Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

7 hasil
Subjek: Spinal Anestesi

Pengaruh Pemberian Coloading Cairan Kristaloid Terhadap Kejadian Hipotensi Pada Pasien Dengan Tindakan Spinal Anestesi di Rumah Sakit Kasih Insani Sukatani

Book2024Koleksi Perpustakaan

Bromage score satu indikator respon motorik pasca spinal anastesi. spinal anastesi adalah metode Latar Belakang : Hipotensi adalah suatu komplikasi yang sering terjadi pada pasien spinal anestesi. Penanganan hipotensi dapat di atasi dengan pemberian coloading cairan kristaloid. Tujuan : Mengidentifikasi gambaran kejadian hipotensi sebelum dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid pada pasien dengan spinal anestesi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, bed side monitor. Hasil : Dalam penelitian ini seluruh responden sebelum pemberian coloading cairan kristaloid mengalami kejadian hipotensi, dimana mayoritas responden mengalami hipotensi sebesar (100%), dan responden setelah pemberian coloading cairan kristaloid mayoritas responden yang mengalami hipotensi sebanyak (89,2%) dan (10,8%) responden yang tidak mengalami hipotensi. Kesimpulan : Kejadian hipotensi pasca anestesi spinal sebelum pemberian coloading cairan kristaloid di temukan bahwa seluruh responden mengalami hipotensi, dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid sebanyak delapan responden tidak hipotensi dan 66 (89,2%) masih mengalami hipotensi .

Open AccessHipotensi, Coloading cairan, Spinal Anestesi
oai:ais:library-item:25611Lihat detail

Faktor yang Memengaruhi Kejadian Mual Muntah Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea Menggunakan Teknik Spinal Anestesi di Ruang PACU Rumah Sakit Medirossa Cikarang

Book2024Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Spinal anestesi paling sering digunakan untuk pasien yang akan menjalani sectio caesaerea dibandingkan dengan anestesi general, karena pasien tetap sadar, kemungkinan terjadi aspirasi dan depresi neonatus juga berkurang. Komplikasi yang kerap terjadi akibat dari spinal anestesi yaitu mual muntah, blok spinal menyebabkan simpatektomi sehingga tonus vagal lebih dominan dan aktivitas parasimpatis menyebabkan kontraksi usus meningkat. Mual muntah akibat proses pembedahan post sectio caesarea jika tidak ditangani akan menyebabkan banyak faktor. Tujuan : Mengetahui faktor yang memengaruhi kejadian mual muntah pasien pada pasien Post Operasi Sectio Caesarea menggunakan teknik spinal anestesi di ruang PACU Rumah sakit Medirossa Cikarang. Metode : Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dan didapatkan sebanyak 30 responden yang menjalani operasi bedah mayor sectio caesarea. Alat ukur yang digunakan adalah lembar observasi PONV menggunakan skala gordon. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil Penelitian: Hasil uji statistic Chi-Square variabel usia dengan kejadian mual muntah diperoleh nilai p-value (0,626 ). Hasil analisis hubungan lama puasa dengan kejadian mual muntah diperoleh nilai p-value p-value (0,023) dengan nilai OR 5,8. hasil analisis hubungan paritas persalinan dengan kejadian mual muntah diperoleh nilai p-value (0,414) Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara usia dan paritas persalinan dengan kejadian mual muntah, ada hubungan yang signifikan antara lama puasa dengan kejadian mual.

Open AccessSpinal anestesi, PONV, Sectio Caesarea
oai:ais:library-item:25533Lihat detail

Pengaruh Pemberian Blanket Warmer Terhadap Hipotermia Pada Pasien Post Operatif Sectio Caesarea Dengan Spinal Anestesi di PACU RS Sentra Medika Cikarang

Book2024Koleksi Perpustakaan

Pada periode post operatif sectio caesarea, tubuh pasien mengalami pemulihan dari anestesi dan paparan lingkungan dingin sehingga membuat sebagian besar pasien mengalami hipotermia. Hipotermia merupakan suatu kedaruratan medis yang muncul ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada produksi panas (suhu inti tubuh <36C) akibat respon dari induksi anestesi serta prosedur pembedahan yang harus ditangani sebagai prioritas. Pemberian blanket warmer merupakan terapi non farmakologis yang dilakukan penata anestesi di PACU untuk memberikan penghangatan dari luar tubuh guna mengurangi kehilangan panas. Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian blanket warmer terhadap hipotermia pada pasien post operatif sectio caesarea dengan spinal anestesi di PACU RS. Sentra Medika Cikarang. Metode: penelitian kuantitatif menggunakan survei analitik dengan pendekatan cross sectional dan desain penelitian Quasi Experiment dengan rancangan One Group Pretest Posttest. Jumlah sampel 30 responden dengan teknik purposive sampling. Uji statistik menggunakan uji Chi Square dan binary logistic regressio. Hasil Penelitian: berdasarkan suhu tubuh pasien sebelum diberikan blanket warmer mangalami hipotermia kategori ringan 17 responden (56,7%), sedang 13 responden (43,3%), berdasarkan usia kategori remaja akhir 6 (20,0%), dewasa awal 14 (46,7%), dewasa akhir 10 (33,3%), berdasarkan lama operasi kategori cepat 17 (56,7%), sedang 13 (43,3%), berdasarkan klasifikasi ASA kategori ASA II 22 (73,3%), ASA III 8 (26,7%). Hasil uji chi square, p-value suhu sebelum diberikan blanket warmer (0,042), usia (0,002), lama operasi (0,003), ASA (1,000), artinya pada alpha 5% terdapat perbedaan bermakna antara suhu tubuh sebelum dan sesudah diberikan blanket warmer dipengaruhi usia dan lama operasi. Hasil akhir OR uji binary logistic regression bernilai 12,675 maka pemberian blanket warmer berpengaruh untuk mengatasi hipotermia pasien post operatif sectio caesarea setelah dikontrol oleh variabel lama operasi. Kesimpulan: ada pengaruh pemberian blanket warmer terhadap hipotermia pada pasien post operatif sectio caesarea di PACU RS Sentra Medika Cikarang.

Open AccessBlanket Warmer, Celcius, Hipotermia, Post Operatif, Sectio Caesarea, Spinal Anestesi
oai:ais:library-item:25251Lihat detail

Penerapan Elevasi Kaki Terhadap Tekanan Darah Pada Pasien Sectio Caesaria Dengan Spinal Anestesi Di Ruang OK Di Rumah Sakit Sentra Medika Cikarang Tahun 2023

Book2024Koleksi Perpustakaan

Latar Belakang: Hipotensi merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan pada tekanan darah arteri. Salah satu dari komplikasi akut yang paling sering terjadi pada pasien dengan spinal anestesi adalah hipotensi. Hipotensi menjadi salah satu efek yang ditimbulkan karena spinal anestesi yang dilakukan pada wanita hamil. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani terjadinya hipotensi pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi yakni salah satunya adalah elevasi kaki. Tujuan: Pengabdian Masyarakat ini adalah turut memberikan pelayanan secara profesional dalam Sosialisasi elevasi kaki terhadap tekanan darah pada pasien sectio caesaria dengan spinal anestesi Di RS Sentra Medika Cikarang Tahun 2023. Metode: Pengabdian Masyarakat yang digunakan adalah memberikan edukasi melalui pemberian intervensi elevasi kaki terhadap tekanan darah pada pasien sectio caesaria dengan spinal anestesi. Hasil: Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang penerapan elevasi kaki terhadap tekanan darah pada pasien sectio caesaria dengan spinal anestesi. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan ada peningkatan pemahaman pasien mengenai penerapan elevasi kaki terhadap tekanan darah pada pasien sectio caesaria dengan spinal anestesi Di RS Sentra Medika Cikarang Tahun 2023.

Open Accesselevasi kaki, sectio caesarea, spinal anestesi
oai:ais:library-item:25030Lihat detail

FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEJADIAN MUAL MUNTAH PADA PASIEN POST OPERASI SECTIO CAESAREA MENGGUNAKAN TEKNIK SPINAL ANESTESI DI RUANG PACU RUMAH SAKIT MEDIROSSA CIKARANG

Thesis2024Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latar belakang: Spinal anestesi menjadi pilihan utama yang paling sering digunakan dibandingkan dengan anestesi general, karena efek anestesi general terhadap ibu dan bayi lebih besar dibandingkan dengan spinal anestesi. Sedangkan General anestesi dikaitkan dengan peristiwa depresi neonatus yang membutuhkan resusitasi, karena obat anestesi general dapat menembus sawar plasenta, sementara itu spinal anestesi memiliki keuntungan seperti, pasien tetap sadar, kemungkinan terjadi aspirasi dan depresi neonatus juga berkurang. Tujuan Penelitian : Untuk Mengetahui Faktor yang memengaruhi kejadian mual muntah pasien pada pasien Post Operasi Sectio Caesarea menggunakan teknik spinal anestesi di ruang PACU Rumah sakit Medirossa Cikarang. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan (rancangan cross sectional). Responden dalam penelitian ini adalah pasien yang menjalani operasi bedah mayor menggunakan teknik spinal anestesi berjumlah 30 responden menggunakan teknik accidental sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi dan analisa data menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil Penelitian: Berdasarkan lama puasa responden, sebanyak 1 responden (3,3%) puasa ≥ 8 jam. Dari hasil penelitian, responden dengan puasa ≤6-8 jam lebih banyak mengalami mual muntah sebanyak 29 responden (96,7%). hasil analisis didapatkan Usia kategori 20-35 tahun dengan kejadin tidak mual sebanyak 14 dari 27 responden (90%), sedangkan usia >35 tahun dengan kejadian tidak mual sebanyak 2 dari 3 responden (10%). hasil analisis didapatkan Paritas Persalinan dengan kategori Primipara dengan kejadin tidak mual sebanyak 5 dari 27 responden (90%), sedangkan Paritas persalinan dengan kejadian mual sebanyak 3 dari 3 responden (10%). Hasil uji statistic diperoleh nilai p-value 0,023 (p-value a0,05), sehingga hipotesis H0 ditolak berarti ada hubungan yang signifikan antara lama puasa dengan kejadian mual muntah. Kesimpulan: Ada pengaruh lama puasa dengan kejadian mual pada pasien post operasi sectio caesarea di ruang operasi Rumah Sakit Medirossa Cikarang

Open AccessKata Kunci: Spinal anestesi, Mual dan Muntah, Post Operasi Sectio Caesarea
oai:ais:skripsi:647Lihat detail

PENGARUH PEMBERIAN COLOADING CAIRAN KRISTALOID TERHADAP KEJADIAN HIPOTENSI PADA PASIEN DENGAN TINDAKAN SPINAL ANESTESI DI RUMAH SAKIT KASIH INSANI SUKATANI PERIODE NOVEMBER - DESEMBER TAHUN 2023

Thesis2024Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PENGARUH PEMBERIAN COLOADING CAIRAN KRISTALOID TERHADAP KEJADIAN HIPOTENSI PADA PASIEN DENGAN TINDAKAN SPINAL ANESTESI DI RUMAH SAKIT KASIH INSANI SUKATANI Wahdatul Apriani Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi D-IV Keperawatan Anestesiologi Universitas Medika Suherman Email : [email protected] ABSTRAK Latar Belakang : Hipotensi adalah suatu komplikasi yang sering terjadi pada pasien spinal anestesi. Penanganan hipotensi dapat di atasi dengan pemberian coloading cairan kristaloid. Tujuan : Mengidentifikasi gambaran kejadian hipotensi sebelum dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid pada pasien dengan spinal anestesi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 74 responden. Pengambilan sampel dengan purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan lembar observasi, bed side monitor. Hasil : Dalam penelitian ini seluruh responden sebelum pemberian coloading cairan kristaloid mengalami kejadian hipotensi, dimana mayoritas responden mengalami hipotensi sebesar (100%), dan responden setelah pemberian coloading cairan kristaloid mayoritas responden yang mengalami hipotensi sebanyak (89,2%) dan (10,8%) responden yang tidak mengalami hipotensi. Kesimpulan : Kejadian hipotensi pasca anestesi spinal sebelum pemberian coloading cairan kristaloid di temukan bahwa seluruh responden mengalami hipotensi, dan setelah pemberian coloading cairan kristaloid sebanyak delapan responden tidak hipotensi dan 66 (89,2%) masih mengalami hipotensi .

Open AccessKata kunci: Hipotensi, Coloading cairan, Spinal Anestesi
oai:ais:skripsi:804Lihat detail

Efektivitas pemberian terapi cairan hangat melalui intravena ( IV ) terhadap suhu tubuh pada pasien dengan shivering pasca operasi di ruang pemulihan dengan spinal anastesi di RS X Kabupaten Bekasi

Thesis2021Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

INSTITUT MEDIKA DRG. SUHERMAN (IMDS) PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS SKRIPSI, APRIL 2021 Nama : SASTRIANA NIM : 020319686 EFEKTIFITAS PEMBERIAN TERAPI CAIRAN HANGAT MELALUI INTRAVENA (IV) TERHADAP SUHU TUBUH PADA PASIEN DENGAN SHIVERING PASCA OPERASI DENGAN SPINAL ANESTESI DI RUANG PEMULIHAN RS X KABUPATEN BEKASI xv + 95 Halaman+ 11 Tabel + 9 Lampiran ABSTRAK Anestesi regional/spinal ialah anestesi pada sebagian tubuh saja, yang menyebabkan keadaan bebas nyeri pada pasien tanpa menyebabkan kehilangan kesadaran. Anestesi regional memberikan efek mati rasa terhadap saraf yang menginervasi beberapa bagian tubuh, melalui injeksi anestesi pada spinal/epidural, pleksus, atau secara bier block.Salah satu efek samping pada teknik anestesi yang sering di jumpai baik anestesi umum maupun anastesi regional adalah shivering ( menggigil ).Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Efektivitas pemberian terapi cairan hangat melalui intravena ( IV ) terhadap suhu tubuh pada pasien dengan shivering pasca operasi dengan spinal anastesi di ruang pemulihan RS X Kabupaten Bekasi.Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian Pre-Post test (One group pre-post test design). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 44 orang pasien dengan shivering di ruang pemulihan RS X Kabupaten Bekasi pada tanggal 5 Maret 2021 sampai dengan tanggal 31 Maret 2021. Pengambilan sample (sampling) penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian yang didapat terdapat pengaruh yang signifikan pemberian cairan hangat melalui intravena (IV) efektif terhadap peningkatan suhu tubuh pada pasien dengan shivering pasca spinal anestesi.Pengaruh ini di uji dengan uji wilcoxon menghasilkan nilai p=0,000, dimana nilai p α (0,05), maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan dalam pemberian cairan hangat melalui intravena terhadap peningkatan suhu tubuh pada pasien dengan shering pasa operasi dengan spinal anestesi. Hasil penelitian ini dapat dapat menjadi masukan untuk bidang keperawatan agar dapat menerapkan intervensi dalam pemberian cairan infus hangat melalui intravena dengan menggunakan alat fluid warmer yang sudah tersedia di Rs X Kabupaten Bekasi. Kata Kunci : Pemberian infus hangat, spinal anestesi, suhu tubuh Daftar Pustaka : 32 (2010-2019)

Open AccessPEMBERIAN INFUS HANGAT,SPINAL ANESTESI,SUHU TUBUH
oai:ais:skripsi:108Lihat detail