASI bagi ibu dan bayi.
Open AccessPemberian susu formula, perilaku, pengetahuan, pekerjaan, kondisi fisik dan kesehatan ibu, peran bidan.
Book•2020•Koleksi Perpustakaan
Stunting adalah tinggi Badan dibawah persentil-ketiga, yang sesuai dengan nilai 1,9 atau dibulatkan menjadi 2 Standar Deviasi. Stunting dapat dilihat dari tinggi badan menurut umur serta dapat menyebabkan gangguan Intelligence Quotient, perkembangan psikomotor, kemampuan motorik, dan integrasi neurosensori.
Desain dalam penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan case control. Populasi dalam penelitian ini yaitu ibu di Desa Karang Satu yang memiliki balita usia 24-59 bulan sebanyak 36 responden. Jumlah sampel sebanyak 36 responden dengan teknik pengambilan sampel Total Sampling, menggunakan data primer, data diolah dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square.
Hasil penelitian didapatkan variabel pendidikan (P.value=0,041), pendapatan (P.value=0,018), asupan makanan (P.value=0,007), riwayat BBLR (P.value=0,018), riwayat penyakit (P.value=0,037), riayat ASI Eksklusif (P.value=0,000), yang kurang dari nilai alpha (0,05).
Kesimpulannya ada hubungan antara pendidikan, pendapatan, asupan makanan, riwayat BBLR, riwayat penyakit, riwayat ASI Eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Desa Karang Satu tahun 2019. Saran diharapkan ibu menambah wawasan maupun pengetahuan tentang kebutuhan anak dalam proses tumbuh kembang, serta dapat menentukan sikap dan perilaku yang tepat dalam merawat anak sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Open Accessasupan, pendidikan, pendapatan, BBLR, ASI Eksklusif
Book•2020•Koleksi Perpustakaan
Open Access
Book•2020•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Pediculosis capitis adalah proses masuknya ektoparasit,
pediculosis capitis ini termasuk parasit yang menghisap darah di kepala manusia.
Pediculosis capitis tersebut dapat berdampak gatal-gatal, bintik-bintik kemerahan,
infeksi bakteri sekunder akibat garukan. Selain fisik pediculosis capitis juga akan
dapat memberikan dampak berupa gangguan tidur persisten, gangguan
konsentrasi, dan efek psikis. Data dari study pendahuluan dengan melakukan
wawancara kepada santri wati didapatkan 80% mengalami pediculosis capitis.
Dan menurut keterangan pengurus pondok pesantren mengatakan bahwa setiap
kamar dihuni 25 sampai dengan 30 santri. Serta kurangnya kesadaran diri para
santri untuk menjemur tempat tidur/bantal dan juga untuk menjaga kebersihan
kamar, kesehatan diri seperti kurangnya membersihkan rambut. Adapun faktorfaktornya
yaitu usia, personal hygiene, menggunakan sisir/aksesoris secara
bersama, menggunakan tempat tidur secara bersama, dan pengetahuan.
Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian pediculosis capitis pada santri wati di Pondok Pesantren
Daruttakwien Kecamatan Sukatani Kabupatem Bekasi 2019.
Metode : Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik kuantitatif
dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu
santri wati sebanyak 178. Sampel yang diambil sebanyak 117 responden dengan
menggunakan teknik acidental sample. instrumen yang digunakan dalam
pengambilan data yaitu dengan kuesioner yang di isi oleh responden. Analisa
yang digunakan yaitu analisa univariat dan analisis bivariat berupa uji chi square
dalam nilai signifikan α <0,05.
Hasil : Hasil penelitian dari kelima faktor terdapat satu yang tidak berhubungan
terhadap kejadian pediculosis capitis pada santri wati Di Pondok Pesantren
Daruttakwien Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi Tahun 2019. Variabel yang
tidak berhubungan yaitu usia ( P value = 0,235), sedangkan yang berhubungan
yaitu personal hygiene (P value = 0,002) menggunakan sisir/aksesoris secara
bersama (P value = 0,003), menggunakan tempat tidur secara bersama (P value =
0,001), dan pengetahuan (P value = 0,009).
Kesimpulan : kesimpulan pada penelitian ini adalah ada hubungan dan tidak
hubungan antara faktor dengan kejadian pediculosis capitis pada santri wati di
Pondok Pesantren Daruttakwien Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi Tahun
2019.
Saran : Dari penelitian ini diharapkan para santri dan pengurus Pondok Pesantren
agar memperhatikan perawatan diri dan kebersihan diri guna mengurangi angka
kejadian pedikulosis capitis yang di alami di Pondok Pesantren Darutakwien
Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi tahun 2019.
Open Accesspediculosis capitis, usia, personal hygiene, mengunakan
sisir/aksesoris secara bersama, menggunakan tempat tidur secara bersama, dan
pengetahuan.
Book•2020•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan
kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang memiliki motivasi adalah perilaku yang
penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan peneliti pada tanggal 18-20 Mei 2019 di SDN Sukaresmi 06, Cikarang
Selatan, yang dilakukan kepada 12 siswa di dapatkan hasil dari wawancara bahwa
siswa yang memiliki motivasi belajar rendah terdapat sebanyak 7 orang siswa
sedangkan siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi terdapat sebanyak 5 orang
siswa.
Tujuan : Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
berhubungan dengan motivasi belajar pada siswa kelas VI di SDN Sukaresmi 06
tahun 2019.
Metode : Jenis penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan
menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel
menggunakan simple random sample sebanyak 70 siswa dilaksanakan di SDN
Sukaresmi 06. Instrumen dalam penelitian menggunakan kuesioner, dianalisa
dengan Chi-Square.
Hasil : Hasil penelitian sebagian besar menunjukan siswa motivasi rendah
sebanyak (52.9%), siswa dengan motivasi tinggi ada sebanyak (47,1%). pengaruh
dukungan keluarga rata-rata sebanyak (50%), pengaruh teman sebaya tidak ada
pengaruh sebanyak (54.3%), pengaruh teknologi rata-rata sebanyak (50%), dan
pengaruh dari karakteristik responden (jenis kelamin) rata-rata sebanyak (50%).
Hasil analisa ada hubungan motivasi belajar dengan dukungan keluarga, ada
hubungan motivasi belajar dengan pengaruh teknologi dan ada hubungan motivasi
belajar dengan pengaruh teman sebaya.
Saran : Diharapkan agar siswa mampu dapat meningkatkan motivasi belajarnya
untuk prestasi belajar masa depan dan diharapkan agar dari berbagai faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar siswa baik dari dukungan keluarga, pengaruh
teman sebaya dan pengaruh teknologi mampu menjadi acuan siswa dalam
menerapkan dan meningkatkan motivasi belajar.
Open AccessMotivasi belajar, Dukungan keluarga, Pengaruh teman, Teknologi, Karakteristik responden (jenis kelamin).
Book•2020•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Data yang didapatkan pada saat aplikasi di Desa Pantai Bahagia
Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi pada bulan Juni 2019 – Juli 2019
didapatkan penderita dengan hipertensi sebanyak 30 orang, dengan umur 23-61
tahun. Kejadian hipertensi sering kali dikaitkan dengan motivasi yang ada pada
dalam diri dalam pemeriksaan tekanan darah, diantaranya ada pencapaian diri,
tanggung jawab, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan.
Tujuan : Mengetahui hubungan faktor internal dan eksternal (pencapaian, tanggung
jawab, dukungan keluarga dan dukungan petugas keseshatan) dengan motivasi dalam
pemeriksaan tekanan darah di Desa Pantai Bahagia Kecamatan Muaragembong
Kabupaten Bekasi.
Metode : Desain dalam penelitian ini adalah Analitik Kuantitatif dengan rancangan
atau penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah penderita
hipertensi usia produktif (23-61 tahun) di Desa Pantai Bahagia Kecamatan
Muaragembong Kabupaten Bekasi. Sampel berjumlah 30 responden. Analisis data di
lakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan nilai
signifikan alpha 5% (α = 0,05) dengan uji fisher exact sebagai alternatif nya.
Hasil : Ada hubungan antara pencapaian, tanggung jawab, dukungan keluarga dan
dukungan petugas kesehatan dengan motivasi pada penderita hipertensi dalam
pemeriksaan tekanan darah di Desa Pantai Bahagia Kecamatan Muaragembong
Kabupaten Bekasi, didapatkan Odds Ratio (OR) dari variabel pencapaian 36,00,
tanggung jawab 22,66, dukungan keluarga 27,00 dan dukungan petugas kesehatan
36,00.
Kesimpulan : Pencapaian, tanggung jawab, dukungan keluarga dan dukungan
petugas kesehatan berhubungan dengan motivasi penderita hipertensi dalam
pemeriksaan tekanan darah.
Saran : Diharapkan melalui penelitian ini dapat memberikan saran agar penderita
hipertensi dapat termotivasi dalam memeriksakan tekanan darah secara rutin untuk
menghindari komplikasi lebih lanjut.
Open AccessPencapaian, tanggung jawab, dukungan keluarga, dukungan petugas
kesehatan, motivasi
Book•2019•Koleksi Perpustakaan
Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes yang relevan. Adapun faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu gaya belajar dan motivasi belajar. Metode yang digunakan dalam penelitian Cross Sectional. Sampel yang diambil sebanyak 74 responden dengan menggunakan rumus total sampling. Instrument yang digunakan dalam pengambilan data adalah kuesioner dan lembar hasil belajar yang diambil dari BAAK. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat berupa uji chi-square dengan nilai signifikan α 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua faktor yang diteliti terdapat pengaruh secara bermakna dengan indeks prestasi pada mahasiswa/i pendidikan keperawatan angkatan 2018. Variabel yang mempengaruhi adalah karakteristik gaya belajar (P value=0,012), dan motivasi belajar (P Value=0,004). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan adanya hubungan karakteristik di dapatkan bahwa yang paling berhubungan terhadap indeks prestasi serta dari kedua variabel tersebut di dapatkan bahwa yang paling berhubungan terhadap indeks prestasi adalah motivasi belajar yang rendah. Penelitian ini diharapkan mahasiswa/i dapat meningkatkan motivasi belajarnya untuk meningkatkan hasil prestasi belajarnya secara optimal serta dosen/pendidik menyesuaikan metode pembelajaran baik di lingkungan akademik maupun non akademik terhadap gaya belajar mahasiswa/i pendidikan keperawatan.
Open AccessIndeks Prestasi, Gaya Belajar, Motivasi Belajar
Book•2019•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Thalasemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan dan masuk
kedalam kelompok hemoglobinopati. Thalasemia merupakan penyakit yang banyak
ditemukan pada anak-anak dan penderitanya tersebar diseluruh dunia. Sampai saat ni
thalasemia belum dapat disembuhkan. Transfusi darah masih merupakan terapi satusatunya
bagi pasien thalasemia
guna
mempertahankan
hemoglobin
darah.
Memenuhi
kebutuhan
dasar
anak
adalah
kewajiban
yang
harus dipenuhi
oleh
orang
dewasa
atau
orangtua,
dalam
mmenuhi
kebutuhan
asih
pada
anak
peran
orangtua
sangat penting
dalam
pemberian
terapi
transfusi
pada
anak
dengan
thalasemia
karena
anak
belum
bisa
secara
mandiri
dalam
memenuhi
kebutuhannya.
Tujuan
:
Mengetahui
faktor-faktor
yang
berhubungan
dengan motivasi
orangtua
dalam
pemberian
terapi
transfusi
pada
anak
dengan
thalasemia
di
Rumah
Sakit
Sentra
Medika Cikarang
Tahun
2018
Metode
: Desain
dalam
penelitian
ini
adalah
Analitik
Kuantitatif
dengan
rancangan
atau penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah orangtua dari anak
penderita thalasemia di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang dengan populasi
berjumlah 252 orang. Dengan menggunakan Rumus Lameshow didapatkan sampel
pada penelitian ini berjumlah 70 orang, dan teknik pengambilan sampel
menggunakan Accidental Sampling. Analisis data di lakukan secara univariat dan
bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan nilai signifikan alpha 5% (α = 0,05)
dengan uji continuity correction sebagai alternatif nya.
Hasil : Ada hubungan antara usia, pengetahuan, akses fasilitas kesehatan, sosial
ekonomi, konsep diri dengan motivasi orangtua dalam pemberian terapi transfusi
pada anak dengan thalasemia di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang, didapatkan
Odds Ratio (OR) dari variabel usia adalah 5,400, variabel pengetahuan adalah 3,652,
variabel akses fasilitas kesehatan adalah 4,686, variabel sosial ekonomi adalah 3,167,
variabel konsep diri adalah 3,167.
Kesimpulan : Orangtua yang berusia dewasa awal (<35 tahun) lebih memeiliki
resiko 5,400 kali mempunyai motivasi yang kurang dalam pemberian terapi transfusi
pada anak dengan thalasemia dibandingkan dengan orangtua yang berusia desawa
akhir (≥35 tahun). Orangtua dengan pengetahuan kurang memiliki resiko 3,652 kali
memiliki motivasi kurang dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan
thalasemia dibandingkan dengan orangtua dengan pengetahuan baik. Orangtua yang
menyatakan akses fasilitas kesehatan kurang memiliki resiko 4,686 lebih besar
memiliki motivasi yang kurang dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan
thalasemia dibandingkan dengan orangtua yang menyatakan akses fasilitas kesehatan
baik. Orangtua dengan penghasilan rendah memiliki resiko 3,167 lebih besar
memiliki motivasi yang kurang dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan
thalasemia dibandingkan dengan orangtua dengan penghasilan tinggi. Orangtua
dengan konsep diri rendah memiliki resiko 3,167 lebih besar memiliki motivasi yang
kurang dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan thalasemia dibandingkan
dengan orangtua dengan konsep diri baik.
Saran : Diharapkan melalui penelitian ini orangtua diharapkan dapat meningkatkan
atau mempertahankan motivasi dalam pemberian terapi transfusi pada anak dengan
thalasemia
Open AccessThalasemia, motivasi, transfusi darah
Book•2019•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Data yang didapatkan pada saat aplikasi di RW 003 Desa Sukahurip
Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi pada bulan Juni 2018 – Juli 2018 didapatkan
penderita dengan hipertensi sebanyak 42 orang, dengan umur 23-61 tahun. Kejadian
hipertensi sering kali dikaitkan dengan faktor yang dapat memperbesar risiko atau
kecenderungan seseorang menderita hipertensi, diantaranya adalah pola makan,
aktivitas fisik, perilaku merokok, stres (faktor yang dapat dimodifikasi), sedangkan
faktor yang tidak dapat dimodifikasi diantaranya adalah faktor genetik, riwayat
keluarga, usia, ras.
Tujuan : Mengetahui hubungan gaya hidup (pola makan, aktivitas fisik, perilaku
merokok, manajemen stres) dengan derajat tekanan darah di RW 003 Desa
Sukahurip Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi.
Metode : Desain dalam penelitian ini adalah Analitik Kuantitatif dengan rancangan
atau penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah penderita
hipertensi usia produktif (23-61 tahun) di RW 003 Desa Sukahurip Kecamatan
Sukatani Kabupaten Bekasi. Sampel berjumlah 42 responden. Analisis data di
lakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan nilai
signifikan alpha 5% (α = 0,05) dengan uji continuity correction sebagai alternatif
nya.
Hasil : Ada hubungan antara pola makan, aktifitas fisik, manajemen stres dan tidak
ada hubungan antara perilaku merokok dengan derajat tekanan darah pada penderita
hipertensi di RW 003 Desa Sukahurip Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi Tahun
2018, didapatkan Odds Ratio (OR) dari variabel pola makan 7,600, aktivitas fisik
7,000, manajemen stres 4,875.
Kesimpulan : Pola makan, aktivitas fisik dan manajemen stres berhubungan dan
prilaku merokok tidak berubungan dengan derajat tekanan darah karena sebagian
besar penderita hipertensi tidak merokok.
Saran : Diharapkan melalui penelitian ini dapat memberikan saran agar penderita
hipertensi dapat melakukan gaya hidup sehat untuk menghindari komplikasi lebih
lanjut.
Open AccessGaya hidup, pola makan, aktivitas fisik, perilaku merokok, manajemen
stres, derajat tekanan darah
Book•2019•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran
antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hubungan tidak harmonis antar
saudara kandung khususnya masa usia sekolah akan mengalami kesulitan melakukan
penyesuaian sosial seperti hubungan yang buruk dengan teman sebaya, perilaku
antisosial, kesulitan belajar dan menunjukkan tanda psikopatologi seperti cemas,
depresi dan ketakutan.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan perilaku sibling rivalry di Desa Sukaraya Kecamatan Karang Bahagia
Kabupaten Bekasi Tahun 2018.
Metode : Penelitian ini termasuk kedalam analitik kuantitaitf, dengan menggunakan
metode Cross Sectional, yaitu faktor resiko dengan efek dilakukan pengukuran
dengan cara, observasi ataupun pengumpulan data sekaligus suatu saat. Adapun
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua yang
mempunyai anak usia sekolah (6-12 tahun) di Desa Sukaraya Kecamatan Karang
Bahagia Kabupaten Bekasi, jumlah sampel dengan menggunakan tingkat kesalahan
0,05. Populasi penelitian ini sebanyak 72 anak dan jumlah responden yang akan
diteliti sebanyak 72 responden.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara jenis
kelamin (P value = 0,002 < α (0,05) ; OR 5,133), perbedaan usia (P value = 0,001 <
α (0,05) ; OR 6,250), pola asuh orang tua (P value = 0,009 < α (0,05) ; OR 4,114),
dan jumlah saudara kandung (P value = 0,002 < α (0,05) ; OR 6,600) dengan
perilaku sibling rivalry.
Saran : Diharapkan bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah (6-12 tahun) dan
memiliki saudara kandung dapat membangun komunikasi dan perlakuan yang baik
kepada anak. Selain itu, diharapkan bagi orang tua untuk dapat memberikan
perhatian, waktu, cinta dan kasih sayang yang setara sesuai porsinya kepada masingmasing
anak.
Open AccessSibling rivalry, Usia sekolah, Jenis Kelamin, Pola Asuh Orang Tua,
Jumlah Saudara Kandung
Book•2019•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Data yang di dapatkan pada saat aplikasi di Desa Karang Reja Kecamatan
Pebayuran Kabupaten Bekasi Tahun 2018. Pada 2 Februari 2017 di dapatkan ibu yang mempunyai
bayi dengan usia sekitar 0-12 bulan Sebanyak 15 responden. terdapat 10 dari 15 keluarga. mengatakan
tidak tahu tentang pijat bayi. karena kurangnya informasi yang di dapatkan.dan pada tanggal juli-juni
di dapatkan ibu yang mempunyai bayi sekitar 60 keluarga. Tingkat pengetahuan Pijat bayi terjadi
akibat kurangnya informasi, pengalaman, yang mempengaruhi ibu mendapatkan pengetahuan tentang
pijat bayi.
Tujuan : Mengidentifikasi hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang pijat bayi di Desa Karang Reja
Kecamatan Pebayuran Kabupaten Bekasi.
Metode : Desain dalam penelitian ini adalah Analitik Kuantitatif dengan menggunakan cross
sectional dengan jumlah sampel 60 ibu yang mempunyai bayi di Desa Karang Reja Kecamatan
Pebayuran Kabupen Bekasi
Hasil : Ada Hubungan antara Pendidikan Tingkat pengetahuan ibu tentang pijat bayi Desa Karang
Reja Kecamatan Pebayuran Kabupen Bekasi di dapatkan Odds Ratio 5,313
Ada Hubungan antara usia Tingkat pengetahuan ibu tentang pijat bayi Desa Karang Reja Kecamatan
Pebayuran Kabupen Bekasi di dapatkan Odds Ratio 4,368
Ada Hubungan antara Pekerjaan Tingkat pengetahuan ibu tentang pijat bayi Desa Karang Reja
Kecamatan Pebayuran Kabupen Bekasi di dapatkan Odds Ratio 4,714
Ada Hubungan antara Lingkungan Tingkat pengetahuan ibu tentang pijat bayi Desa Karang Reja
Kecamatan Pebayuran Kabupen Bekasi di dapatkan Odds Ratio 4,073
Kesimpulan : ibu yang kurang mendapatkan informasi (media televisi, Handphone, Radio, dll)
tentang pijat bayi 35 kali lebih tinggi mengalami tingkat pengetahuan renda di banding dengan ibu
yang mendapatkan informasi yang baik
Saran : Di harapkan bagi pelayanan kesehatan dapat meningkatkan pembinaan peran serta
masyarakat di bidang kesehatan bayi. khususnya memberikan pendidikan kesehatan tentang pijat bayi
agar masyarakat mengetahui manfaat pijat bayi. Serta melakukan pembinaan kepada masyarakat
dengan baik
Open AccessPendidikan, Usia, Pekerjaan, Lingkungan