Hasil pencarian
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
Pencarian lanjut
Analisis Praktik Keperawatan Berbasis Bukti Terapi Massage Effleurage Dengan Virgin Coconut Oil (VCO) Terhadap Pencegahan Risiko Dekubitus Pada Pasien Stroke di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bayu Asih Purwakarta
Analisis Praktik Keperawatan Berbasis Bukti Penerapan Terapi Musik Klasik Terhadap Tingkat Ansietas Pada Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang Menjalani Hemodialisa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bayu Asih Purwakarta
Efektivitas Minum Air Hangat dan Kompres Air Hangat Terhadap Penurunan Rasa Mual Pada Mahasiswa Keperawatan Semester Akhir yang Menderita Gastritis di Universitas Medika Suherman
Latar Belakang: Gastritis merupakan masalah kesehatan yang masih tinggi prevalensinya secara global dan nasional, dengan angka mencapai 25% di dunia dan sekitar 40,8% di Indonesia. Di Jawa Barat, kejadian gastritis mencapai 31,2% dan di Kota Bekasi tercatat 8.620 kasus pada tahun 2019. Mahasiswa keperawatan termasuk kelompok berisiko akibat pola makan tidak teratur dan stres akademik. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa 70% mahasiswa mengalami mual sebagai gejala utama gastritis, namun sebagian besar belum memanfaatkan intervensi nonfarmakologis. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas minum air hangat dan kompres air hangat terhadap penurunan rasa mual pada mahasiswa keperawatan semester akhir penderita gastritis di Universitas Medika Suherman. Metode: Menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan two group pretest– posttest design. Sampel berjumlah 30 responden yang dibagi menjadi dua kelompok. Pengukuran rasa mual menggunakan Rhodes Index of Nausea, Vomiting, and Retching (RINVR). Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann–Whitney pada α = 0,05. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa minum air hangat berpengaruh signifikan terhadap penurunan rasa mual (p = 0,038), dan kompres air hangat juga berpengaruh signifikan (p = 0,002). Uji perbandingan menunjukkan terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara kedua intervensi (Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000), di mana minum air hangat lebih efektif dibandingkan kompres air hangat. Kesimpulan: Disarankan penggunaan minum air hangat dan kompres air hangat sebagai intervensi nonfarmakologis untuk membantu menurunkan rasa mual pada penderita gastritis, dengan minum air hangat sebagai pilihan utama karena terbukti lebih efektif. Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan intervensi ini secara mandiri sebagai upaya awal penanganan mual. Tenaga kesehatan dapat menjadikannya sebagai alternatif dalam asuhan keperawatan. Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan desain yang lebih kuat dan jumlah sampel yang lebih besar.
Perbanidngan Efektivitas Edukasi Media Leaflet dan Video Terhadap Pengetahuan Pencegahan Demam Berdarah Dengue di Desa Sukarahayu Tahun 2026
Latar Belakang : Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah endemis. Di Indonesia pada tahun 2022 dilaporkan sebanyak 131.265 kasus DBD dengan 1.183 kematian. Dan kembali meningkat di tahun 2024 mencapai 210.644 kasus dengan 1.239 kematian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan efektivitas media leaflet dan video edukasi pencegahan DBD terhadap kejadian DBD di Desa Sukarahayu. Metode Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pretest–posttest two group design. Sampel penelitian ini diambil menggunakan teknik purposive sampling dan terdapat 74 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok media leaflet dan media video. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan pengetahuan pada kelompok media leaflet dan video (p=0,000). Uji Mann–Whitney menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua media (p=0,000), dengan mean rank media video (48,93) lebih tinggi dibandingkan leaflet (26,77). Kesimpulan edukasi kesehatan dalam penelitian ini menunjukan bahwa menggunakan media video lebih efektif dibandingkan media leaflet.
Hubungan Keualitas Tidur Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri di SMP Negeri 1 Cabangbungin
Latar Belakang: Anemia masih menjadi masalah kesehatan yang banyak dialami oleh remaja putri dan dapat berdampak pada penurunan konsentrasi belajar, kelelahan, serta menurunnya produktivitas sehari-hari. Salah satu faktor yang diduga berperan terhadap kejadian anemia adalah kualitas tidur. Pada masa remaja terjadi perubahan ritme sirkadian yang menyebabkan kecenderungan tidur lebih larut, ditambah dengan beban akademik dan penggunaan gawai yang dapat menurunkan kualitas tidur. Kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh dan proses pembentukan hemoglobin sehingga meningkatkan risiko terjadinya anemia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMP Negeri 1 Cabangbungin tahun 2025. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 84 siswi remaja putri yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sedangkan kejadian anemia ditentukan berdasarkan pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan alat Hb meter dengan batas anemia <12 g/dL. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57,1% responden memiliki kualitas tidur buruk dan 56,0% responden mengalami anemia. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) yang menandakan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja putri. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMP Negeri 1 Cabangbungin.
Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Konsentrasi Belajar Anak di Kelas V Sekolah Dasar Cikarang Kota 01 Tahun 2026
Latar Belakang: Masalah konsentrasi belajar masih banyak dialami siswa sekolah dasar. Studi pendahuluan di SD Negeri Cikarang Kota 01 menunjukkan banyak siswa kelas V mengalami kesulitan berkonsentrasi seperti mudah terdistraksi dan sering melamun. Tujuan: Menganalisis hubungan kebiasaan sarapan pagi, pola tidur, motivasi belajar, dan lingkungan belajar dengan konsentrasi belajar anak kelas V SD Negeri Cikarang Kota 01. Metode: Penelitian kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional pada 42 siswa menggunakan total sampling. Instrumen meliputi Barkley Child Attention Scale (BCAS), kuesioner kebiasaan sarapan pagi, Children's Sleep Habits Questionnaire (CSHQ), kuesioner motivasi belajar, dan What Is Happening in This Class (WIHIC). Data dianalisis dengan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil: Sebanyak 50% siswa memiliki konsentrasi rendah (n=21), 33,3% tinggi (n=14), dan 16,7% sedang (n=7). Terdapat hubungan signifikan antara motivasi belajar dengan konsentrasi belajar (χ²=14,344; p=0,006; C=0,505) dengan 69,2% siswa motivasi tinggi memiliki konsentrasi tinggi. Kebiasaan sarapan pagi (p=0,092), pola tidur (p=0,147), dan lingkungan belajar (p=0,670) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Kesimpulan: Motivasi belajar merupakan satu-satunya faktor yang berhubungan signifikan dengan konsentrasi belajar. Saran: Sekolah mengembangkan program peningkatan motivasi belajar melalui metode pembelajaran interaktif, sistem reward, dan menciptakan suasana belajar menyenangkan.
Perbandingan Efektivitas Pemberian Pusing Kacang Hijau dan Kacang Merah Terhadap Kadar Hemoglobin Pada Siswi Dengan Anemia di SMPN 1 Cabangbungin
Latar Belakang: Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap status gizi, daya tahan tubuh, serta prestasi belajar. Salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan anemia dapat dilakukan melalui pemanfaatan pangan lokal sumber zat besi, seperti kacang hijau dan kacang merah, sebagai alternatif intervensi non-farmakologis yang mudah diterima oleh remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian puding kacang hijau dan puding kacang merah terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada siswi anemia di SMPN 1 Cabangbungin. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan pretest–posttest two group design. Sampel terdiri dari 58 siswi yang mengalami anemia dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok puding kacang hijau dan kelompok puding kacang merah. Intervensi diberikan selama 7 hari berturut-turut. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan pretest dan posttest, serta Uji Mann-Whitney untuk membandingkan efektivitas kedua kelompok. Hasil: Seluruh responden memiliki kadar hemoglobin <12,0 g/dl pada awal penelitian. Setelah intervensi, sebagian besar responden mengalami peningkatan kadar hemoglobin. Sebanyak 41,4% responden pada kelompok puding kacang hijau dan 44,8% pada kelompok puding kacang merah mencapai kadar hemoglobin normal >12,0 g/dl. Kesimpulan: Pemberian puding kacang hijau dan kacang merah efektif meningkatkan kadar hemoglobin pada siswi anemia dan berpotensi diterapkan sebagai intervensi non-farmakologis di lingkungan sekolah
Pengaruh Kebiasaan Sarapan Pagi Telur Ayam Rebus Terhadap Kejadian Anemia Pada Siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi
Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah nilai normal dan menjadi masalah kesehatan yang masih banyak ditemukan pada remaja putri. Kondisi ini dipengaruhi oleh kehilangan darah saat menstruasi, pola makan yang tidak seimbang, serta kebiasaan melewatkan sarapan pagi. Data Puskesmas Cikarang Utara tahun 2025 menunjukkan bahwa 114 dari 482 siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi mengalami anemia. Salah satu upaya nonfarmakologis yang mudah diterapkan adalah pembiasaan sarapan pagi dengan telur ayam rebus yang mengandung protein, zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang berperan penting dalam proses pembentukan hemoglobin. Tujuan: Mengetahui pengaruh kebiasaan sarapan pagi telur ayam rebus terhadap kejadian anemia pada siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 64 siswi yang memenuhi kriteria inklusi. Intervensi berupa sarapan pagi telur ayam rebus diberikan selama tujuh hari berturut-turut. Pengukuran kadar hemoglobin dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan alat pemeriksaan Hb. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dari Universitas Medika Suherman dengan Nomor Surat NO.005220/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025. Hasil: Sebelum intervensi, 41 siswi (64,1%) berada pada kategori anemia dan 23 siswi (35,9%) tidak anemia. Setelah intervensi, jumlah siswi tidak anemia meningkat menjadi 53 orang (82,8%), sedangkan 11 siswi (17,2%) masih anemia. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan kadar hemoglobin yang bermakna secara statistik (Z = –6,192; p = 0,000). Kesimpulan: Sarapan pagi telur ayam rebus berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin dan penurunan kejadian anemia pada siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi.
Pengaruh Mengonsumsi Jus Bayam Merah dan Kurma Terhadap Kadar Hemoglobin Pada Siswi yang Mengalami Anemia di MAN 1 Kabupaten Bekasi Tahun 2025
Latar Belakang: Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal dan sering dialami remaja putri akibat menstruasi, kurangnya asupan zat besi, serta pola makan tidak seimbang. Data Puskesmas Cikarang tahun 2025 menunjukkan bahwa 114 dari 482 siswi di MAN 1 Kabupaten Bekasi mengalami anemia. Upaya penanganan dapat dilakukan melalui intervensi nonfarmakologis berbasis pangan lokal. Bayam merah dan kurma mengandung zat besi, folat, dan vitamin C yang berperan dalam pembentukan hemoglobin. Tujuan: Mengetahui pengaruh konsumsi jus bayam merah dan kurma terhadap kadar hemoglobin pada siswi anemia. Metode: Penelitian menggunakan desain preeksperimental dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel berjumlah 53 siswi dengan kadar hemoglobin <12 g/dL. Intervensi jus bayam merah dan kurma diberikan sekali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan penelitian telah memperoleh persetujuan etik. Hasil: Sebelum intervensi seluruh responden (100%) mengalami anemia. Setelah intervensi, 47 siswi (88,7%) mencapai kategori tidak anemia dan 6 siswi (11,3%) masih anemia. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p<0,05 sehingga terdapat peningkatan kadar hemoglobin yang signifikan. Kesimpulan: Konsumsi jus bayam merah dan kurma berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada siswi anemia. Saran: Sekolah dan tenaga kesehatan diharapkan meningkatkan edukasi gizi serta mendorong konsumsi pangan kaya zat besi pada remaja putri.
Pengaruh Terapi Rendam Air Hangat Terhadap Penurunan Derajat Edema Pasien Gagal Ginjal Kronik Post Hemodialisis Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta Tahun 2024
Latar Belakang: Gagal ginjal menimbulkan tanda dan gejala pada tubuh penderitanya seperti sesak nafas, pusing, lemas, mual dan muntah, gelisah, sering haus, sulit buang air kecil, dan edema anasarka (Nurbadriyah, 2021). Menurut Ryski dan Guyton dalam Isroin (2016), edema pada jaringan mempengaruhi kekuatan otot. Hal ini karena hingga setengah jumlah cairan bebas menembus ke dalam interstitium, meningkatkan jarak difusi nutrisi dan oksigen dari kapiler ke jaringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi rendam air hangat terhadap penurunan derajat edema pasien gagal ginjal kronik post hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Quasy Experiment. Hasil: Penelitian ini menunjukkan ada 18 (72%) orang yang mengalami penurunan derajat edema dengan nilai p-value dari uji Wilcoxon sebesar 0,000. Kesimpulan: Ada pengaruh terapi rendam air hangat terhadap penurunan derajat edema pasien gagal ginjal kronik post hemodialisis Rumah Sakit Harapan Bunda Jakarta Tahun 2024. Saran untuk pasien agar dapat dapat menerapkan latihan yang sudah diajarkan dalam penelitian ini secara berkelanjutan untuk membantu mengontrol derajat edema selama periode interdialitik.
Pengaruh Reedukasi Prosedur Tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Jantung Koroner di Ruang Inap RS Sentra Medika Cikarang Tahun 2025
Hubungan Lama Menderita DM dan Obesitas Dengan Kejadian Diabetic Peripheral Neuropathy (DPN) Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Klinik "X" Cikarang Timur Tahun 2025
Diabetic Peripheral Neuropathy (DPN) merupakan salah satu komplikasi utama pada pasien Diabetes Melitus (DM) tipe II yang mengalami peningkatan prevalensi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kejadian DPN meningkat sebesar 65% dari total 80 pasien yang menjalani pengobatan, dengan obesitas sebagai faktor risiko yang umum. Mengingat tingginya angka kejadian Diabetic peripheral neuropathy (DPN), penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama menderita DM dan obesitas dengan kejadian Diabetic peripheral neuropathy (DPN) pada pasien Diabetes Melitus (DM) tipe II di Klinik X, Cikarang Timur tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Data dikumpulkan melalui teknik observasi terhadap 80 pasien DM tipe II. Hubungan antara variabel dianalisis menggunakan uji Spearman Rank untuk menentukan kekuatan dan arah hubungan antara durasi menderita DM, obesitas (BMI), dan kejadian Diabetic Peripheral Neuropathy (DPN). Analisis menunjukkan bahwa durasi DM memiliki hubungan positif dengan kejadian DPN (r = 0,324; p = 0,003), yang berarti semakin lama seseorang menderita DM, semakin tinggi risiko mengalami Diabetic Peripheral Neuropathy (DPN). Sebaliknya, hubungan antara durasi DM dan obesitas tidak signifikan (r = -0,180; p = 0,110). Selain itu, obesitas juga tidak memiliki hubungan signifikan dengan kejadian DPN (r = 0.060; p = 0,598). Penelitian ini menegaskan bahwa lama menderita DM merupakan faktor utama yang berhubungan dengan kejadian DPN, sedangkan obesitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan durasi DM maupun Diabetic Peripheral Neuropathy (DPN). Hasil ini menyoroti pentingnya pengelolaan DM jangka panjang untuk mencegah komplikasi Diabetic Peripheral Neuropathy (DPN).
Pengaruh Edukasi Perawatan Botol Susu Terhadap Peningkatan Pengetahuan Orang Tua Dalam Pencegahan Diare Berulang Pada Anak Usia 6-24 Bulan di Ruang Melati Rumah Sakit Karya Medika 1 Cikarang
Diare pada anak usia 6-24 bulan sering disebabkan oleh kurangnya higienitas dalam perawatan botol susu. Diare menjadi masalah kesehatan global dengan angka kematian balita 11% per tahun, terutama usia 6–24 bulan. Di Indonesia, diare penyebab kematian kedua pada balita (5,8%) setelah pneumonia (12,5%) dengan prevalensi tertinggi pada usia 6–11 bulan (21,65%). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh perawatan botol susu terhadap peningkatan pengetauan orang tua terhadap pencegahan diare berulang pada anak 6–24 bulan. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain quasi-experiment dengan metode pendekatan pre-test dan post-test untuk mengukur pengaruh edukasi perawatan botol susu terhadap pencegahan diare berulang pada anak usia 6–24 bulan. Uji wilcoxon digunakan untuk analisis data, dengan populasi sebanyak 68 responden. Sampel dipilih menggunakan teknik non probaliti : purposive sampling berdasarkan kriteria yang ditetapkan peneliti sebanyak 58 sampel. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan signifikan sebelum dan sesudah edukasi (p = 0.000), yang berarti edukasi perawatan botol susu efektif meningkatkan pengetahuan orang tua. Saran: Pentingnya perawatan botol susu untuk mencegah diare pada anak toddler, dengan menjaga kesehatan yang optimal.
Efektivitas Edukasi Menggunakan Pamflet dan Media Video Terhadap Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang SADARI di SMAN 3 Tambun Selatan Tahun 2024
Remaja adalah periode transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, di mana mereka sering menghadapi berbagai isu kesehatan, termasuk risiko kanker payudara. Minimnya pengetahuan remaja mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) menjadi fokus utama penelitian ini. Edukasi tentang SADARI sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam deteksi dini kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas edukasi menggunakan pamflet dan media video terhadap tingkat pengetahuan remaja putri tentang SADARI di SMAN 3 Tambun Selatan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan quasi-experimental dan desain two-group pre-post test. Populasi penelitian terdiri dari 598 remaja putri, dengan teknik total sampling yang melibatkan 592 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan. Hasil uji non-parametrik Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi (sig.) sebesar 0.000, yang mengindikasikan adanya efektivitas edukasi SADARI menggunakan pamflet dan media video terhadap tingkat pengetahuan remaja. Sebagian besar remaja kurang peduli terhadap kesehatan payudara. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk menjadikan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebagai kebiasaan rutin dalam memantau kesehatan payudara mereka. Dengan demikian, edukasi yang tepat dapat meningkatkan kesadaran dan tindakan preventif di kalangan remaja
Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Remaja Terhadap Kejadian Merokok Pada Siswa SMA Negeri 3 Tambun Selatan Tahun 2025
prevalensi kebiasaan merokok perhatian serius pada perokok laki – laki dewasa didunia sebesar 35,7% didunia, sedangkan di Indonesia mencapai 62,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan dan perilaku remaja terhadap kejadian merokok pada siswa SMA Negeri 3 Tambun Selatan 2025. Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan coss sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa Laki – laki SMAN 3 Tambun Selatan yang berjumlah 452 siswa, ditentukan sampel siswa sebanyak 440 responden. Penelitian ini dilaksanakan tanggal 31 Januari 2025. Hasil penelitian ini dianalisis menggunakan uji Chi square dengan menunjukan terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian merokok dengan p-value = 0,005 (<0,05), dan terdapat hubungan antara Perilaku dengan kejadian merokok dengan p-value = 0,000 (<0,05). Kesimpulannya, pengetahuan dan perilaku remaja berpengaruh terhadap kebiasaan merokok. Oleh karena itu, edukasi mengenai bahaya merokok perlu ditingkatkan di sekolah guna menekan angka merokok di kalangan remaja.
Efektivitas Senam Vertigo Terhadap Keseimbangan Tubuh Pada Lansia (Lanjut Usia) di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kota Bekasi
Keseimbangan tubuh yaitu kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan jika di tempatkan diberbagai posisi. Keseimbangan tubuh pada lanjut usia sering terjadinya penurunan yang disebabkan proses penuaan, yang dapat meningkatkan risiko jatuh dan menurunkan kualitas hidup. Salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia adalah senam vertigo. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan senam vertigo dengan keseimbangan tubuh pada lansia di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kota Bekasi. Penelitian ini megunakan metode kuantitatif desain quasi-eksperimental dengan one group pre-test and post-test dengan pendekatan crossectional. Sampel terdiri dari 44 responden yang mengalami gangguan keseimbangan, dengan teknik purposive sampling. Pengukuran keseimbangan tubuh dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Balance Evaluation System Test. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam keseimbangan tubuh lansia setelah dilakukan intervensi senam vertigo P -Value 0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukan bahwa senam vertigo efektif dalam meningkatkan keseimbangan tubuh pada lansia, sehingga dapat menjadi salah satu metode intervensi dalam mencegah risiko jatuh dan meningkatkan kualitas hidup lansia. Kesimpulan pada penelitian ini adanya hubungan senam vertigo dengan keseimbangan tubuh pada lansia.