Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

18 hasil
Subjek: tuberkulosis

Hubungan Status Sosial Ekonomi dan Perilaku Merokok Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cibarusah Kabupaten Bekasi

Book2026Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2024 Kemenkes RI mencatat sebanyak 889.000 kasus tuberkulosis paru di Indonesia. Hal tersebut dipengaruhi oleh determinan sosial ekonomi dan perilaku merokok sebagai faktor resiko terjadinya tuberkulosis paru. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara status sosial ekonomi dan perilaku merokok dengan kejadian tuberkulosis paru di Puskesmas Cibarusah Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian: Populasi dalam penelitian ini yakni pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian descriptive correlation dengan pendekatan Cross Sectional, mengunakan teknik Purposive Sampling yang melibatkan 92 responden. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner status sosial ekonomi dan GN-SBQ (Glover Nilson – Smoking Behavioral Questionnaire) yang hasilnya di uji menggunakan uji korelasi Spearman. Penelitian ini juga sudah lolos uji etik dengan No:005144/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025 yang terbit pada tanggal 29 Oktober 2025. Hasil Penelitian: Hasil penelitian dari uji korelasi Spearman didapatkan adanya hubungan antara status sosial ekonomi dengan kejadian tuberkulosis paru, dengan p-value 0,000, dan juga terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian tuberkulosis paru, dengan p-value 0,031. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ada hubungan antara status sosial ekonomi dan perilaku merokok dengan kejadian tuberkulosis paru di Puskesmas Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Rekomendai: Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam upaya pencegahan tuberkulosis paru melalui pengendalian perilaku merokok dan peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat.

Open AccessStatus Sosial Ekonomi, Perilaku Merokok, Tuberkulosis Paru
oai:ais:library-item:27728Lihat detail

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Tingkat Kepatuhan Terhadap Gambaran Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cikarang Utara

Book2025Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya. Pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi berperan penting dalam proses penyembuhan dan peningkatan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap gambaran kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Cikarang Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari pasien TB paru rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi, diambil menggunakan metode purposive sampling selama periode Juni–Juli 2025. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan, Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) untuk kepatuhan, dan kuesioner Short-from-36 (SF-36) untuk kualitas hidup. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik, tingkat kepatuhan tinggi, dan kualitas hidup yang tinggi. Uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan (p = 0,519), tingkat pengetahuan dengan kualitas hidup (p = 0,468), maupun tingkat kepatuhan dengan kualitas hidup (p = 0,962). Kesimpulan: Bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien, maka semakin baik kualitas hidup yang dimiliki. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan edukasi dan strategi kepatuhan pasien guna memperbaiki outcome pengobatan tuberkulosis.

Open AccessPengetahuan, Kepatuhan, Kualitas Hidup, Tuberkulosis
oai:ais:library-item:26940Lihat detail

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Tingkat Kepatuhan Terhadap Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cabang Bungin

Book2025Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Tuberkulosis disebut juga TB, merupakan penyakit yang menyerang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis sering terjadi akibat masukya bakteri ke dalam jaringan paru-paru melalui udara sehingga menimbulkan penyakit yang disebut tuberkulosis primer. Tujuan : Untuk mengetahui deskripsi hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Cabang Bungin. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik observasional yang dilakukan secara cross-sectional dengan pengambilan data secara prospektif pada periode Juni-Juli tahun 2025 di Puskesmas Cabang Bungin. Hasil : penelitian berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, dari 52 responden yang bersedia berpartisipasi, paling banyak responden berjenis kelamin laki-laki (55,8%), usia palimg banyak antara 26-35 tahun (28,8%), paling banyak memiliki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) (55,8%), responden paling banyak bekerja (73,1%), responden paling banyak yang telah memasuki fase lanjutan pengobatan (61,5%) dan responden paling banyak dalam kategori 1 (pasien baru) (86,5%). Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan paling banyak yaitu 40 responden (76,9%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, sementara 5 responden (9,6%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, dan 7 responden (13,5%) memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Berdasarkan hasil penelitian tingkat kepatuhan sebanyak 25 responden (48,1%), memiliki tingkat kepatuhan yang baik, 8 responden (15,4%) memiliki tingkat kepatuhan yang cukup, dan 19 responden (36,5%) menunjukkan tingkat kepatuhan yang kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, dari 52 responden yang berpartisipasi, sebagian besar yaitu 46 responden (88,5%), memiliki tingkat kualitas hidup tinggi, 6 responden (11,5%) memiliki tingkat kualitas hidup rendah. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan dengan nilai p=0,048 (p<α). Sedangkan terdapat tidak adanya hubungan tingkat pengetahuan terhadap kualitas hidup dengan nilai p=0,255. Dan terdapat adanya hubungan antara tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup dengan nilai p=0,026.

Open AccessTuberkulosis, Pengetahuan, Kepatuhan, Kualitas Hidup, Pernafasan
oai:ais:library-item:26941Lihat detail

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Terhadap Keberhasilan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Telaga Murni Kecamatan Cikarang Barat

Book2025Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan tingkat kejadian yang tinggi terutama di wilayah Jawa Barat. Keberhasilan pengobatan Tuberkulosis sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan terhadap keberhasilan pengobatan pasien Tuberkulosis di Puskesmas Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analitik korelasional dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 80 pasien Tuberkulosis Paru yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan, kuesioner kepatuhan MMAS-8, dan data rekam medis mengenai status keberhasilan pengobatan. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (90%) dan tingkat kepatuhan rendah (85%). Keberhasilan pengobatan tercapai pada (12,5%) pasien. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan keberhasilan pengobatan (p = 0,827) dan tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan dengan keberhasilan pengobatan (p = 0,365).

Open AccessTuberkulosis, pengetahuan, kepatuhan, resistensi, antibiotik
oai:ais:library-item:26931Lihat detail

Analisis Implementasi Clinical Pathway Tuberkulosis Paru Berdasarkan Rekam Medis di RSUD Kabupaten Bekasi

Book2024Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Rumah sakit hendaknya harus dilengkapi dengan alat untuk mengelola kualitas mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien sehingga pelayanan kesehatan di mana diberi atas tenaga kesehatan bisa terpadu dan mengurangi resiko dalam proses layanan klinis. Salah satu alat untuk mengelola kualitas layanan adalah clinical pathway. clinical pathway ataupun juga alur klinis yaitu proses multidisiplin yang dirancang untuk menyediakan perawatan kepada penderita dengan tepat waktu melalui sebuah pendekatan kolaboratif dan juga interdisipliner. Tujuan: Dalam dilaksanakannya penelitian ini memiliki tujuan agar dapat mengkaji implementasi yang dimiliki clinical pathway tuberkulosis paru pasien rawat inap pada RSUD Kabupaten Bekasi. Metode: Adanya sebuah penelitian ini yaitu berupa penelitian kuantitatif melalui penarikan data dengan retrospektif menggunakan sebuah data yang berupa rekam medis menderita dari tuberkulosis paru rawat inap di RSUD Kabupaten Bekasi selama periode Januari-Desember 2023. Populasi penelitian adalah 88 responden, dengan sampel sebanyak 72 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan batas kesalahan 0,5%. Instrumen pengumpulan data menggunakan formulir clinical pathway yang berpedoman pada KARS 2012. Hasil: Didapatkan jika penderita TB paru mayoritasnya dialami oleh laki-laki (63,9%), dengan mayoritas usia >50 tahun (41,7%), pendidikan SMA (59,7%), dan pekerjaan wiraswasta (56,9%). Tatalaksana pengobatan pada tahap intensif dilakukan pada 91,7% pasien, dan tahap lanjut pada 8,3% pasien, dengan tingkat kesesuaian pengobatan mencapai 100%. Berdasarkan hasil penelitian, outcome klinis kategori sembuh tercatat sebanyak 36,1%, sedangkan pasien yang melanjutkan pengobatan jalan sebanyak 63,9%. Kesimpulan: Implementasi clinical pathway tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Bekasi belum terimplemplementasi dengan baik dikarenakan ada beberapa aktivitas yang belum terlaksanakan. Penerapan clinical pathway sangat penting dalam meningkatkan outcome klinis pasiennya. Disebabkan but, bisa direkomendasikan kepada sebuah instansi yang melayani kesehatan terutama pada manajemen rumah sakit untuk menerapkan clinical pathway dalam meningkatkan outcome klinis pasien

Open AccessClinical pathway, Kualitas Pelayanan, Akreditasi RS, Tuberkulosis Paru, Rekam Medis
oai:ais:library-item:25624Lihat detail

Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Tingkat Kepatuhan Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Kabupaten Bekasi

Book2024Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Tingkat pengetahuan dan kepatuhan adalah salah satu indikator penting untuk menilai keberhasilan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru. Faktor tesebut menjadi salah satu penentu dalam terjadinya kenaikan atau penurunan angka morbiditas tetrhadap penyakit tuberkulosis paru. Tujuan: Mengukur tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis paru di RSUD Kab. Bekasi. Metode: Desain penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik observasional secara crosssectional dilakukan di RSUD Kab. Bekasi dengan sampel sebanyak 146 responden. Pengambilan data menggunakan kuisioner tingkat pengetahuan yang sudah tervalidasi dengan nilai r Tabel 0,361 dan kepatuhan pasien pada pengobatan menggunakan kuisioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Hasil: Berdasarkan hasil penelitian didapat responden sebanyak 29,5% dengan usia terbanyak 26-35 tahun, 61% jenis kelamin laki-laki, 63,7% pendidikan SMA, 75,3% bekerja, 87% memiliki pendampingan peran PMO, 67,8% fase pengobatan lanjutan, 83,6% pasien kategori I dan uji statistik dengan menggunakan uji chi-square menghasilkan nilai signifikansi p=0,000 dengan derajat signifikansi a<0,05, yang menunjukan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Bekasi. Kesimpulan: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Bekasi

Open AccessTuberkulosis Paru, Pengetahuan, Kepatuhan, Mycobacterium Tuberculosis, Rumah Sakit
oai:ais:library-item:25623Lihat detail

Analisis Implementasi Clinical Pathway Tuberkulosis Paru Berdasarkan Rekam Medis di RS Kartika Husada Setu

Book2024Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Tingginya kasus tuberkulosis paru berdampak pada morbiditas dan mortalitas pasien, dalam penatalaksanaan tuberkulosis paru di fasilitas kesehatan sudah diimplementasikan berdasarkan pedoman nasional dengan tujuan kesesuaian pengobatan. Oleh karena itu, diperlukan pedoman klinis terkait tuberkulosis paru melalui clinical pathway untuk meningkatkan layanan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui keefektivitasan implementasi clinical pathway dan outcome klinis pasien tuberkulosis paru Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif dengan metode pengambilan data secara retrospektif, diambil dari data rekam medis pasien sebanyak 34 data pasien rawat inap di RS Kartika Husada Setu periode Januari-Desember tahun 2023 data dikumpul menggunakan form clinical pathway. Hasil: Terdapat 34 pasien dengan jenis kelamin laki-laki 18 pasien (52,9%), berusia >55 tahun 12 pasien (35,3%) yang pendidikan terakhir SD dan SMA 12 pasien (35,3%) dan memiliki pekerjaan sebanyak 17 pasien (50%) serta pasien dengan penyakit penyerta diabetes melitus (DM) sebanyak 7 pasien (20,6%). Implementasi clinical pathway di RS Kartika Husada Setu, dari 38 indikator ada sebanyak 22 indikator (57,9%) sudah efektif dan 16 indikator (42,1%) lainnya belum efektif. Outcome klinis pasien tuberkulosis paru menunjukkan dari 34 pasien (100%) dinyatakan belum sembuh dengan kategori dipindah ke Fasyankes 1 sebanyak 23 pasien dan lanjut terapi sebanyak 11 pasien. Terdapat hubungan implementasi clinical pathway terhadap keefektivitasan clinical pathway dan outcome klinis pasien dengan uji Chi-Square menunjukkan nilai p value sebesar 0,002 <0,05 dan 0,000 <0,05. Kesimpulan: Penelitian ini dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara implementasi clinical pathway dengan efektivitas clinical pathway dan outcome klinis pasien.

Open AccessTuberkulosis Paru, Clinical Pathway, Rumah Sakit, Pelayanan, Outcome Pasien
oai:ais:library-item:25590Lihat detail

Hubungan Dukungan Keluarga dan Tingkat Self Awareness Dengan Penularan Penyakit Pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Kab. Bekasi

Book2024Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang : Bakteri Mycobacterium Tuberculosis menyebabkan Tuberkulosis (Tb), yang merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri ini berukuran 0,5–4 milimeter x 0,3–0,6 milimeter dan memiliki lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid yang sulit ditembus oleh zat kimia. Tuberkulosis adalah penyakit yang dapat menyerang banyak bagian tubuh, seperti otak, ginjal, dan tulang belakang. Target penyakit Tb yang paling umum adalah paru-paru. Agen infeksius utama dari penyakit ini adalah Mycobacterium Tuberculosis sehingga bakteri Tb yang masuk ke paru-paru akan merusak dan bisa menular dari orang ke orang melalui transmisi udara. Tujuan utama dari peneliti ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis apakah ada Hubungan Dukungan Keluarga Dan Tingkat Self Awareness Dengan Penularan Penyakit Pada Pasien Tuberkulosis Paru di RSUD Kab. Bekasi. Subyek dan Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analitik korelasional dengan desain penelitian Cross Sectional. Lokasi penelitian RSUD Kab. Bekasi. Populasi sasaran dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien Tuberkulosis Paru dengan total 100 pasien. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Dalam penelitian ini variabel independen adalah hubungan dukungan keluarga (X1), Self awareness (X2) dan variabel dependen adalah penularan penyakit tuberkulosis paru (Y) metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil: Terdapat hubungan dukungan keluarga dengan penularan penyakit tuberkulosis di RSUD Kab. Bekasi. Hasil uji Chi-square p=0,000<0,05. Berdasarkan analisis koreasional didapatkan dukungan keluarga 85,22 di RSUD Kab. Bekasi. Kesimpulan: Sebagian keluarga sangat membantu dalam meningkatkan pengetahuan atau kepatuhan pasien Tb Paru serta memberikan dukungan dan motivasi

Open Accessdukungan keluarga; self awareness; penularan tuberkulosis paru
oai:ais:library-item:25587Lihat detail

Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Gejala Depresi Pada Pasien TB Paru di Puskesmas Tambelang Tahun 2024

Book2024Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak didunia yang disebabkan oleh bakteri tuberculosis, pengobatan TB Paru perlu waktu yang lama serta pengobatan yang kompleks sehingga dapat menimbulkan terjadinya gejala depresi, salah satu cara mencegah depresi adalah dengan dukungan keluarga sebagai bentuk dukungan bagi pasien TB Paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan gejala depresi pada pasien TB Paru dipuskesmas Tambelang. Jenis penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan crosssectional, sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi dapat dijadikan sampel dengan jumlah sebanyak 58 pasien TB Paru rawat jalan di Puskesmas Tambelang. Analisis yang digunakan univariate dan bivariate dengan uji statistik menggunakan chi square. Hasil penelitian bivariat ada hubungan dukungan keluarga dengan gejala depresi pada pasien TB Paru dipuskesmas Tambelang dengan keluarga yang mendukung dan tidak mengalami depresi sebanyak 23 responden (57,5%), responden yang dapat dukungan keluarga dan mengalami depresi ringan 17 responden (42,5%), dan nilai p value 0,004 (a=0,05). Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat memberikan informasi kepada keluarga pasien pentingnya support sistem dari keluarga bagi pasien yang sakit.

Open AccessGejala depresi, dukungan keluarga, tuberkulosis
oai:ais:library-item:25546Lihat detail

Gambaran Penggunaan Obat Antituberkulosis (OAT) Pada Pasien Rawat Jalan di Puskesmas Cipayung Kota Depok Tahun 2022

Book2024Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang menyebabkan kematian terbanyak di dunia. Penyakit ini menyebar ketika penderita tuberkulosis paru mengeluarkan droplet yang mengandung bakteri ke udara, seperti saat batuk. Infeksi dapat terjadi jika droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola penggunaan obat antituberkulosis (OAT), menggambarkan kesesuaian penggunaan OAT berdasarkan Pedoman Penanggulangan Nasional Tuberkulosis tahun 2016 dari Kementrian Kesehatan RI, dan uji hubungan antara hasil pengobatan dengan umur, jenis kelamin, lama pengobatan, dan banyaknya penyakit kronik. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara pengambilan data secara retrospektif yang dapat dilihat dari data rekam medis pasien pada periode Januari-Desember 2022 di Puskesmas Cipayung Kota Depok. Hasil penelitian berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa jumlah penderita laki-laki lebih banyak dari pada perempuan yaitu laki-laki sebesar 53,2% dan perempuan 46,8%. Berdasarkan usia, jumlah terbanyak berada pada rentang usia 21-59 tahun yaitu sebesar 74,0%. Berdasarkan lama pengobatan menunjukkan bahwa pasien terbanyak yang menjalani pengobatan tepat 6 bulan yaitu sebesar 94,8%. Berdasarkan pemberian jenis KDT (Kombinasi Dosis Tetap) yaitu sebesar 100%. Berdasarkan kesesuaian penggunaan obat yaitu kesesuaian dosis, indikasi, dan pemilihan kombinasi OAT telah memenuhi standar pedoman penanggulangan TB. Kesimpulan berdasarkan analisis hubungan antara usia, lama pengobatan, jenis kelamin, dan penyakit penyerta kronik terhadap hasil pengobatan pasien diperoleh hasil bahwa usia dan lama pengobatan memiliki hubungan yang signifikan dengan hasil pengobatan pasien. Sedangkan jenis kelamin dan penyakit penyerta kronik tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan hasil pengobatan pasien.

Open AccessTuberkulosis, Kategori TBC, Rawat Jalan, Puskesmas
oai:ais:library-item:24200Lihat detail

Analisis Hubungan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Pasien Pengguna Obat Anti Tuberkulosis (OAT) di Puskesmas Sukadami Kecamatan Cikarang Selatan Tahun 2023

Book2024Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis merupakan penyakit yang ditularkan lewat udara atau droplet yang disebabkan,oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kepatuhan adalah tingkat perilaku penderita dalam mengambil suatu tindakan pengobatan yang disarankan oleh penyedia layanan kesehatan, misalnya kebiasaan hidup sehat dan ketentuan berobat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien pengguna obat anti tuberkulosis (OAT) seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, pengetahuan, dukungan keluarga dan pekerjaan di Puskesmas Sukadami. Jenis penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif.. Cara pengambilan sampel menggunakan kuesioner yang dibuat berdasarkan MMAS – 8 (Morisky Medication Adherence Scale). Sampel yang diperoleh berdasarkan perhitungan slovin sebanyak 63 sampel. Analisis data univariat yaitu persentase karakteristik demografi responden, bivariat dengan bantuan SPSS versi 26 uji chi square. Hasil penelitian pada uji chi square dari karakteristik pasien TB dengan tingkat kepatuhan didapatkan hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan adalah karakteristik berdasarkan jenis kelamin P value 0,627, pendidikan P value 0,206 dan pekerjaan P value 0,385. Sedangkan yang terdapat hubungan adalah karakteristik umur dengan nilai P value 0,024, pengetahuan dengan nilai P value 0,009 dan dukungan keluarga P value 0,001. Hasil tingkat kepatuhan pasien TB terhadap penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara keseluruhan pasien TB kepatuhannya dalam kategori sedang 71,4% (46 orang).

Open AccessObat Anti Tuberkulosis, Tingkat Kepatuhan Pasien, Puskesmas
oai:ais:library-item:24227Lihat detail

Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Pada Pasien Rawat Jalan Tuberkulosis di Puskesmas Cilamaya Karawang

Book2024Koleksi Perpustakaan

Latar belakang Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat anti tuberkulosis secara teratur sampai tuntas dan patuh merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengobatan Tuberkulosis paru. Tujuan untuk mengetahui karakteristik dan hubungan tingkat kepatuhan pasien terhadap Tingkat kepatuhan penggunaan obat anti tuberkulosis di Puskesmas Cilamaya Metode jenis yang penelitian ini merupakan Deskriptif Kuantitatif dengan pendekatan kuantitatif alat yang digunakan untuk pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Hasil dari penelitian berdasarkan jenis kelamin jumlah penderita laki-laki sebesar 54,0%, umur pada rentang usia 15-34 tahun yaitu sebesar 63,5%, pendidikan tingkat SMA 34,9%, pekerjaan pegawai swasta sebanyak 25,9%, lama pengobatan pasien 2 sebanyak 47,6%, pengetahuan baik sebanyak 79,4%. Kesimpulan karakteristik pasien meliputi pekerjaan dan pengetahuan mempunyai hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan pasien Obat Anti Tuberkulosis (OAT) karena nilai p value yang diperoleh kurang dari nilai signifikan yang digunakan yaitu 0,005. Nilai pekerjaan (p = 0,001) dan pengetahuan (p = 0,030).

Open AccessObat Anti Tuberkulosis Paru, Puskesmas, Tingkat Kepatuhan TBC
oai:ais:library-item:24261Lihat detail

Pola Peresepan Penggunaan Obat Antituberkulosis Paru di RS Sentra Medika Cibinong

Book2024Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang berpotensi serius dan biasanya menyerang paru-paru. Indonesia merupakan negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi ketiga setelah India dan Cina, yang berpenduduk lebih dari 1 milyar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan penggunaan Obat Antituberkulosis (OAT) paru berdasarkan usia, jenis kelamin, kategori pengobatan, jenis (OAT) dan tipe pasien pada periode Mei-Oktober 2022. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif yang bersifat retrospektif, menggunakan resep dan rekam medis pasien rawat jalan yang didiagnosa Tuberkulosis paru yang menerima pengobatan di RS Sentra Medika Cibinong. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk persentase dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode Mei-Oktober 2022 terdapat sebanyak 95 pasien rawat jalan yang didiagnosa tuberkulosis dengan total populasi sebanyak 1565 diantaranya berusia 21-59 tahun sebanyak 83 kasus (87,4%), usia 15-20 tahun sebanyak 12 kasus (12,6%). Berdasarkan jenis kelamin perempuan sebanyak 52 pasien (54,7%). Tipe pasien berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya terdapat pasien kasus baru sebanyak 93 pasien (97,3%) dibandingkan kasus kambuh sebanyak 2 pasien (2,1%), Jenis OAT yang digunakan pada rumah sakit ini adalah OAT jenis KDT dengan total 95 pasien (100%). Pasien yang menerima pengobatan kategori 1 sebanyak 93 pasien (97,9%), yang menerima pengobatan kategori 2 sebanyak 2 pasien (2,1%). Kesimpulan kategori pengobatan tertinggi adalah kategori I dan sesuai dengan Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis RI Nomor 67 Tahun 2016.

Open AccessPola Peresepan, Tuberkulosis, KDT, Kombipak
oai:ais:library-item:24211Lihat detail

Asuhan Keperawatan Pada Ny. M Dengan Respirasi: Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Akibat Tuberculosis Paru di RS Sentra Medika Cikarang Tahun 2022

Book2023Koleksi Perpustakaan

Penyakit tuberculosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru-paru. Masalah pada studi kasus ini yaitu memberikan gambaran tentang pemberian Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Bersihan jalan nafas tidak efektif akibat Tuberkulosis Paru. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan metode deskriptif. Subyek studi kasus yakni satu orang klien (Ny. M) yang mengalami tuberkulosis dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif. Sumber data didapatkan melalui wawancara dan pengkajian. Hasil pengkajian menunjukkan data-data yang menunjang untuk dimunculkan masalah keperawatan utama, diantaranya klien mengalami batuk lebih dari 7hari, demam kurang lebih 5 hari, dan nyeri pada bagian tulang belakang, terdapat suara nafas tambahan yaitu ronkhi, Tes kulit mantoux: 8mm, BTA: +1. Masalah keperawatan utama adalah Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret. Intervensi yang dilakukan berdasarkan teori manajemen jalan nafas menurut SIKI. Implementasi disesuaikan dengan buku SIKI. Evaluasi yang dilakukan hasilnya dapat teratasi dengan kriteria hasil batuk efektif meningkat dan sekret mudah dikeluarkan.

Open Accesstuberkulosis paru, bersihan jalan nafas tidak efektif, batuk
oai:ais:library-item:21311Lihat detail

Asuhan Keperawatan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Pada Tn. H Dengan Tuberkulosis Paru di Ruang Jasmine RS Sentra Medika Cikarang Tahun 2022

Book2023Koleksi Perpustakaan

Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberkulosis yang ditularkan melalui udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Salah satu tanda dan gejala tuberkulosis paru adalah batuk disertai dahak dan akan menimbulkan bersihan jalan napas tidak efektif. Tujuan penelitian ini mengetahui asuhan keperawatan pada pasien tuberkulosis paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif. Metode penelitian ini menggunakan metode kasus dengan seorang pasien berumur 71 tahun yang mengalami tuberkulosis paru. Hasil studi kasus penelitian ini ditemukannya gejala klinis pada pasien tuberkulosis paru adanya klien tampak gelisah, batuk disertai dahak dan sesak napas, dan terdapat suara napas tambahan yaitu ronkhi, Tindakan keperawatan yang efektif pada kasus penelitian ini adalah tindakan dengan latihan batuk efektif. Kesimpulan tindakan yang dilakukan pada pasien tuberkulosis paru dengan implementasi latihan batuk efektif sangat efektif dalam mengatasi keperawatan utama dengan evaluasi terakhir masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif teratasi ditandai dengan klien mengatakan sudah tidak batuk dan sesak napas, klien terlihat nyaman dan membaik.

Open AccessAsuhan Keperawatan, Tuberkulosis paru, Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
oai:ais:library-item:21309Lihat detail

Pengaruh Terapi Active Cycle Breathing Technique (ACBT) Terhadap Pengeluaran Sputum Pada Penderita Gangguan Sistem Respirasi di Desa Cikarang Kota Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Tahun 2022

Book2022Koleksi Perpustakaan

Sistem pernapasan merupakan sistem alat yang dipakai selaku alterasi gas. Sistem respirasi biasanya melingkupi pipa yang dipakai guna mengangkat hawa ke alat pernapasan, di mana alterasi gas terjalin. Tujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi ACBT terhadap pengeluaran sputum pada penderita sistem gangguan pernapasan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan riset kuantitatif dengan menggunakan metode Pre Ekperimental One Group pre dan post test design. Populasi penelitian ini terdiri dari 148 pasien yang menderita gangguan sistem respirasi, dengan jumlah sampel sebanyak 15 responden dengan teknik total sampling. Berdasarkan hasil uji statistik normalitas dan Paired T test. menunjukkan bahwa nilai rata-rata pre tindakan adalah 3,47 dan post tindakan 3,67 dan hasil Paired T test menunjukkan nilai Asym.Sig. (2-tailed) adalah 0,000. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi ACBT terhadap pengeluaran sputum pada penderita sistem gangguan pernapasan. Kesimpulan dalam penelitian ini adanya pengaruh dalam teknik ACBT dalam mengeluarkan sputum pada pasien gangguan sistem respirasi. Diharapkan terapi ACBT menjadi salah satu pilihan terapi komplementer dalam mengeluarkan sputum pada penderita gangguan sistem respirasi.

Open AccessACBT,Respirasi, Tuberkulosis.
oai:ais:library-item:20763Lihat detail

Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Dukungan Keluarga Pada Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru yang Berobat di Poli Paru Rumah Sakit Annisa Cikarang Tahun 2020

Book2022Koleksi Perpustakaan

Pengobatan pasien Tuberkulosis Paru memerlukan waktu lama sehingga dukungan keluarga penting diberikan. Bentuk dukungan keluaga dibagi menjadi : dukungan emosional keluarga, dukungan instrumental keluarga, dukungan informasi keluarga dan dukungan penilaian keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan dukungan keluarga Pada Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru yang berobat di Poli Paru Rumah Sakit Annisa Cikarang Tahun 2020. Metode yang digunakan adalah cross sectional. Sampel yang digunakan adalah pasien TB Paru yang sedang berobat di Poli Paru Rumah Sakit Annisa Cikarang sebanyak 60 Responden dengan tehnik total sampling yang dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2020. Data diambil dari hasil kuesioner dan rekam medis Pasien. Data dianalisis untuk mengetahui rasio prevalensi dengan menggunakan tabel 2x2, dengan interval kepercayaan 95%. Hasil analisa bivariat menunjukan dukungan emosional keluarga (P. Value = 0,000 ;CI 95% = 3,85-268), dukungan instrumental keluarga (P.Value =0,004;CI 95% = 1,584-14,8), dukungan informasi keluarga (P.Value=0,006;CI 95% = 1,525-19,7), dukungan penghargaan keluarga (P. Value =0,002 ; CI 95% = 1,817-17,326). Pengobatan TB Paru pada pasien Tuberkulosis Paru sebagian besar patuh dalam pengobatannya dan Ada hubungan secara statistic. Disarankan bagi peran perawat khusunya perawat di Poli Paru Rumah Sakit dan keluarga dalam promosi kesehatan sebagai health educator terhadap pentingnya dukungan keluarga pada pengobatan pasien Tuberkulosis Paru.

Open AccessFaktor-faktor dukunga keluarga, pengobatan pasien Tuberkulosis Paru
oai:ais:library-item:20721Lihat detail

Pengaruh Terapi Active Cycle Breathing Technique (ACBT) Terhadap Pengeluaran Sputum Pada Penderita Gangguan Sistem Respirasi di Desa Cikarang Kota Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Tahun 2022

Thesis2022Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sistem pernapasan merupakan sistem alat yang dipakai selaku alterasi gas. Sistem respirasi biasanya melingkupi pipa yang dipakai guna mengangkat hawa ke alat pernapasan, di mana alterasi gas terjalin. Tujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi ACBT terhadap pengeluaran sputum pada penderita sistem gangguan pernapasan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan riset kuantitatif dengan menggunakan metode Pre Ekperimental One Group pre dan post test design. Populasi penelitian ini terdiri dari 148 pasien yang menderita gangguan sistem respirasi, dengan jumlah sampel sebanyak 15 responden dengan teknik total sampling. Berdasarkan hasil uji statistik normalitas dan Paired T test. menunjukkan bahwa nilai rata-rata pre tindakan adalah 3,47 dan post tindakan 3,67 dan hasil Paired T test menunjukkan nilai Asym.Sig. (2-tailed) adalah 0,000. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi ACBT terhadap pengeluaran sputum pada penderita sistem gangguan pernapasan. Kesimpulan dalam penelitian ini adanya pengaruh dalam teknik ACBT dalam mengeluarkan sputum pada pasien gangguan sistem respirasi. Diharapkan terapi ACBT menjadi salah satu pilihan terapi komplementer dalam mengeluarkan sputum pada penderita gangguan sistem respirasi

Open AccessACBT,Respirasi, Tuberkulosis.
oai:ais:skripsi:146Lihat detail