Book•2026•Koleksi Perpustakaan
Latar Belakang: Proses penuaan menyebabkan berbagai perubahan fisik,
psikologis, sosial, dan spiritual yang dapat memengaruhi kualitas hidup lansia.
Lansia kelompok young-old (60–74 tahun) umumnya masih memiliki fungsi fisik
yang relatif baik, namun kualitas hidup tidak selalu mencerminkan kondisi tersebut.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status kesehatan fisik, status
spiritual, kualitas hidup, serta hubungan status kesehatan fisik dan status spiritual
dengan kualitas hidup pada lansia young-old (60–74 tahun) di Desa Sukarapih.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan crosssectional.
Sampel berjumlah 80 lansia yang dipilih menggunakan teknik total
sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner status kesehatan
fisik, status spiritual, dan kualitas hidup. Analisis data menggunakan uji ChiSquare.
Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki status kesehatan fisik kurang baik (63,7%), status spiritual kurang baik (76,3%), dan kualitas hidup kurang baik (65%).
Hasil analisis bivariat menunjukkan antara status kesehatan fisik dengan kualitas hidup p = 0,034, sedangkan status spiritual dengan kualitas hidup p = 0,308. Kesimpulan: Status kesehatan fisik dan
kualitas hidup terdapat hubungan, sedangkan status spiritual tidak berhubungan
secara signifikan dengan kualitas hidup lansia young-old.
Open Accesslansia, status kesehatan fisik, status spiritual, kualitas hidup.
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang: GGK adalah kondisi progresif yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara permanen. Hemodialisis menjadi terapi utama bagi pasien GGK, namun dapat berdampak pada kualitas hidup mereka. Aktivitas fisik berperan dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis, tetapi banyak pasien mengalami keterbatasan fisik dan kelelahan sehingga memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RS Sentra Medika Cikarang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, dengan sampel 65 pasien yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dan Kidney Disease Quality of Life (KDQOL), kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat aktivitas fisik ringan hingga sedang. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien dengan nilai p = 0,000. Pasien dengan aktivitas fisik lebih tinggi cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik. Kesimpulan: Aktivitas fisik berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis. Saran: Diperlukan edukasi dan intervensi untuk mendorong pasien agar lebih aktif guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
Open AccessGGK, Hemodialisis, Aktivitas Fisik, Kualitas Hidup.
Book•2025•Koleksi Perpustakaan
Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) adalah penyakit kronis yang memengaruhi kualitas hidup penderita, di mana dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat berperan penting untuk peningkatannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup penderita DMT2 di Puskesmas Waluya Cikarang Utara melalui teknik cross-sectional sejumlah 49 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner HDFSS (dukungan keluarga), MARS-5 (kepatuhan minum obat), dan DQOL (kualitas hidup), lalu dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat berhubungan signifikan dengan kualitas hidup (p < 0,000 dan p < 0,004), di mana pasien dengan dukungan rendah berisiko 2,6 kali lebih besar mengalami kualitas hidup rendah (PR 2.602, CI 1.062-6.373), sedangkan pasien dengan tingkat kepatuhan rendah mempunyai peluang 3,7 kali lebih tinggi (PR 3,733, CI 0,683-20,419). Dukungan keluarga yang lebih tinggi hingga kepatuhan dalam mengonsumsi obat ikut serta dalam peningkatan kualitas hidup penderita DMT2. Dengan ini, hasil penelitian bisa menjadi referensi bagi tenaga kesehatan untuk merancang intervensi berbasis keluarga guna meningkatkan kualitas hidup pasien DMT2 melalui peningkatan dukungan keluarga dan kepatuhan terhadap pengobatan.
Open AccessDiabetes Melitus Tipe 2, Dukungan Keluarga, Kepatuhan Minum Obat, Kualitas Hidup.
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: GGK adalah kondisi progresif yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara permanen. Hemodialisis menjadi terapi utama bagi pasien GGK, namun dapat berdampak pada kualitas hidup mereka. Aktivitas fisik berperan dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis, tetapi banyak pasien mengalami keterbatasan fisik dan kelelahan sehingga memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RS Sentra Medika Cikarang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, dengan sampel 65 pasien yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dan Kidney Disease Quality of Life (KDQOL), kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat aktivitas fisik ringan hingga sedang. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan kualitas hidup pasien dengan nilai p = 0,000. Pasien dengan aktivitas fisik lebih tinggi cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik. Kesimpulan: Aktivitas fisik berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis. Saran: Diperlukan edukasi dan intervensi untuk mendorong pasien agar lebih aktif guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
Open AccessKata Kunci: GGK, Hemodialisis, Aktivitas Fisik, Kualitas Hidup.
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Latar belakang: GGK adalah kondisi progresif yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara permanen. Hemodialisis menjadi terapi utama bagi pasien GGK, namun dapat berdampak pada kualitas hidup mereka. Aktivitas fisik berperan dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis, tetapi banyak pasien mengalami keterbatasan fisik dan kelelahan sehingga memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat aktivitas fisik dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RS Sentra Medika Cikarang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, dengan sampel 65 pasien yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) dan Kidney Disease Quality of Life (KDQOL), kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: Penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat aktivitas fisik ringan hingga sedang. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat aktivitas fisik dan kualitas hidup pasien dengan nilai p = 0,000. Pasien dengan aktivitas fisik lebih tinggi cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik. Kesimpulan: Aktivitas fisik berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis. Saran: Diperlukan edukasi dan intervensi untuk mendorong pasien agar lebih aktif guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
Open AccessGGK, Hemodialisis, Aktivitas Fisik, Kualitas Hidup.
Thesis•2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit kronis yang memengaruhi kualitas hidup penderita, di mana dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat berperan penting untuk peningkatannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat dengan kualitas hidup penderita DMT2 di Puskesmas Waluya Cikarang Utara menggunakan metode cross-sectional dengan 49 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner HDFSS (dukungan keluarga), MARS-5 (kepatuhan minum obat), dan DQOL (kualitas hidup), lalu dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat berhubungan signifikan dengan kualitas hidup (p 0,000 dan p 0,004), di mana pasien dengan dukungan rendah berisiko 2,6 kali lebih besar mengalami kualitas hidup rendah (PR 2.602, CI 1.062-6.373), sedangkan pasien dengan tingkat kepatuhan rendah mempunyai peluang 3,7 kali lebih tinggi (PR 3,733, CI 0,683-20,419). Dukungan keluarga yang lebih tinggi hingga kepatuhan dalam mengonsumsi obat ikut serta dalam peningkatan kualitas hidup penderita DMT2. Dengan ini, hasil penelitian bisa menjadi referensi bagi tenaga kesehatan untuk merancang intervensi berbasis keluarga guna meningkatkan kualitas hidup pasien DMT2 melalui peningkatan dukungan keluarga dan kepatuhan terhadap pengobatan.
Open AccessDiabetes Melitus Tipe 2, Dukungan Keluarga, Kepatuhan Minum Obat, Kualitas Hidup.