Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Masalah keperawatan yang muncul pada individu lanjut usia (lansia) dengan diabetes mellitus salah satunya adalah gangguan mobilitas fisik,gangguan mobilitas fisik merupakan Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri, Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelainan metabolik yang dikarakteristikan dengan adanya peningkatan gkukosa dalam darah melebihi batas normal (hiperglikemia) yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin. Penyakit DM sering terjadi pada lansia karena organ tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif serta komplikasi lebih cepat muncul pada lansia dibandingkan dengan kelompok usia lainnya karena disebabkan oleh berbagai faktor resiko komplikasi, metode yang digunakan adalah studi kasus melalui wawancara, dan observasi yang dianalisa secara deskriptif.penelitian ini dilakukan ini di Desa Karang Asih Cikarang Utara pada tanggal 31 Mei 2022. Hasil penelitian ini didapatkan setelah dilakukan asuhan keperawatan pada Ny. R degan diagnosa Diabetes Mellitus selama 3x 24 jam dengan kriteria hasil melaporkan perasaan peningkatan kekuatan kemampuan dalam bergerak. subyek studi ini yakni satu orang klien (Ny.R) yang mengalami diabetes mellitus. Intervensi keperawatan yang diberikan berupa Indetifikasi adanya kekakuan otot atau keluhan fisik lainnya, libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan, ajurkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (sisi tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi). Dapat disimpulkan bahwa indetifikasi adanya kekuatan otot dapat berpengaruh terhadap kekuatan otot lansia (Ny.R).
Open AccessLansia, gangguan mobilitas fisik, diabetes mellitus
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Stroke non hemoragik adalah sebuah tanda klinis disfungsi yang dialami jaringan otak yang disebabkan kurangnya pasokan aliran darah ke otak sehingga dapat mengganggu kebutuhan oksigen dan darah di jaringan otak. Range Of Motion (ROM) adalah tindakan latihan persendian tulang dan otot yang diberikan khususnya kepada pasien yang mobilitasnya terbatas karena penyakit tertentu, disabilitas, trauma baik secara aktif maupun pasif. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari seluruh aspek dalam proses Asuhan Keperawatan Gerontik pada pasien dengan Gangguan Mobilitas Fisik akibat Stroke Non Hemoragik. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah Ny. T dengan diagnosa keperawatan gangguan mobilitas fisik. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karang asih pada tanggal 2 Agustus 2022 sampai 9 Agustus 2022. Hasil penelitian didapatkan pada klien yang menderita stroke mengatakan sering pegal-pegal pada kaki dan tanganya, kaki kirinya kaku dan tidak bisa digerakan dengan kekuatan otot ekstremitas atas kanan 4 dan kiri 3, ekstremitas bawah kanan 3 dan kiri 1, timbulnya keluhan secara bertahap, penyebabnya klien terjatuh dari tempat tidurnya pada 3 tahun yang lalu. Evaluasi dari hasil tindakan yang selama ini dilakukan yaitu gangguan mobilitas fisik dapat teratasi sebagian dengan hasil klien tampak lebih segar, sendi kakunya sudah berkurang dan meningkatnya kekuatan otot setelah melakukan latihan ROM aktif dan pasif. Dapat disimpulkan latihan ROM aktif dan pasif dengan hasil setelah dilakukan tindakan klien tampak lebih segar, sendi kakunya sudah berkurang dan meningkatnya kekuatan otot, Sehingga perawat yang melakukan terapi Range Of Motion pada pasien stroke yang mengalami gangguan mobilitas fisik dapat berpengaruh pada pemulihan kekuatan otot bagi penderita stroke.
Open AccessGangguan mobilitas fisik, Range Of Motion, Stroke non hemoragik
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Stroke Hemoragik menyebabkan timbulnya masalah keperawatan yaitu gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular. Metode penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan seseorang pasien berumur 51 tahun yang mengalami stroke hemoragik. Hasil studi kasus ini ialah ditemukan klien sulit menggerakan kaki dan tangan bagian kanan, kekuatan otot menurun, kaku sendi. Tindakan keperawatan yang efektif pada kasus penelitian ini adalah tindakan nonfarmakologi latihan gerak sendi range of motion (ROM). Kesimpulan : tindakan yang dilakukan pada pasien stroke dengan implementasi range of motion ROM cukup efektif namun perlu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk teratasinya dengan evaluasi terakhir masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik teratasi sebagian ditandai dengan klien mengatakan kekuatan otot 4444 4444 5555 5555, kaku sendi menurun.
Open AccessAsuhan Keperawatan, Stroke Hemoragik, Gangguan Mobilitas Fisik
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Stroke gangguan neurologis terjadi secara mendadak dengan tanda klinis fokal atau global yang berlangsung lama lebih 24 jam dikarenakan oleh gangguan peredaran darah di otak. Stroke iskemik dapat menyebabkan timbulnya kelemahan pada bagian wajah, tangan atau kaki yang menyebabkan timbulnya masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik. Tujuan penelitian untuk mempelajari proses pemberian asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan pada pasien dengan stroke iskemik. Metode klien dewasa yang berjenis laki-laki berumur 65 tahun dengan masalah gangguan mobilitas fisik. Hasil studi kasus penelitian ini ditemukannya gejala klinis pada pasien stroke iskemik diantaranya mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas, kekuatan otot menurun, sendi kaku, gerakan terbatas, fisik lemas, sehingga timbul diagnosa keperawatan utama gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan neuromuskuler. Tindakan keperawatan yang efektif pada kasus penelitian ini adalah Tindakan monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi, libatkan keluarga untuk membantu meningkatkan pergerakan, anjurkan melakukan Range Of Motion (ROM), nganjurkan lakukan mobilisasi sederhana. Kesimpulan penelitian ini adalah Tindakan yang dilakukan pada implementasi sangat efektif dalam mengatasi keperawatan utama pada penelitian ini dengan evaluasi terakhir masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik belum teratasi ditandai dengan saat di lakukan mobilisasi Range Of Motion (ROM) pada bagian tangan masih mampu untuk di bantu pergerakan, namun untuk kaki belum ada Gerakan.
Open AccessStroke Iskemik, gangguan mobilitas fisik, pemberian Range Of Motion (ROM)
Book•2022•Koleksi Perpustakaan
Lanjut usia (lansia) penderita stroke meningkat diiringi masalah keperawatan yang bisa muncul salah satunya adalah gangguan mobilitas fisik. Gangguan mobilitas fisik menyebabkan adanya penurunan kendali otot, sehingga lansia tidak mampu melakukan aktivitas. Namun, studi kasus yang membahas mengenai intervensi yang tepat untuk lansia dengan gangguan mobilitas fisik belum tersedia, sehingga studi kasus ini penting dilakukan. Metode yang digunakan pada studi kasus asuhan keperawatan ini berupa wawancara dan observasi. Studi kasus dilakukan di Desa Pasirgombong Cikarang Utara pada Ny. E (64 tahun). Adapun tindakan keperawatan yang diberikan pada sampel adalah dukungan ambulasi, dukungan monilisasi dan pencegahan jatuh. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam didapatkan, gangguan mobilitas fisik dapat teratasi sebagian, yaitu klien dapat melakukan aktivitas setelah melakukan latihan ambulasi dan ROM pasif fleksi dan ekstensi pada ekstremitas kiri. Intervensi latihan ambulasi dan ROM pasif dapat mengatasi masalah Keperawatan gangguan mobilitas fisik, sehingga dapat pula di implementasikan pada pasien lansia dengan masalah yang sama.
Open AccessGangguan Mobilitas Fisik, Lansia, Stroke Non Haemorogic
Book•2022•Koleksi Perpustakaan
Trauma merupakan penyebab dari kematian paling tertinggi pada rentang usia 1 sampai 44 tahun di hampir seluruh negara maju. Proporsi kematian terbesar 1,2 juta pertahun hasil dari kecelakaan lalu lintas di jalan. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2012, mencatat lebih dar i 5,6 juta korban meninggal dunia dan 1,3 juta orang menderita fraktur akibat kecelakaan lalu lintas. Tujuan penelitian ini untuk menggali dan mempelajari asuhan keperawatan yang dilakukan secara komperhensif pada klien yang mengalami fraktur terbuka metatarsal dengan Gangguan Mobilitas fisik. Penelitian menggunakan metode studi kasus, partisipan pada kasus ini satu klien yang mengalami fraktur metatarsal mengeluh lemas dan letih, Klien tampak kesakitan saat menggerakkan kaki kanannya, Klien tampak kesulitan saat beraktivitas, klien mengatakan enggan untuk melakukan pergerakan, Kekuatan otot menurun 3 (Tiga) pada ektremitas bawah dextra. Hasil studi kasus masalah utama pada pasien yaitu Gangguan mobilitas fisik. Tindakan terapeutik yang dilakukan untuk mengatasi gangguan mobilitas fisik yaitu mengajarkan ambulasi sederhana. Kesimpulan studi kasus ini masalah gangguan mobilitas fisik dapat teratasi sebagian dengan kriteria hasil klien sudah bisa melakukan mobilitas secara mandiri dan dibantu keluarga.
Open AccessAsuhan Keperawatan, Fraktur metatarsal, Gangguan Mobilitas Fisik