Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Radikulopati lumbal merupakan gangguan muskuloskeletal yang sering terjadi pada lansia dan ditandai dengan nyeri menjalar akibat kompresi atau iritasi akar saraf lumbal, diperlukan intervensi nonfarmakologis seperti William Flexion Exercise yang berfokus pada gerakan fleksi untuk meningkatkan stabilitas otot trunk dan mengurangi tekanan saraf. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh William Flexion Exercise terhadap intensitas nyeri pada pasien lansia dengan radikulopati lumbal di Poli Rehabilitasi Medik RSU Pindad Bandung tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment pretest–posttest control group design dengan 36 responden menjadi kelompok intervensi (William Flexion Exercise) dan kelompok kontrol (Isometric Back Muscle Exercise), dengan durasi intervensi 4 minggu (3 kali per minggu), serta pengukuran nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan analisis data menggunakan uji paired sample t-test dan Mann–Whitney. Hasil: Kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara pre-test dan post-test (p = 0,2940), sedangkan kelompok intervensi mengalami penurunan nyeri yang signifikan (p = 0,0017), serta terdapat perbedaan signifikan antar kelompok (p = 0,0469). Kesimpulan: William Flexion Exercise terbukti berpengaruh signifikan dalam menurunkan intensitas nyeri pada lansia dengan radikulopati lumbal dan dapat menjadi intervensi fisioterapi yang efektif dan aman.
Open AccessWilliam Flexion Exercise, radiculopati lumbal, lansia, intensitas nyeri, fisioterapi
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penyakit stroke merupakan masalah kesehatan yang utama bagi masyarakat modern saat ini. Pada pasien dengan disfungsi neurologis, akan ada kerusakan sistem yang menghasilkan presentasi yang berbeda. Gangguan kontrol postural yang mengikuti lesi neurologis biasanya dapat menurunkan kemandirian, meningkatnya resiko jatuh, dan penurunan produksi gerakan yang terkoordinasi. Kontrol dan keseimbangan kaki sangat penting dalam meningkatkan kemampuan kontrol postural dan menjaga keseimbangan fungsional tubuh. Intervensi fisioterapi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan kontrol postural adalah foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept. Tujuan: Mengetahui pengaruh foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept terhadap kemampuan kontrol postural pasien pasca stroke di RS. Hermina Arcamanik Kota Bandung. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi experiment. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest–posttest control group design, dengan melibatkan dua kelompok penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 36 pasien. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian adalah total sampling, dengan semua populasi digunakan sebagai sampel. Pengukuran kontrol postural menggunakan Postural Assessment Scale for Stroke (PASS). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis Wilcoxon. Hasil: Pada kelompok intervensi, hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p < 0,0001 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan yang sangat bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test. Kesimpulan : Foot core stability exercise dengan pendekatan new bobath concept memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan kontrol postural pada pasien pasca di RS. Hermina Arcamanik Kota Bandung.
Open Accesspasca stroke, kontrol postural, foot core stability, new bobath concept
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Pendahuluan : Penyakit stroke masih menjadi salah satu masalah utama
kesehatan, bukan hanya di Indonesia namun di dunia. Stroke juga merupakan
penyebabkan kematian kedua dan penyebab disabilitas ketiga di dunia. Fisioterapi
sangat berperan dalam penanganan pasien pasca stroke sesuai yang di sampaikan .
Salah satu intervensi Fisioterapi adalah Pemberian Latihan ergocycle dan active
exercise. Latihan ergocycle dan active exercise merupakan tindakan rehabilitasi
yang digunakan untuk mengoptimalkan kemandirian fungsional seseorang dengan
gangguan neurologi. Tujuan : Untuk mengetahui pemberian Latihan ergocycle
dan active exercise terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien lansia pasca
stroke. Sampel : : Terdiri dari 32 orang pasien Fisioterapi di Instalasi Rehabilitasi
Medik RSUD Kota Bandung dipilih berdasarkan purpose sampling dengan
menggunakan tabel assessmen yang tersedia dan kriteria yang sudah ditetapkan.
Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperimental untuk
mengetahui suatu intervensi yang dilakukan terhadap suatu objek penelitian.
Setelah semua data terkumpul, maka dilakukan analisis data penelitian. Proses ini
menggunakan sistem komputerisasi program Graphpad Prism 8, dengan tingkat
signifikan p<0,05. Langkah awal pengolahan data yang dilakukan yaitu
melakukan uji normalitas data. Uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk
karena jumlah sample kurang dari 50. Selanjutnya dilakukan uji paired T-test
berpasangan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang bermakna. Hasil :
Pada kelompok kontrol hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p = 0,3332 (p >
0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test pada kelompok
kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan signifikan pada
kekuatan otot tanpa intervensi. Sedangkan pada kelompok perlakuan . Hasil uji
paired t-test menunjukkan nilai p = 0,0005 (p < 0,05), yang berarti terdapat
perbedaan yang sangat bermakna secara statistik antara nilai pre-test dan post-test.
Kesimpulan : perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh signifikan
terhadap peningkatan kekuatan otot berdasarkan skor MMT, sedangkan pada
kelompok kontrol tidak ditemukan perubahan yang bermakna.
Open Access
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi sistem muskuloskeletal dan neuromuskular yang berdampak pada menurunnya kemampuan keseimbangan serta meningkatnya risiko jatuh pada lansia. Sistem yang berperan dalam keseimbangan meliputi sistem visual, vestibular, dan proprioseptif yang bekerja secara terintegrasi dengan sistem muskuloskeletal. Otot core memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas trunk dan mempertahankan pusat gravitasi tubuh. Intervensi fisioterapi yang dapat digunakan untuk meningkatkan stabilitas postural adalah core strengthening exercise. Tujuan: Mengetahui pengaruh core strengthening exercise terhadap keseimbangan pada lansia dengan gangguan keseimbangan di Fit Factory Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran keseimbangan menggunakan Berg Balance Scale (BBS). Analisis data dilakukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis Wilcoxon. Hasil: Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -4,810 dengan p = 0,000 (p<0,05) yang menunjukkan adanya peningkatan keseimbangan yang signifikan setelah pemberian intervensi. Kesimpulan : Core strengthening exercise memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia dengan gangguan keseimbangan di Fit Factory Bandung
Open Accesslansia, keseimbangan, core stability, core strengthening exercise
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Peningkatan populasi lansia di Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan, salah satunya neuropati perifer yang menyebabkan penurunan kontrol postural dan kemampuan proprioseptif. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Latihan core stability merupakan intervensi fisioterapi yang difokuskan pada penguatan otot-otot inti untuk meningkatkan stabilitas tubuh dan mobilitas fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program latihan berbasis core stability dalam menurunkan risiko jatuh pada lansia dengan gangguan neuropati perifer di RSAD Wira Bhakti Mataram. Jenis penelitian ini adalah quasi-experimental dengan rancangan one group pre-test and post-test design. Sampel penelitian berjumlah 40 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi latihan 3 kali seminggu. Instrumen pengukuran yang digunakan untuk menilai risiko jatuh adalah Timed Up and Go (TUG) Test. Data dianalisis menggunakan uji statistik untuk melihat perbedaan skor sebelum dan sesudah intervensi. Karakteristik responden didominasi oleh perempuan (67,5%) dan kelompok usia di atas 60 tahun (77,5%). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan durasi waktu yang signifikan pada skor TUG test setelah pemberian intervensi latihan core stability. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan stabilitas dinamis dan penurunan kategori risiko jatuh pada responden. Program latihan berbasis core stability efektif dalam menurunkan risiko jatuh pada lansia dengan gangguan neuropati perifer. Disarankan bagi praktisi fisioterapi untuk menerapkan latihan ini sebagai bagian dari program rehabilitasi lansia.
Open AccessCore Stability, Lansia, Neuropati Perifer, Risiko Jatuh, TUG Test.
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Radikulopati lumbal merupakan gangguan saraf akibat kompresi atau iritasi akar saraf lumbal yang sering terjadi pada lansia dan menyebabkan nyeri serta keterbatasan rentang gerak (ROM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh William Flexion Exercise serta Manual Therapy yang dikombinasikan dengan Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) terhadap penurunan nyeri dan peningkatan ROM lumbal. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test two group design. Sampel penelitian berjumlah 20 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu William Flexion Exercise (n=10) dan Manual Therapy + TENS (n=10). Intensitas nyeri diukur menggunakan Visual Analog Scale (VAS) dan ROM diukur menggunakan goniometer. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test dan Independent Sample T-Test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua intervensi secara signifikan menurunkan nyeri dan meningkatkan ROM (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan dalam penurunan nyeri antar kelompok (p=0,337), namun terdapat perbedaan signifikan pada peningkatan ROM (p<0,05), dimana kelompok Manual Therapy + TENS menunjukkan peningkatan yang lebih besar. Dapat disimpulkan bahwa kedua intervensi efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan ROM, namun Manual Therapy + TENS lebih efektif dalam meningkatkan rentang gerak lumbal.
Open Accessradikulopati lumbal, William Flexion Exercise, manual therapy, TENS, nyeri, rentang gerak
Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Open Access
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Penyebab kematian tertinggi kedua di dunia di sebabkan oleh stroke dengan angka 15 juta jiwa setiap tahun nya. Rata-rata stroke bersifat iskemik karena terjadi penurunan aliran darah yang disebabkan oklusi arteri. Gejala stroke yang bersifat hemoragik sebesar 10-40% tergantung epidemiologi regional serta disebabkan pecahnya arteri cerebral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh static cycle dan deep breathing exercise pada insan pasca stroke dengan penurunan kardiorespirasi di RS Sentra Medika Cikarang. Subyek dan Metode: Penelitian ini menggunakan quasi experimental dengan desain penelitian berupa pretest-posttest twogroup. Penelitian dilakukan di Instalasi Rehabilitasi Medik Fisioterapi RS Sentra Medika Cikarang. Metode yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah 16 orang dan dibagi kedalam 2 kelompok perlakuan. Masing- masing kelompok perlakuan terdiri dari 8 orang.total sampling. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah penurunan kardiorespirasi pada insan pasca stroke sedangkan variabel independen adalah static cycle dan deep breathing exercise. Data dikumpulkan menggunakan pemeriksaan 6MWT pre-test dan post-test dengan metode shapiro wilk test. Hasil: Hasil analisis data menunjukkan adanya pengaruh pemberian intervensi static cycle dengan intensitas ringan – sedang durasi 10 -15 menit didapatkan nilai p=0,0002 atau p<0,05 dan deep breathing exercise didapatkan nilai p=0,0002 atau p<0,05 dengan durasi 4- 5 menit menit.Kesimpulan:Dengan instrumen 6MTW untyk mengukur kebugaran kardiovaskuler secara pre test dan post test maka hasil penelitian yang didapatkan berupa terdapat pengaruh pemberian static cycle dan deep breathing exercise pada insan pasca stroke dengan penurunan kardiorespirasi.
Open AccessAerobic Exercise, Static Cycle, Breathing Exercise, Deep Breathing Exercise, Stroke, Lansia
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: Stroke merupakan penyebab kedua dalam kematian dan ketiga
kecacatan di dunia. Kematian mendadak beberapa sel otak yang disebabkan adanya kekurangan
oksigen ketika aliran darah ke otak karena penyumbatan atau pecah dari arteri ke otak. Akibat
stroke ditentukan bagian mana otak yang terjadi cedera (kanan atau kiri), hal ini mempengaruhi
perubahan yang terjadi setelah serangan stroke yaitu kelumpuhan sebagian belah tubuh
(hemiplegi) ataupun dimana sebelah bagian tubuh dirasakan tidak berasa (hemiparesis). Pasien
stroke akan mengalami gangguan keseimbangan. Tujuan : Mengetahui pengaruh penambahan
Core Stengthening dan Pelvic PNF terhadap keseimbangan berdiri dan berjalan pada lansia.
Metode : Eksperimental dengan rancangan Three Group Pre Test dan Post Test. Responden
dipilih 3 kelompok, yaitu pada lansia post stroke dengan gangguan keseimbangan statis dan
dinamis. Setiap sampel diberikan perlakuan pemberian latihan core strengthening dan Pelvic
PNF. Hasil : Uji normalitas data menggunakan shapiro wilk test dengan p>0,05. Berdasarkan
tabel uji normalitas menunjukkan distribusi data penelitian ini adalah normal, hasil unpaired
test mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Untuk core strengthening pada kelompok perlakuan
menunjukkan terdapat perubahan p value=<0,0435, pelvic PNF menunjukkan ada perubahan
p value=<0,0297. Core strengthening dan pelvic PNF menunjukkan perubahan signifikan
dengan p value=<0,0012.
Open AccessStroke, Core Strengthening, Pelvic PNF
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian latihan stabilitas inti terhadap fungsi trunk dan aktivitas fungsional pada lansia pasca stroke. Dua hipotesis utama diuji dalam penelitian ini: pertama, apakah latihan stabilitas inti berdampak signifikan terhadap fungsi trunk pada lansia pasca stroke; dan kedua, apakah latihan stabilitas inti berdampak signifikan terhadap aktivitas fungsional pada lansia pasca stroke. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimental. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari latihan stabilitas inti terhadap peningkatan fungsi trunk dan aktivitas fungsional pada lansia pasca stroke. Temuan ini menunjukkan bahwa latihan stabilitas inti dapat menjadi intervensi yang efektif dalam program rehabilitasi untuk meningkatkan kualitas hidup lansia pasca stroke.
Open AccessLatihan stabilitas inti, fungsi trunk, aktivitas fungsional, lansia, pasca stroke, rehabilitasi.
Book•2024•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Saat ini kita mulai memasuki periode aging population, dimana terjadi peningkatan umur harapan hidup yang diikuti dengan peningkatan jumlah lansia. Demensia merupakan penyakit degeneratif yang sering menyerang pada orang yang berusia diatas 60 tahun. Salah satu model aktivitas fisik yang didesain untuk lansia dengan dementia adalah senam vitalisasi otak. Dari beberapa model aktivitas fisik, salah satunya adalah cross lateral movement yang dapat meningkatkan kebugaran otak. Cros Lateral Movement adalah gerakan yang melintasi dari sisi tubuh satu ke sisi tubuh yang lain atau melintasi garis tengah tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari Edukasi Kinesiologi (Cross Lateral Movement) pada sistem daya ingat pada lansia dengan Dementia.
Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan yang digunakan Randomized Pre and Post Control Group Design. Jumlah responden 25 orang lansia dari 2 kelompok yang berbeda yang dipilih menggunakan purposive sampling. Dibagi menjadi 2 group yaitu 20 org diberikan perlakuan Cross Lateral Movement dengan 2x per minggu selama 30 menit dalam 8 minggu dan 5 orang tidak diberikan perlakuan. Kemudian dilakukan pengukuran dengan menggunakan Short Portable Mental Status Quesionaire. Hasil: Kelompok perlakuan diuji dengan un-paired T-test didapatkan hasil dengan nilai P-Value <0,0001, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukan tidak terdapat perubahan yang signifikan dengan p value sebesar 0,6996. Simpulan: ada pengaruh Cross Lateral Movement terhadap peningkatan daya ingat pada demensia.
Open AccessDemensia, cross lateral movement, Edu-Kinesiologi, Lansia.
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Proses penuaan adalah hal yang normal, namun bisa saja diiringi
dengan masalah medis. Jatuh merupakan penyebab utama cedera fatal dan nonfatal
pada lansia. Penyebab utama jatuh pada lansia adalah masalah gaya berjalan serta
keseimbangan. Gangguan keseimbangan pada lansia disebabkan oleh kelemahan
otot-otot penegak tubuh. Core exercise merupakan prinsip penguatan pada otot-otot
inti tubuh Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh core exercise
terhadap peningkatan keseimbangan dinamis pada lansia di RS Lira Medika.
Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan yang
digunakan Randomized Pre and Post Control Group Design. Jumlah responden 14
orang lansia yang berusia 60 tahun keatas yang berkunjung ke Poli Rehabilitasi
Medis RS Lira Medika yang dipilih dengan purposive sampling, dibagi dua
kelompok, yaitu kelompok perlakuan dengan diberikan core exercise selama 2 kali
dalam seminggu selama 6 minggu dan kelompok kontrol tanpa diberikan latihan.
Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengukuran keseimbangan dinamis
dengan Times Up And Go Test (TUTG). Hasil: Kelompok perlakuan diuji
menggunakan unpaired t-test didapatkan hasil nilai yang signifikan p value sebesar
<0,0001, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukan tidak terdapat perubaan
yang signifikan dengan p value sebesar 0,1690.Simpulan: ada pengaruh core
exercise terhadap peningkatan kesimbangan dinamis pada lansia.
Open AccessCore Exercise, Keseimbangan Dinamis, Lansia
Book•2023•Koleksi Perpustakaan
Pasien dengan stroke juga akan mengalami gangguan sensorik, depresi, postural kontrol, gangguan keseimbangan, gangguan pola berjalan, dan gangguan kemampuan fungsional serta aktivitas sehari-hari. Pilihan modalitas sensorik dicakup ketika mempertimbangkan intervensi sensorik (misalnya somatosensori, vestibular, pendengaran dan multisensor) (Dias, 2014). Sehingga input sensori dengan akivitasi pada ektremitas bawah pada pasien stroke sangat diperlukan untuk meningkatkan kontrol postural.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan two group pre test dan post test. Penelitian ini menggunakan dua kelompok pasien, dimana masing-masing kelompok pasien akan dinilai kemampuannya sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Kelompok yang diteliti adalah pasien hemiparese post stroke iskemik yang diberi input somatosensory dengan aktivasi ektremitas bawah. Jumlah sampel berdasarkan rumus di atas adalah 14 pasien stroke jenis stroke iskemik. Uji normalitas data menggunakan uji Saphiro-Wilk karena jumlah sample kurang dari 50. Selanjutnya dilakukan uji T-test tidak berpasangan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang bermakna.
Berdasarkan hasil unpaired T-test pada masing-masing mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Untuk Fugle Meyer Assesment Lower Extremity pada kelompok perlakuan menunjukan bahwa terdapat perubahan yang signifikan dengan p Value = < 0,0001, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukan bahwa tidak terdapat perubahan yang signifikan dengan p Value = 0,848. Untuk Postural Assesment Scale For Stroke Patient (PASS) pada kelompok perlakuan bahwa terdapat perubahan yang signifikan dengan p Value = 0,0014, sedangkan pada kelompok kontrol menunjukan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dengan p Value = 0,1700.
Open AccessInput Somatosensory, Postural Kontrol, Stroke Iskemik, Fugle-Meyer Assesment For Lower Extremity (FMA-LE), Postural Assesment For Patient Stroke (PASS).