Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Tuberkulosis merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2024 Kemenkes RI mencatat sebanyak 889.000 kasus tuberkulosis paru di Indonesia. Hal tersebut dipengaruhi oleh determinan sosial ekonomi dan perilaku merokok sebagai faktor resiko terjadinya tuberkulosis paru. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara status sosial ekonomi dan perilaku merokok dengan kejadian tuberkulosis paru di Puskesmas Cibarusah Kabupaten Bekasi. Metode Penelitian: Populasi dalam penelitian ini yakni pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian descriptive correlation dengan pendekatan Cross Sectional, mengunakan teknik Purposive Sampling yang melibatkan 92 responden. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner status sosial ekonomi dan GN-SBQ (Glover Nilson – Smoking Behavioral Questionnaire) yang hasilnya di uji menggunakan uji korelasi Spearman. Penelitian ini juga sudah lolos uji etik dengan No:005144/UNIVERSITAS MEDIKA SUHERMAN/2025 yang terbit pada tanggal 29 Oktober 2025. Hasil Penelitian: Hasil penelitian dari uji korelasi Spearman didapatkan adanya hubungan antara status sosial ekonomi dengan kejadian tuberkulosis paru, dengan p-value 0,000, dan juga terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian tuberkulosis paru, dengan p-value 0,031. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ada hubungan antara status sosial ekonomi dan perilaku merokok dengan kejadian tuberkulosis paru di Puskesmas Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Rekomendai: Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam upaya pencegahan tuberkulosis paru melalui pengendalian perilaku merokok dan peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat.
Open AccessStatus Sosial Ekonomi, Perilaku Merokok, Tuberkulosis Paru
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya. Pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi berperan penting dalam proses penyembuhan dan peningkatan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap gambaran kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Cikarang Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari pasien TB paru rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi, diambil menggunakan metode purposive sampling selama periode Juni–Juli 2025. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan, Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) untuk kepatuhan, dan kuesioner Short-from-36 (SF-36) untuk kualitas hidup. Hasil: Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik, tingkat kepatuhan tinggi, dan kualitas hidup yang tinggi. Uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan (p = 0,519), tingkat pengetahuan dengan kualitas hidup (p = 0,468), maupun tingkat kepatuhan dengan kualitas hidup (p = 0,962). Kesimpulan: Bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien, maka semakin baik kualitas hidup yang dimiliki. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam peningkatan edukasi dan strategi kepatuhan pasien guna memperbaiki outcome pengobatan tuberkulosis.
Open AccessPengetahuan, Kepatuhan, Kualitas Hidup, Tuberkulosis
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Tuberkulosis disebut juga TB, merupakan penyakit yang menyerang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis sering terjadi akibat masukya bakteri ke dalam jaringan paru-paru melalui udara sehingga menimbulkan penyakit yang disebut tuberkulosis primer. Tujuan : Untuk mengetahui deskripsi hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Cabang Bungin. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik observasional yang dilakukan secara cross-sectional dengan pengambilan data secara prospektif pada periode Juni-Juli tahun 2025 di Puskesmas Cabang Bungin. Hasil : penelitian berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, dari 52 responden yang bersedia berpartisipasi, paling banyak responden berjenis kelamin laki-laki (55,8%), usia palimg banyak antara 26-35 tahun (28,8%), paling banyak memiliki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) (55,8%), responden paling banyak bekerja (73,1%), responden paling banyak yang telah memasuki fase lanjutan pengobatan (61,5%) dan responden paling banyak dalam kategori 1 (pasien baru) (86,5%). Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan paling banyak yaitu 40 responden (76,9%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, sementara 5 responden (9,6%) memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, dan 7 responden (13,5%) memiliki tingkat pengetahuan yang kurang. Berdasarkan hasil penelitian tingkat kepatuhan sebanyak 25 responden (48,1%), memiliki tingkat kepatuhan yang baik, 8 responden (15,4%) memiliki tingkat kepatuhan yang cukup, dan 19 responden (36,5%) menunjukkan tingkat kepatuhan yang kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, dari 52 responden yang berpartisipasi, sebagian besar yaitu 46 responden (88,5%), memiliki tingkat kualitas hidup tinggi, 6 responden (11,5%) memiliki tingkat kualitas hidup rendah. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Cabang Bungin, terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan dengan nilai p=0,048 (p<α). Sedangkan terdapat tidak adanya hubungan tingkat pengetahuan terhadap kualitas hidup dengan nilai p=0,255. Dan terdapat adanya hubungan antara tingkat kepatuhan terhadap kualitas hidup dengan nilai p=0,026.
Open AccessTuberkulosis, Pengetahuan, Kepatuhan, Kualitas Hidup, Pernafasan
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan tingkat kejadian yang tinggi terutama di wilayah Jawa Barat. Keberhasilan pengobatan Tuberkulosis sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan terhadap keberhasilan pengobatan pasien Tuberkulosis di Puskesmas Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analitik korelasional dan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 80 pasien Tuberkulosis Paru yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner pengetahuan, kuesioner kepatuhan MMAS-8, dan data rekam medis mengenai status keberhasilan pengobatan. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (90%) dan tingkat kepatuhan rendah (85%). Keberhasilan pengobatan tercapai pada (12,5%) pasien. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan keberhasilan pengobatan (p = 0,827) dan tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan dengan keberhasilan pengobatan (p = 0,365).
Open AccessTuberkulosis, pengetahuan, kepatuhan, resistensi, antibiotik
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Rumah sakit hendaknya harus dilengkapi dengan alat untuk mengelola kualitas
mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien sehingga pelayanan kesehatan di mana diberi atas
tenaga kesehatan bisa terpadu dan mengurangi resiko dalam proses layanan klinis. Salah satu alat
untuk mengelola kualitas layanan adalah clinical pathway. clinical pathway ataupun juga alur
klinis yaitu proses multidisiplin yang dirancang untuk menyediakan perawatan kepada penderita
dengan tepat waktu melalui sebuah pendekatan kolaboratif dan juga interdisipliner. Tujuan: Dalam
dilaksanakannya penelitian ini memiliki tujuan agar dapat mengkaji implementasi yang dimiliki
clinical pathway tuberkulosis paru pasien rawat inap pada RSUD Kabupaten Bekasi. Metode:
Adanya sebuah penelitian ini yaitu berupa penelitian kuantitatif melalui penarikan data dengan
retrospektif menggunakan sebuah data yang berupa rekam medis menderita dari tuberkulosis paru
rawat inap di RSUD Kabupaten Bekasi selama periode Januari-Desember 2023. Populasi penelitian
adalah 88 responden, dengan sampel sebanyak 72 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan batas kesalahan 0,5%. Instrumen pengumpulan data menggunakan formulir clinical pathway yang berpedoman pada KARS 2012. Hasil: Didapatkan jika penderita TB paru
mayoritasnya dialami oleh laki-laki (63,9%), dengan mayoritas usia >50 tahun (41,7%), pendidikan
SMA (59,7%), dan pekerjaan wiraswasta (56,9%). Tatalaksana pengobatan pada tahap intensif dilakukan pada 91,7% pasien, dan tahap lanjut pada 8,3% pasien, dengan tingkat kesesuaian pengobatan mencapai 100%. Berdasarkan hasil penelitian, outcome klinis kategori sembuh tercatat sebanyak 36,1%, sedangkan pasien yang melanjutkan pengobatan jalan sebanyak 63,9%. Kesimpulan: Implementasi clinical pathway tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Bekasi belum terimplemplementasi dengan baik dikarenakan ada beberapa aktivitas yang belum terlaksanakan. Penerapan clinical pathway sangat penting dalam meningkatkan outcome klinis pasiennya. Disebabkan but, bisa direkomendasikan kepada sebuah instansi yang melayani
kesehatan terutama pada manajemen rumah sakit untuk menerapkan clinical pathway dalam
meningkatkan outcome klinis pasien
Open AccessClinical pathway, Kualitas Pelayanan, Akreditasi RS, Tuberkulosis Paru, Rekam Medis
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Tingkat pengetahuan dan kepatuhan adalah salah satu indikator penting
untuk menilai keberhasilan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru. Faktor tesebut
menjadi salah satu penentu dalam terjadinya kenaikan atau penurunan angka morbiditas
tetrhadap penyakit tuberkulosis paru. Tujuan: Mengukur tingkat pengetahuan dan tingkat
kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis paru di RSUD Kab. Bekasi. Metode: Desain
penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik observasional secara crosssectional dilakukan di RSUD Kab. Bekasi dengan sampel sebanyak 146 responden.
Pengambilan data menggunakan kuisioner tingkat pengetahuan yang sudah tervalidasi
dengan nilai r Tabel 0,361 dan kepatuhan pasien pada pengobatan menggunakan kuisioner
Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Hasil: Berdasarkan hasil penelitian
didapat responden sebanyak 29,5% dengan usia terbanyak 26-35 tahun, 61% jenis kelamin
laki-laki, 63,7% pendidikan SMA, 75,3% bekerja, 87% memiliki pendampingan peran
PMO, 67,8% fase pengobatan lanjutan, 83,6% pasien kategori I dan uji statistik dengan
menggunakan uji chi-square menghasilkan nilai signifikansi p=0,000 dengan derajat
signifikansi a<0,05, yang menunjukan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten
Bekasi. Kesimpulan: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap tingkat
kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru di RSUD Kabupaten Bekasi
Open AccessTuberkulosis Paru, Pengetahuan, Kepatuhan, Mycobacterium Tuberculosis, Rumah Sakit
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Tingginya kasus tuberkulosis paru berdampak pada morbiditas dan
mortalitas pasien, dalam penatalaksanaan tuberkulosis paru di fasilitas kesehatan sudah
diimplementasikan berdasarkan pedoman nasional dengan tujuan kesesuaian pengobatan.
Oleh karena itu, diperlukan pedoman klinis terkait tuberkulosis paru melalui clinical
pathway untuk meningkatkan layanan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui
keefektivitasan implementasi clinical pathway dan outcome klinis pasien tuberkulosis paru
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif dengan metode
pengambilan data secara retrospektif, diambil dari data rekam medis pasien sebanyak 34
data pasien rawat inap di RS Kartika Husada Setu periode Januari-Desember tahun 2023
data dikumpul menggunakan form clinical pathway. Hasil: Terdapat 34 pasien dengan jenis
kelamin laki-laki 18 pasien (52,9%), berusia >55 tahun 12 pasien (35,3%) yang pendidikan
terakhir SD dan SMA 12 pasien (35,3%) dan memiliki pekerjaan sebanyak 17 pasien (50%)
serta pasien dengan penyakit penyerta diabetes melitus (DM) sebanyak 7 pasien (20,6%).
Implementasi clinical pathway di RS Kartika Husada Setu, dari 38 indikator ada sebanyak
22 indikator (57,9%) sudah efektif dan 16 indikator (42,1%) lainnya belum efektif. Outcome
klinis pasien tuberkulosis paru menunjukkan dari 34 pasien (100%) dinyatakan belum
sembuh dengan kategori dipindah ke Fasyankes 1 sebanyak 23 pasien dan lanjut terapi
sebanyak 11 pasien. Terdapat hubungan implementasi clinical pathway terhadap
keefektivitasan clinical pathway dan outcome klinis pasien dengan uji Chi-Square
menunjukkan nilai p value sebesar 0,002 <0,05 dan 0,000 <0,05. Kesimpulan: Penelitian
ini dapat disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara implementasi clinical
pathway dengan efektivitas clinical pathway dan outcome klinis pasien.
Open AccessTuberkulosis Paru, Clinical Pathway, Rumah Sakit, Pelayanan, Outcome Pasien
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang : Bakteri Mycobacterium Tuberculosis menyebabkan
Tuberkulosis (Tb), yang merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
bakteri. Bakteri ini berukuran 0,5–4 milimeter x 0,3–0,6 milimeter dan memiliki
lapisan luar tebal yang terdiri dari lipoid yang sulit ditembus oleh zat kimia.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dapat menyerang banyak bagian tubuh, seperti
otak, ginjal, dan tulang belakang. Target penyakit Tb yang paling umum adalah paru-paru. Agen infeksius utama dari penyakit ini adalah Mycobacterium
Tuberculosis sehingga bakteri Tb yang masuk ke paru-paru akan merusak dan bisa
menular dari orang ke orang melalui transmisi udara. Tujuan utama dari peneliti ini
untuk mengidentifikasi dan menganalisis apakah ada Hubungan Dukungan
Keluarga Dan Tingkat Self Awareness Dengan Penularan Penyakit Pada Pasien
Tuberkulosis Paru di RSUD Kab. Bekasi. Subyek dan Metode: Jenis penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analitik korelasional dengan
desain penelitian Cross Sectional. Lokasi penelitian RSUD Kab. Bekasi. Populasi
sasaran dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien Tuberkulosis Paru dengan total
100 pasien. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Dalam
penelitian ini variabel independen adalah hubungan dukungan keluarga (X1), Self
awareness (X2) dan variabel dependen adalah penularan penyakit tuberkulosis
paru (Y) metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil: Terdapat
hubungan dukungan keluarga dengan penularan penyakit tuberkulosis di RSUD
Kab. Bekasi. Hasil uji Chi-square p=0,000<0,05. Berdasarkan analisis koreasional
didapatkan dukungan keluarga 85,22 di RSUD Kab. Bekasi. Kesimpulan:
Sebagian keluarga sangat membantu dalam meningkatkan pengetahuan atau
kepatuhan pasien Tb Paru serta memberikan dukungan dan motivasi
Open Accessdukungan keluarga; self awareness; penularan tuberkulosis paru
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak didunia yang disebabkan oleh bakteri tuberculosis, pengobatan TB Paru perlu waktu yang lama serta pengobatan yang kompleks sehingga dapat menimbulkan terjadinya gejala depresi, salah satu cara mencegah depresi adalah dengan dukungan keluarga sebagai bentuk dukungan bagi pasien TB Paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan gejala depresi pada pasien TB Paru dipuskesmas Tambelang. Jenis penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan crosssectional, sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi dapat dijadikan sampel dengan jumlah sebanyak 58 pasien TB Paru rawat jalan di Puskesmas Tambelang. Analisis yang digunakan univariate dan bivariate dengan uji statistik menggunakan chi square. Hasil penelitian bivariat ada hubungan dukungan keluarga dengan gejala depresi pada pasien TB Paru dipuskesmas Tambelang dengan keluarga yang mendukung dan tidak mengalami depresi sebanyak 23 responden (57,5%), responden yang dapat dukungan keluarga dan mengalami depresi ringan 17 responden (42,5%), dan nilai p value 0,004 (a=0,05). Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat memberikan informasi kepada keluarga pasien pentingnya support sistem dari keluarga bagi pasien yang sakit.
Open AccessGejala depresi, dukungan keluarga, tuberkulosis
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang
menyebabkan kematian terbanyak di dunia. Penyakit ini menyebar ketika
penderita tuberkulosis paru mengeluarkan droplet yang mengandung bakteri ke
udara, seperti saat batuk. Infeksi dapat terjadi jika droplet tersebut terhirup ke
dalam saluran pernafasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola
penggunaan obat antituberkulosis (OAT), menggambarkan kesesuaian
penggunaan OAT berdasarkan Pedoman Penanggulangan Nasional Tuberkulosis
tahun 2016 dari Kementrian Kesehatan RI, dan uji hubungan antara hasil
pengobatan dengan umur, jenis kelamin, lama pengobatan, dan banyaknya
penyakit kronik. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara pengambilan data
secara retrospektif yang dapat dilihat dari data rekam medis pasien pada periode
Januari-Desember 2022 di Puskesmas Cipayung Kota Depok. Hasil penelitian
berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa jumlah penderita laki-laki lebih
banyak dari pada perempuan yaitu laki-laki sebesar 53,2% dan perempuan 46,8%.
Berdasarkan usia, jumlah terbanyak berada pada rentang usia 21-59 tahun yaitu
sebesar 74,0%. Berdasarkan lama pengobatan menunjukkan bahwa pasien
terbanyak yang menjalani pengobatan tepat 6 bulan yaitu sebesar 94,8%.
Berdasarkan pemberian jenis KDT (Kombinasi Dosis Tetap) yaitu sebesar 100%.
Berdasarkan kesesuaian penggunaan obat yaitu kesesuaian dosis, indikasi, dan
pemilihan kombinasi OAT telah memenuhi standar pedoman penanggulangan TB.
Kesimpulan berdasarkan analisis hubungan antara usia, lama pengobatan, jenis
kelamin, dan penyakit penyerta kronik terhadap hasil pengobatan pasien diperoleh
hasil bahwa usia dan lama pengobatan memiliki hubungan yang signifikan dengan
hasil pengobatan pasien. Sedangkan jenis kelamin dan penyakit penyerta kronik
tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan hasil pengobatan pasien.
Open AccessTuberkulosis, Kategori TBC, Rawat Jalan, Puskesmas
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis merupakan penyakit yang ditularkan lewat udara atau droplet
yang disebabkan,oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kepatuhan adalah
tingkat perilaku penderita dalam mengambil suatu tindakan pengobatan yang
disarankan oleh penyedia layanan kesehatan, misalnya kebiasaan hidup sehat dan
ketentuan berobat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan faktor –
faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien pengguna obat anti
tuberkulosis (OAT) seperti jenis kelamin, umur, pendidikan, pengetahuan,
dukungan keluarga dan pekerjaan di Puskesmas Sukadami. Jenis penelitian ini
merupakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuantitatif.. Cara pengambilan
sampel menggunakan kuesioner yang dibuat berdasarkan MMAS – 8 (Morisky
Medication Adherence Scale). Sampel yang diperoleh berdasarkan perhitungan
slovin sebanyak 63 sampel. Analisis data univariat yaitu persentase karakteristik
demografi responden, bivariat dengan bantuan SPSS versi 26 uji chi square. Hasil
penelitian pada uji chi square dari karakteristik pasien TB dengan tingkat kepatuhan
didapatkan hasil tidak terdapat hubungan yang signifikan adalah karakteristik
berdasarkan jenis kelamin P value 0,627, pendidikan P value 0,206 dan pekerjaan
P value 0,385. Sedangkan yang terdapat hubungan adalah karakteristik umur
dengan nilai P value 0,024, pengetahuan dengan nilai P value 0,009 dan dukungan
keluarga P value 0,001. Hasil tingkat kepatuhan pasien TB terhadap penggunaan
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara keseluruhan pasien TB kepatuhannya dalam
kategori sedang 71,4% (46 orang).
Open AccessObat Anti Tuberkulosis, Tingkat Kepatuhan Pasien, Puskesmas
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat anti tuberkulosis secara teratur sampai tuntas dan patuh merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengobatan Tuberkulosis paru. Tujuan untuk mengetahui karakteristik dan hubungan tingkat kepatuhan pasien terhadap Tingkat kepatuhan penggunaan obat anti tuberkulosis di Puskesmas Cilamaya Metode jenis yang penelitian ini merupakan Deskriptif Kuantitatif dengan pendekatan kuantitatif alat yang digunakan untuk pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Hasil dari penelitian berdasarkan jenis kelamin jumlah penderita laki-laki sebesar 54,0%, umur pada rentang usia 15-34 tahun yaitu sebesar 63,5%, pendidikan tingkat SMA 34,9%, pekerjaan pegawai swasta sebanyak 25,9%, lama pengobatan pasien 2 sebanyak 47,6%, pengetahuan baik sebanyak 79,4%. Kesimpulan karakteristik pasien meliputi pekerjaan dan pengetahuan mempunyai hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan pasien Obat Anti Tuberkulosis (OAT) karena nilai p value yang diperoleh kurang dari nilai signifikan yang digunakan yaitu 0,005. Nilai pekerjaan (p = 0,001) dan pengetahuan (p = 0,030).
Open AccessObat Anti Tuberkulosis Paru, Puskesmas, Tingkat Kepatuhan TBC
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang berpotensi serius dan biasanya menyerang paru-paru. Indonesia merupakan negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi ketiga setelah India dan Cina, yang berpenduduk lebih dari 1 milyar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan penggunaan Obat Antituberkulosis (OAT) paru berdasarkan usia, jenis kelamin, kategori pengobatan, jenis (OAT) dan tipe pasien pada periode Mei-Oktober 2022. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif yang bersifat retrospektif, menggunakan resep dan rekam medis pasien rawat jalan yang didiagnosa Tuberkulosis paru yang menerima pengobatan di RS Sentra Medika Cibinong. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk persentase dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode Mei-Oktober 2022 terdapat sebanyak 95 pasien rawat jalan yang didiagnosa tuberkulosis dengan total populasi sebanyak 1565 diantaranya berusia 21-59 tahun sebanyak 83 kasus (87,4%), usia 15-20 tahun sebanyak 12 kasus (12,6%). Berdasarkan jenis kelamin perempuan sebanyak 52 pasien (54,7%). Tipe pasien berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya terdapat pasien kasus baru sebanyak 93 pasien (97,3%) dibandingkan kasus kambuh sebanyak 2 pasien (2,1%), Jenis OAT yang digunakan pada rumah sakit ini adalah OAT jenis KDT dengan total 95 pasien (100%). Pasien yang menerima pengobatan kategori 1 sebanyak 93 pasien (97,9%), yang menerima pengobatan kategori 2 sebanyak 2 pasien (2,1%). Kesimpulan kategori pengobatan tertinggi adalah kategori I dan sesuai dengan Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis RI Nomor 67 Tahun 2016.
Open AccessPola Peresepan, Tuberkulosis, KDT, Kombipak
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Penyakit tuberculosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium
tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru-paru. Masalah pada studi kasus ini yaitu memberikan gambaran tentang
pemberian Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Bersihan jalan nafas tidak efektif akibat Tuberkulosis Paru. Metode
yang digunakan adalah studi kasus dengan menggunakan metode deskriptif. Subyek studi kasus yakni satu orang klien
(Ny. M) yang mengalami tuberkulosis dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif. Sumber data didapatkan melalui
wawancara dan pengkajian. Hasil pengkajian menunjukkan data-data yang menunjang untuk dimunculkan masalah
keperawatan utama, diantaranya klien mengalami batuk lebih dari 7hari, demam kurang lebih 5 hari, dan nyeri pada
bagian tulang belakang, terdapat suara nafas tambahan yaitu ronkhi, Tes kulit mantoux: 8mm, BTA: +1. Masalah
keperawatan utama adalah Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret. Intervensi yang
dilakukan berdasarkan teori manajemen jalan nafas menurut SIKI. Implementasi disesuaikan dengan buku SIKI. Evaluasi
yang dilakukan hasilnya dapat teratasi dengan kriteria hasil batuk efektif meningkat dan sekret mudah dikeluarkan.
Open Accesstuberkulosis paru, bersihan jalan nafas tidak efektif, batuk
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberkulosis yang ditularkan melalui udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Salah satu tanda dan gejala tuberkulosis paru adalah batuk disertai dahak dan akan menimbulkan bersihan jalan napas tidak efektif. Tujuan penelitian ini mengetahui asuhan keperawatan pada pasien tuberkulosis paru dengan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif. Metode penelitian ini menggunakan metode kasus dengan seorang pasien berumur 71 tahun yang mengalami tuberkulosis paru. Hasil studi kasus penelitian ini ditemukannya gejala klinis pada pasien tuberkulosis paru adanya klien tampak gelisah, batuk disertai dahak dan sesak napas, dan terdapat suara napas tambahan yaitu ronkhi, Tindakan keperawatan yang efektif pada kasus penelitian ini adalah tindakan dengan latihan batuk efektif. Kesimpulan tindakan yang dilakukan pada pasien tuberkulosis paru dengan implementasi latihan batuk efektif sangat efektif dalam mengatasi keperawatan utama dengan evaluasi terakhir masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif teratasi ditandai dengan klien mengatakan sudah tidak batuk dan sesak napas, klien terlihat nyaman dan membaik.
Open AccessAsuhan Keperawatan, Tuberkulosis paru, Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Book•2022•Koleksi Perpustakaan
Sistem pernapasan merupakan sistem alat yang dipakai selaku alterasi gas. Sistem respirasi biasanya
melingkupi pipa yang dipakai guna mengangkat hawa ke alat pernapasan, di mana alterasi gas terjalin.
Tujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi ACBT terhadap pengeluaran sputum pada penderita
sistem gangguan pernapasan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan riset
kuantitatif dengan menggunakan metode Pre Ekperimental One Group pre dan post test design.
Populasi penelitian ini terdiri dari 148 pasien yang menderita gangguan sistem respirasi, dengan
jumlah sampel sebanyak 15 responden dengan teknik total sampling. Berdasarkan hasil uji statistik
normalitas dan Paired T test. menunjukkan bahwa nilai rata-rata pre tindakan adalah 3,47 dan post
tindakan 3,67 dan hasil Paired T test menunjukkan nilai Asym.Sig. (2-tailed) adalah 0,000. Hasil
penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi ACBT terhadap pengeluaran sputum pada penderita
sistem gangguan pernapasan. Kesimpulan dalam penelitian ini adanya pengaruh dalam teknik ACBT
dalam mengeluarkan sputum pada pasien gangguan sistem respirasi. Diharapkan terapi ACBT
menjadi salah satu pilihan terapi komplementer dalam mengeluarkan sputum pada penderita gangguan
sistem respirasi.
Open AccessACBT,Respirasi, Tuberkulosis.
Book•2022•Koleksi Perpustakaan
Pengobatan pasien Tuberkulosis Paru memerlukan waktu lama sehingga dukungan keluarga penting diberikan. Bentuk dukungan keluaga dibagi menjadi : dukungan emosional keluarga, dukungan instrumental keluarga, dukungan informasi keluarga dan dukungan penilaian keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan dukungan keluarga Pada Pengobatan Pasien Tuberkulosis Paru yang berobat di Poli Paru Rumah Sakit Annisa Cikarang Tahun 2020. Metode yang digunakan adalah cross sectional. Sampel yang digunakan adalah pasien TB Paru yang sedang berobat di Poli Paru Rumah Sakit Annisa Cikarang sebanyak 60 Responden dengan tehnik total sampling yang dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2020. Data diambil dari hasil kuesioner dan rekam medis Pasien. Data dianalisis untuk mengetahui rasio prevalensi dengan menggunakan tabel 2x2, dengan interval kepercayaan 95%. Hasil analisa bivariat menunjukan dukungan emosional keluarga (P. Value = 0,000 ;CI 95% = 3,85-268), dukungan instrumental keluarga (P.Value =0,004;CI 95% = 1,584-14,8), dukungan informasi keluarga (P.Value=0,006;CI 95% = 1,525-19,7), dukungan penghargaan keluarga (P. Value =0,002 ; CI 95% = 1,817-17,326). Pengobatan TB Paru pada pasien Tuberkulosis Paru sebagian besar patuh dalam pengobatannya dan Ada hubungan secara statistic. Disarankan bagi peran perawat khusunya perawat di Poli Paru Rumah Sakit dan keluarga dalam promosi kesehatan sebagai health educator terhadap pentingnya dukungan keluarga pada pengobatan pasien Tuberkulosis Paru.
Open AccessFaktor-faktor dukunga keluarga, pengobatan pasien Tuberkulosis Paru
Thesis•2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sistem pernapasan merupakan sistem alat yang dipakai selaku alterasi gas. Sistem respirasi biasanya melingkupi pipa yang dipakai guna mengangkat hawa ke alat pernapasan, di mana alterasi gas terjalin. Tujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi ACBT terhadap pengeluaran sputum pada penderita sistem gangguan pernapasan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan riset kuantitatif dengan menggunakan metode Pre Ekperimental One Group pre dan post test design. Populasi penelitian ini terdiri dari 148 pasien yang menderita gangguan sistem respirasi, dengan jumlah sampel sebanyak 15 responden dengan teknik total sampling. Berdasarkan hasil uji statistik normalitas dan Paired T test. menunjukkan bahwa nilai rata-rata pre tindakan adalah 3,47 dan post tindakan 3,67 dan hasil Paired T test menunjukkan nilai Asym.Sig. (2-tailed) adalah 0,000. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh terapi ACBT terhadap pengeluaran sputum pada penderita sistem gangguan pernapasan. Kesimpulan dalam penelitian ini adanya pengaruh dalam teknik ACBT dalam mengeluarkan sputum pada pasien gangguan sistem respirasi. Diharapkan terapi ACBT menjadi salah satu pilihan terapi komplementer dalam mengeluarkan sputum pada penderita gangguan sistem respirasi
Open AccessACBT,Respirasi, Tuberkulosis.