Hasil pencarian
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
Pencarian lanjut
Penerapan Inhalasi Aromaterapi Peppermint Pada Anak Balita yang Mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Waluya
Penerapan Asuhan Keperawatan Dalam Pemberian Air Rebusan Rambut Jagung Terhadap Penurunan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Lansia di RT 008 Desa Sukaringin Wilayah Kerja Puskesmas Sukatenang Bekasi 2026
Penerapan Asuhan Keperawatan Pemberian Air Rebusan Daun Salam Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Pada Lansia di Desa Sukakerta Wilayah Kerja Puskesmas Sukatenang Tahun 2025
Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Dismenore Pada Remaja Putri di SMAN 2 Sukatani
Latar Belakang: Dismenore merupakan gangguan menstruasi yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari maupun proses belajar. Faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian dismenore antara lain pola makan dan aktivitas fisik. Pola makan yang tidak seimbang serta aktivitas fisik yang rendah dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan meningkatkan produksi prostaglandin sehingga memicu nyeri menstruasi. Tujuan: Mengetahui hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore pada remaja putri kelas X di SMAN 2 Sukatani Tahun 2025. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner pola makan, aktivitas fisik, dan kejadian dismenore. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian: Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian dismenore dengan nilai p-value = 0,032 (p < 0,05), sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Selain itu, hasil uji statistik juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan kejadian dismenore dengan nilai p-value = 0,028 (p < 0,05), sehingga Ha diterima dan H0 ditolak. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian dismenore pada remaja putri kelas X di SMAN 2 Sukatani Tahun 2025.
Pengaruh Simulasi Etika Batuk dan Bersin Terhadap Pencegahan Penularan ISPA Pada Remaja di Desa Sukamakmur Tahun 2025
Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan penyakit menular melalui droplet saat sedang batuk atau bersin. Perilaku batuk dan bersin yang tidak sesuai etika berpotensi meningkatkan penyebaran penyakit, terutama pada kondisi tubuh yang sedang sakit. Studi pendahuluan terdapat beberapa remaja belum memahami dan menerapkan cara batuk dan bersin yang benar, sehingga diperlukan simulasi kesehatan guna mencegah penularan penyakit infeksi pernapasan. Tujuan: Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh simulasi etika batuk dan bersin terhadap pencegahan penularan ISPA pada remaja di Desa Sukamakmur Tahun 2025. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain pre-eksperimental One Group pretest-posttest. Populasi sebanyak 204 dengan sampel 68 remaja lakilaki dan perempuan menggunakan teknik purposive sampling. Kemudian data dianalisis uji statistik non parametrik Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Menunjukan hasil yang signifikan setelah dilakukan simulasi etika batuk dan bersin dengan nilai hasil p-value= 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan: Terbukti efektif meningkatkan perilaku terhadap pencegahan penularan ISPA remaja. Hal ini bisa menjadi upaya membentuk perilaku hidup sehat pada remaja.
Hubungan Kepatuhan Penggunaan Kelambu dan Kebiasaan Menggantung Pakaian Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Desa Sukajadi Kabupaten Bekasi Tahun 2025
Latar belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih sering terjadi dan berkaitan erat dengan perilaku pencegahan di lingkungan rumah. Perilaku kepatuhan penggunaan kelambu dan kebiasaan menggantung pakaian diduga berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya DBD. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan penggunaan kelambu dan kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 98 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak patuh menggunakan kelambu, yaitu 71 responden (72,4%), dan hampir setengah responden memiliki kebiasaan menggantung pakaian, yaitu 48 responden (49,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan penggunaan kelambu dengan kejadian DBD (p = 0,175). Sementara itu, terdapat hubungan yang sangat bermakna antara kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD (p = 0,000). Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan penggunaan kelambu dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Sebaliknya, terdapat hubungan yang sangat bermakna antara kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD. Dengan demikian, kebiasaan menggantung pakaian merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian DBD dalam penelitian ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui peningkatan edukasi kesehatan, khususnya terkait pengelolaan lingkungan rumah dan kebiasaan yang berpotensi menjadi tempat istirahat nyamuk, guna menurunkan risiko terjadinya DBD.
Pengaruh Edukasi Kesehatan Melalui Video Animasi Terhadap Pengetahuan Pencegahan Merokok Pada Remaja Usia 15-17 Tahun di Pondok Pesantren Ro'iyatul Mujahidin Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi
Latar Belakang: Merokok merupakan perilaku berisiko yang sering dimulai pada usia remaja dan berdampak serius pada kesehatan, seperti peningkatan risiko kanker paru-paru hingga kematian dini. Di Pondok Pesantren Roiyatul Mujahidin, ditemukan adanya santri yang merokok karena kurangnya pengetahuan, sehingga diperlukan media edukasi yang inovatif untuk meningkatkan pemahaman mereka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi kesehatan melalui media video animasi terhadap tingkat pengetahuan pencegahan merokok pada remaja usia 15-17 tahun di Pondok Pesantren Roiyatul Mujahidin, Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan model One Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian berjumlah 90 remaja laki-laki yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar soal pengetahuan pretest dan posttest yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Data kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Temuan penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari pemberian edukasi melalui video animasi terhadap peningkatan pengetahuan pencegahan merokok pada responden. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai signifikansi p-value = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan: Edukasi kesehatan dengan media video animasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan pencegahan merokok pada remaja. Media ini dapat menjadi strategi intervensi yang menarik dan edukatif bagi lingkungan pesantren untuk mencegah perilaku merokok di kalangan santri.
Pengaruh Edukasi Media Power Point dengan Tingkat Pengetahuan Tindakan Swamedikasi Pada Penyakit Gastritis Pada Remaja Umur 10-19 Tahun di Desa Sukahurip Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi
Latar Belakang : Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja dan umumnya ditangani melalui tindakan swamedikasi. Kurangnya pengetahuan remaja mengenai penggunaan obat secara rasional dapat meningkatkan risiko terjadinya kesalahan pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman remaja terkait tindakan swamedikasi yang tepat. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media PowerPoint terhadap tingkat pengetahuan tindakan swamedikasi penyakit gastritis pada remaja usia 10–19 tahun di Desa Sukahurip, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 95 remaja yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner pengetahuan swamedikasi gastritis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. sedangkan analisis bivariat dilakukan dengan uji Wilcoxon. Hasil Penelitian : adanya peningkatan tingkat pengetahuan dan tindakan swamedikasi setelah diberikan edukasi. Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai Z sebesar -8,512 dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara edukasi menggunakan media PowerPoint terhadap peningkatan tingkat pengetahuan dan tindakan swamedikasi gastritis pada remaja. Kesimpulan : Dapat disimpulkan bahwa edukasi kesehatan menggunakan media PowerPoint efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai tindakan swamedikasi gastritis yang rasional. Media PowerPoint dapat direkomendasikan sebagai sarana edukasi kesehatan bagi remaja dalam upaya pencegahan dan pengelolaan gastritis.
Hubungan Kemandirian Dengan Kualitas Hidup Pada Mahasiswa Perantau di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman
Latar Belakang: Mahasiswa perantau sering menghadapi tantangan adaptasi yang memengaruhi kualitas hidup mereka. Kemandirian menjadi faktor kunci dalam menentukan sejauh mana mahasiswa mampu bertahan dan mengelola kehidupan di perantauan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kemandirian dengan kualitas hidup pada mahasiswa perantau di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 58 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kemandirian dan kuesioner kualitas hidup. Hasil: Mayoritas responden memiliki kemandirian tinggi (79,3%) dan kualitas hidup yang baik (75,9%). Hasil uji statistik Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kemandirian dengan kualitas hidup dengan nilai pvalue = 0,000 (p < 0,05) dan nilai χ² = 28,954. Nilai Contingency Coefficient sebesar 0,577 menunjukkan kekuatan hubungan dalam kategori kuat. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kemandirian dengan kualitas hidup pada mahasiswa perantau di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman. Semakin tinggi tingkat kemandirian mahasiswa, maka semakin baik kualitas hidup mereka di perantauan.
Hubungan Frekuensi Reminiscence Dengan Tingkat Kesejahteraan Emosional Lansia Dengan Demensia di Posyandu Lansia Wilayah RW 01 Ciriung Kecamatan Cibinong
Latar Belakang: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan kesejahteraan emosional akibat perubahan psikososial yang terjadi selama proses penuaan. Upaya promotif dan preventif diperlukan untuk menjaga kondisi emosional lansia, salah satunya melalui terapi reminiscence yang berfokus pada pengingatan pengalaman hidup masa lalu yang bermakna. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara frekuensi terapi reminiscence dengan kesejahteraan emosional pada lansia di Posyandu RW 01.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra- eksperimental. Jumlah responden sebanyak 56 lansia. Pengukuran frekuensi reminiscence dilakukan menggunakan Reminiscence Functions Scale (RFS), sedangkan kesejahteraan emosional diukur menggunakan kuesioner kesejahteraan emosional. Analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji SpearmanRank. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar lansia memiliki frekuensi terapi reminiscence pada kategori sedang (48,2%), diikuti kategori tinggi (30,4%) dan kategori rendah (21,4%). Pada variabel kesejahteraan emosional, mayoritas responden berada pada kategori sangat sejahtera (78,6%), sedangkan 21,4% berada pada kategori tidak sejahtera. Uji statistik Spearman Rank menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara frekuensi terapi reminiscence dengan kesejahteraan emosional lansia dengan nilai p-value = 0,000(p<0,05). Kesimpulan: Frekuensi terapi reminiscence memiliki hubungan yang signifikan dengan kesejahteraan emosional lansia. Lansia yang lebih sering melakukan reminiscence cenderung memiliki kesejahteraan emosional yang lebih baik.
Hubungan Dukungan Keluarga Dalam Kepatuhan Perawatan Pada Pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2024
Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik dengan ditandai peningkatan kadar glukosa dalam darah, yang dikenal sebagai hiperglikemia yang dikarenakan gangguan dalam sekresi insulin dan ketidakcukupan fungsi insulin itu sendiri dan dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan, serta berdampak signifikan pada kualitas hidup penderita. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden dan memberikan gambaran demografi mengenai hubungan antara dukungan keluarga dalam kepatuhan perawatan pada pasien Diabetes Melitus di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif cross-sectional dan menekankan pada waktu yang dihabiskan untuk mengukur atau mengamati data variabel dependen dan independen satu per satu terhadap 62 sample dari 160 populasi dibulan Oktober sampai November di RS Sentra Medika Cibinong. Berdasarkan Uji Normalitas data Kolmogrov-Smirnov dan penelitian diperoleh asymp.sig (2-tailed) sebesar 0,576 atau > 0,05 artinya data terdistribusi dengan normal dan berdasarkan analisis statistik uji chi-square menunjukkan bahwa P-Value = 0,005 (P<alpa 0,05), maka Ha diterima yang berarti bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga tinggi dengan peningkatan kepatuhan perawatan di RS Sentra Medika Cibinong. Dari hasil penelitian ini, analisis data dan pembahasan maka tujuan penelitian telah terjawab yakni ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan perawatan pada pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong Tahun 2024. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi RS Sentra Medika Cibinong dalam upaya memberikan promosi kepada pasien diabetes melitus mengenai pentingnya menjaga kepatuhan dalam melaksanakan aktivitas perawatan diri.
Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Pasien Penyakit Ginjal Kronis Dalam Menjalani Hemodialisa di RS Harapan Bunda Jakarta Timur
Latar belakang: Penyakit Ginjal Kronis (PGK) yang menjalani hemodialisa kerap menghadapi tekanan fisik dan psikologis, termasuk kecemasan yang berdampak pada kualitas tidur. Data RS Harapan Bunda menunjukkan bahwa banyak pasien mengalami kecemasan tinggi dan gangguan tidur, yang dapat memengaruhi efektivitas terapi.Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dan kualitas tidur pada pasien PGK yang menjalani hemodialisa. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional, yaitu studi potong lintang yang mengamati hubungan antar variabel pada satu waktu. Sampel sebanyak 91 responden dipilih menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis dilakukan secara kuantitatif menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Mayoritas responden berusia >50 tahun (62,6%), laki-laki (54,9%), dan berpendidikan menengah (48,4%). Tingkat kecemasan terdiri dari berat (38,5%), sedang (34,1%), dan ringan (27,5%). Sebanyak 56,0% responden mengalami kualitas tidur buruk. Uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dan kualitas tidur (p=0,000). Kesimpulan: Penelitian kuantitatif ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kecemasan dan kualitas tidur pasien PGK yang menjalani hemodialisa. Diperlukan intervensi edukatif dan psikologis untuk meningkatkan kualitas tidur pasien.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Pasien Hemodialisa Terhadap Kemampuan Perawatan Cimino Secara Mandiri di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang
Latar Belakang : Penyakit Ginjal Kronis (PGK) stadium akhir merupakan isu kesehatan global yang signifikan. Komplikasi pada pasien PGK stadium akhir dengan hemodialisis menggunakan cimino dapat dicegah melalui perilaku self-care. Perilaku self-care didefinisikan sebagai segala tindakan yang dilakukan oleh pasien PGK stadium akhir guna memelihara dan meningkatkan kesehatan serta fungsi cimino selama proses hemodialisis. Dan hal ini harus didasari oleh pengetahuan pasien terkait perawatan cimino yang dilakukan secara mandiri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan tingkat pengetahuan pasien hemodialisa terhadap kemampuan perawatan cimino secara mandiri di RS. Sentra Medika Cikarang. Metode : penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini dipresisi menggunakan rumus Slovin dengan total sampel yaitu sebanyak 102 orang responden pasien penyakit gagal ginjal yang menjalani hemodialisa. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat menggunakan chi-suqare test. Hasil : Hasil menunjukan terdapat nilai signifikan p-value = 0,000 (p<α). Kesimpulan : terdapat hubungan tingkat pengetahuan pasien hemodialisa terhadap kemampuan perawatan cimino secara mandiri di RS. Sentra Medika Cikarang. Saran : Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas perawatan dan pengetahuan pasien PGK yang menjalani hemodialisa, disarankan kepada pihak managemen rumah sakit untuk memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai perawatan cimino mandiri kepada pasien. Sehingga, dengan pemberian eduaksi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku self-care pasien dalam perawatan cimino secara mandiri.
Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Stunting Dengan Perilaku Pencegahan Stunting Pada Anak (0-5 Tahun) di Posyandu Wilayah Puskesmas Cikarang
Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak terhambat sehingga menyebabkan tinggi badan lebih rendah disandingkan dengan umurnya. WHO (2022) menyatakan 148,1 juta (22,3%) balita mengalami stunting. Prevalensi stunting tahun 2022 pada balita di Indonesia 21,6%, di Jawa Barat 20,2%, dan tahun 2024 di Posyandu Wilayah Puskemas Cikarang 3,6%. Pengetahuan seorang ibu mengenai stunting memiliki pengaruh dalam membentuk perilaku yang mendukung pencegahan stunting dan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dengan perilaku pencegahannya di anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 99 ibu dengan anak usia 0-5 tahun, yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner guna mengukur tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan. Analisis data dilaksanakan menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian mengindikasikan adanya hubungan antara pengetahuan ibu mengenai stunting dan upaya pencegahannya, bernilai p = 0,018 (p≤0,05) dan Odds Ratio 2,935. Temuan ini menemukan bahwa tingkat pengetahuan ibu berpengaruh terhadap perilaku pencegahan stunting anak usia 0-5 tahun di Posyandu wilayah Puskesmas Cikarang.
Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien Lansia Dengan Hipertensi di Puskesmas Kecamatan Kedung Waringin
Latar belakang : Aktivitas fisik dengan nyeri kepala pada hipertensi yang menyebabkan pembuluh darah menyempit akibatnya jaringan mengalami penurunan kadar oksigen (O2) dan peningkatan karbon dioksida (CO2) terjadinya proses metabolisme anaerob. Tujuan : Mengetahui Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Nyeri Kepala Pada Pasien Lansia Hipertensi Di Puskesmas Kecamatan Kedungwaringin. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan teknik total sampling dengan jumlah 91 responden pada lansia 55-90 tahun. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner aktivitas dengan nyeri pada pasien lansia. Hasil Penelitian : Berdasarkan aktivitas fisik dan intensitas nyeri paling banyak yaitu aktivitas fisik sedang 31 responden (88,6%) mengalami nyeri sedang. Tidak ada aktivitas fisik sedang mengalami nyeri berat. Selanjutnya aktivitas fisik berat yakni 25 responden (100%) mengalami nyeri ringan. Hasil penelitian dari uji Chi-Square didapatkan adanya Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Nyeri Kepala Pada Pasien Lansia dengan nilai p-value 0,000 (p<0,05). Kesimpulan : Adanya Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Nyeri kepala Pada Pasien Lansia di Puskesmas Kecamatan Kedungwaringin.
Hubungan Dukungan Sosial Orang Tua Dengan Tingkat Stres Mahasiswa yang Sedang Mengerjakan Tugas Akhir di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman
Latar belakang: Mahasiswa tingkat akhir sering mengalami stres saat mengerjakan tugas akhir. Berbagai faktor internal maupun faktor internal mampu mempengaruhi tingkat stres salah satunya ialah dukungan sosial orang tua. Dalam hal menekan tingkat stres akademik mahasiswa salah satu yang berperan penting yaitu dukungan sosial orang tua. Tujuan dari penelitian ini: Untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial orang tua dengan tingkat stres mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif melalui pendekatan deskriptif korelasi serta desain cross-sectional. Tingkat stres diukur menggunakan instrumen DASS-21. Menggunakan probability sampling dengan sampel 70 mahasiswa tahun terakhir di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman. Hasil penelitian: Menandakan adanya hubungan yang signifikan terkait dukungan sosial orang tua dan tingkat stres mahasiswa memiliki nilai p-value 0,001, di mana mahasiswa dengan dukungan sosial tinggi memiliki risiko lebih kecil mengalami stres berat (PR 0,480, CI 0,306–0,753) dan hubungan berada pada kategori sedang (CC 0,382). Kesimpulan: Adanya hubungan antara dukungan sosial orang tua dengan tingkat stres pada mahasiswa yang tengah menyelesaikan tugas akhir pada Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Medika Suherman dan berada pada kategori sedang dengan arah hubungan yang berbanding terbalik, yang berarti apabila dukungan sosial orang tua semakin tinggi, maka makin rendah tingkat stres yang dialami mahasiswa semakin rendah. Diharapkan mahasiswa lebih terbuka kepada orang tua untuk mendapatkan dukungan yang dapat membantu mengurangi stres.
Hubungan Dukungan Keluarga dan Tingkat Self Awareness Dengan Penularan Penyakit Pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Kab. Bekasi
Latar Belakang : Bakteri Mycobacterium Tuberculosis menyebabkan Tuberkulosis (Tb), yang merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri ini berukuran 0,5–4 milimeter x 0,3–0,6 milimeter dan memiliki lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid yang sulit ditembus oleh zat kimia. Tuberkulosis adalah penyakit yang dapat menyerang banyak bagian tubuh, seperti otak, ginjal, dan tulang belakang. Target penyakit Tb yang paling umum adalah paru-paru. Agen infeksius utama dari penyakit ini adalah Mycobacterium Tuberculosis sehingga bakteri Tb yang masuk ke paru-paru akan merusak dan bisa menular dari orang ke orang melalui transmisi udara. Tujuan utama dari peneliti ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis apakah ada Hubungan Dukungan Keluarga Dan Tingkat Self Awareness Dengan Penularan Penyakit Pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Kab. Bekasi. Subyek dan Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analitik korelasional dengan desain penelitian Cross Sectional. Lokasi penelitian RSUD Kab. Bekasi. Populasi sasaran dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien Tuberkulosis Paru dengan total 100 pasien. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Dalam penelitian ini variabel independen adalah hubungan dukungan keluarga (X1), Self awareness (X2) dan variabel dependen adalah penularan penyakit tuberkulosis paru (Y) metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil: Terdapat hubungan dukungan keluarga dengan penularan penyakit tuberkulosis di RSUD Kab. Bekasi. Hasil uji Chi-square p=0,000<0,05. Berdasarkan analisis koreasional didapatkan dukungan keluarga 85,22 di RSUD Kab. Bekasi. Kesimpulan: Sebagian keluarga sangat membantu dalam meningkatkan pengetahuan atau kepatuhan pasien Tb Paru serta memberikan dukungan dan motivasi
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Gejala Depresi Pada Pasien TB Paru di Puskesmas Tambelang Tahun 2024
Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak didunia yang disebabkan oleh bakteri tuberculosis, pengobatan TB Paru perlu waktu yang lama serta pengobatan yang kompleks sehingga dapat menimbulkan terjadinya gejala depresi, salah satu cara mencegah depresi adalah dengan dukungan keluarga sebagai bentuk dukungan bagi pasien TB Paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan gejala depresi pada pasien TB Paru dipuskesmas Tambelang. Jenis penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan crosssectional, sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi dapat dijadikan sampel dengan jumlah sebanyak 58 pasien TB Paru rawat jalan di Puskesmas Tambelang. Analisis yang digunakan univariate dan bivariate dengan uji statistik menggunakan chi square. Hasil penelitian bivariat ada hubungan dukungan keluarga dengan gejala depresi pada pasien TB Paru dipuskesmas Tambelang dengan keluarga yang mendukung dan tidak mengalami depresi sebanyak 23 responden (57,5%), responden yang dapat dukungan keluarga dan mengalami depresi ringan 17 responden (42,5%), dan nilai p value 0,004 (a=0,05). Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat memberikan informasi kepada keluarga pasien pentingnya support sistem dari keluarga bagi pasien yang sakit.